September 4, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 6:09 AM | No comments

Serial Haji Millenial: Lima Alasan Kenapa Haji Muda

Pepatah Arab kuno mengatakan bahwa waktu itu seperti pedang. Jika dimanfaatkan dengan baik maka dapat memberikan keuntungan. Namun sebaliknya, apabila kita tak dapat memanfaatkan, maka pedang itu akan melukai kita. Begitu pula dengan masa muda kita, apabila kita tidak memanfaatkan dengan baik, maka kita akan merugi belakangan. Begitu pentingnya pemanfaatan waktu ketika masih muda, sampai Islam selalu mewanti-wanti lima perkara sebelum datangnya lima, salah satunya adalah masa muda sebelum masa tua.
Sebagai seorang pemimpi, saya sudah berimajinasi melaksanakan ibadah haji sejak tahun 2012, ketika masih menjadi santri asrama Rumah Kepemimpinan (RK). Tentu, materi visualisasi mimpi sangat mempengaruhi pola pikir saya sampai sekarang. Kalau kata Walt Disney, if you can dream it, you can reach it! Itulah kekuatan mimpi. The future belongs to those who believe in their dreams!
Banyak alasan yang membuat saya ingin mencapai target mimpi haji muda. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan untuk memenuhi panggilannya di tahun 2017 sehingga alasan-alasan tersebut akhirnya terkonfirmasi. Bagi saya, setidaknya ada Lima alasan utama kenapa kita harus mengupayakan berhaji muda secepatnya.
Misteri Masa Depan, Siapa Tahu?
Pepatah bijak mengatakan “If yesterday is history, tomorrow is mystery, then today is a gift. That’s why we call it present”. Allah sungguh maha baik. Berkat nikmat-Nya, saat ini kita masih sehat wal afiat, dapat bernafas dan browsing internet, serta membaca artikel ini. Esok hari adalah misteri, siapa yang tahu? Walaupun hari ini kita sehat bugar, siapa tahu besok kita sudah dipanggil oleh Allah melalui kejadian ga disangka-sangka, terpleset kulit pisang di depan pintu rumah misalnya. Who knows? Bisa jadi sekarang kita bersemangat untuk mengerjakan haji muda, siapa tau beberapa tahun ke depan Allah mencabut nikmat tersebut? Sungguh, misteri esok hari tak akan pernah ada yang mengetahui kecuali Allah. So, yuk persiapkan haji mumpung masih bisa! Apalagi yang sudah mampu (secara fisik dan finansial).
Aktivitas Haji Butuh Kekuatan Fisik & Mental
Apakah teman-teman pernah membayangkan betapa beratnya (secara fisik) pelaksanaan ibadah haji? Coba deh, sekali-kali iseng bukalah Youtube tentang aktivitas haji, dijamin bikin merinding. Saya kasih pandangan deh. Rangkaian Ibadah haji itu sekitar 6 hari penuh dengan perjuangan keringat. Mulai dari mabit di Mina pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), wukuf di Arafah kemudian bermalam di Muzdalifah (9 Dzulhijjah), keesokan harinya kembali ke Mina untuk jumrotul aqobah (10 Dzulhijjah). Kemudian, masih harus bermalam di Mina pada hari Tasyrik, serta kegiatan lain seperti Thawaf Ifadhah, Sai, dan Thawaf Wada’.
            Seriusan lho, ga akan pernah kebayang capeknya kalau tidak melaksanakan langsung. Sekedar informasi, setiap selesai sholat lima waktu, Imam masjidil haram selalu memimpin sholat jenazah. Iseng-iseng saya mengambil posisi sholat di dekat  tempat jenazah, tidak kurang dari lima (bahkan belasan) jenazah setiap sholat. Kalau diakumulasi, sehari bisa puluhan jamaah haji meninggal lho! Tim haji saya dari UK yang usianya tergolong muda, lebih dari 50% tumbang, sakit! Gemuruh batuk sahut-menyahut bak orchestra operet selalu terdengar dalam heningnya sholat 5 waktu di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Masih berfikir berhaji menunggu renta?
Kompleksitas Haji Butuh Kecerdasan Otak Lho!
            Serius, Ilmu Haji itu kompleks banget lho! Saya masih ingat pelajaran Fiqih ketika masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara dengan SD), memang cukup rumit dan butuh kapasitas otak yang mumpuni. Pelajaran tentang syarat dan rukun serta amalan-amalan yang luar biasa holistic. Terkait dengan haji muda, coba kita berfikir sejenak. Kinerja otak manusia tentunya semakin tua akan mengalami penyusutan kapasitas dalam kemampuan beroprasi. Jadi, semakin tua, semakin tidak berfungsi dengan baik pula otak kita. Ketika di lapangan, saya sempat berdiskusi dengan beberapa tim pembimbing manasik haji dari Indonesia. Mayoritas jamaah Indonesia tergolong berumur. Bahkan, walaupun sudah rutin mengadakan manasik haji, masih banyak yang belum faham ketika terjun di lapangan. Oleh sebab itu KBIH sangat dibutuhkan. Parahnya, masih banyak orang yang belum faham itu tidak sadar kalau dirinya masih jauh dari kata faham. Sehingga tipe orang ini beribadah seenaknya sendiri. Padahal menurut pengalaman saya, pelaksanaan ibadah haji akan lebih enak dilaksanakan dalam kelompok kecil beberapa orang. Supaya lebih nyaman ketika thawaf, sai, dll.
Semakin Dini Fokus Berhaji, Semakin Matang Atur Strategi
Sungguh, pengaruh training MHMMD ketika saya menjadi santri Rumah Kepemimpinan beberapa tahun silam masih melekat kuat dalam keseharian. Salah satunya dalam merencanakan rencana yang strategis. Ibarat naik kapal, sampailah sebelum berlayar sebagaimana prinsip suku Bugis. Itulah yang membuat mereka jadi pelaut yang tangguh dan strategis.
Sebagaimana pembuka artikel ini, saya sudah bermimpi ingin berhaji muda sejak tahun 2012. Tentu sudah banyak strategi yang saya fikirkan untuk mencapai salah satu milestone tersebut. Walaupun banyak kendala, tak akan patah semangat karena tekad sudah bulat. Mulai dari biaya yang tak murah, sampai waktu tunggu yang tak sebentar. Ketika masih duduk di bangku kuliah (undergraduate di ITS), saya selalu mencari strategi bagaimana supaya dapat ke tanah suci gratis. Misalnya melalui konferensi pelajar internasional di Timur Tengah atau program pertukaran pemuda. Namun sampai lulus (tahun 2013), target itu belum tercapai. Akhirnya, sambil bekerja sebagai konsultan Jepang (2014) dan dilanjutkan menjadi Pengajar Muda (2015), akhirnya menjelang quarter ketiga 2015 dana sudah terkumpul dan (insyaallah) cukup untuk dipakai umroh. Namun, dua tahun lalu saya masih harus mempersiapkan studi lanjut saya di Inggris dengan modal yang tak sedikit. Walaupun akhirnya dapat beasiswa [LPDP] toh untuk persiapan ke sana butuh dana, mulai dari kursus Bahasa sampai tes IELTS, mengurus berkas-berkas beasiswa dan pendaftaran kampus, serta apply VISA dan asuransi kesehatan di Kedubes Britania Raya. Yah, tabungan semakin menipis saudara-saudara hahahaha! Beruntunglah bagi kalian yang terpanggil dan memang [sudah ditakdirkan] jadi orang mampu dari sononya! Hahahahaa.
Untungnya, Allah benar-benar sesuai prasangka hamba-Nya. Entah bagaimana prosesnya namun saya selalu yakin bahwa semesta akan selalu mendukung apapun keinginan kita. Alhamdulillah, akhirnya berangkat juga 2017! Pastikan kamu juga sudah membulatkan tekad serta mengatur plot kisah ajaibmu ya! Percayalah, Allah pasti memampukan orang-orang yang terpanggil.
Rindu Baitullah, Sebuah Panggilan yang Tak Mengenal Usia
“Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Q.S. Al-Hajj: 27).
Allah pun sudah menjelaskan dalam undangannya dengan gamblang dalam Q.S Al-Hajj ya! Ga ada tuh, saya menemukan satu ayatpun haji harus menunggu tua! Bagi saya, setiap manusia memunyai zona waktunya masing-masing dengan berbagai variable, spiritual journey salah satunya. Mayoritas jamaah haji Indonesia memang yang sudah berumur, tapi apakah itu mau kamu jadikan patokan bahwa berhaji harus nunggu tua? Kalau dari muda uda ngebet berhaji, terus mau gimana? Lagian, kalau misal kita berkesempatan berhaji sejak dini, kenapa ditunda? Alhamdulillah, circle pertemanan saya banyak sekali sudah ngebet berhaji sejak masih kuliah. Bahkan sudah menyiapkan tabungan mulai dari sekarang. Bagi saya ini merupakan bukti nyata bahwa panggilan memang tak mengenal usia.

KESIMPULAN
Setiap manusia punya nilai yang mereka pegang sebagai tolak ukur kehidupan. Nilai itu ibarat penggaris dengan berbagai macam variabelnya. Bagi yang memakai penggaris logika, maka akan menjadi budak logika, begitu pula dengan penggaris lainnya; missal budaya, masyarakat dll. Apabila pembaca memakai penggaris dengan tolak ukur agama, ya silahkan pakai penggarismu secara kaffah ya! Sungguh kedudukan seorang pemuda itu benar-benar istimewa dalam Islam. Karena masa muda itu masa yang sempurna dengan kekuatan fisik, mental, dan otak yang paling optimal. Sungguh masa muda itu nikmat yang luar biasa! Oleh karenanya [bagi saya] tidak alasan untuk menunda-nunda melaksanakan panggilan-Nya dan merencanakannya sejak dini. Terkait hasil, apakah nanti akhirnya Allah menghendaki kita berkunjung ke rumah-Nya atau nggak, urusan lain. Setidaknya kita sudah pasang kuda-kuda sejak dini. Itu juga bernilai ibadah lho, menghabiskan masa muda dengan sesuatu amal kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat, sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya (HR at-Tirmidzi No. 2416)

Mecca,
14 Dzulhijjah 1439 H


Categories:

0 comments:

Post a Comment