August 23, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 2:48 PM | 2 comments

Tren Haji Millenial Indonesia

“Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu,
 tapi Allah akan memampukan orang-orang yang terpanggil untuk berkunjung ke Baitullah”
Sejujurnya, ilmu saya masih sangat jauh dari cukup untuk membahas makna “panggilan” Allah. Saya akan mencoba mengupas dari pengalaman dan pengetahuan yang terbatas. Kali ini, saya akan menguliti konsep kesempatan; mulai dari pandangan konsep panggilan (dengan semua keterbatasan), konsep haji muda, serta sharing strategi berhaji muda.  
Haji itu “Panggilan”, “Dipanggil”, atau “Terpanggil” sih?
 Sebagai bagian dari rukun Islam, berkunjung ke rumah Allah tentu dirindukan oleh setiap orang beriman. Tak bisa dipungkiri, biaya rukun Islam kelima ini tidak murah. Data observasi hasil diskusi dengan peserta Indonesia di Mekkah tahun 2017, biaya jamaah haji regular rata-rata IDR 37-40 juta, itu pun masih menunggu 8-9 tahun sejak 2008. Sedangkan haji jalur khusus, biaya mencapai USD 10.500-25.000 (setara dengan IDR 150-300 juta), itu juga masih menunggu 2-4 tahun. Sedangkan untuk pendaftaran tahun 2017, masa tunggu haji regular mencapai 15-20 tahun, sedangkan haji plus 4-5 tahun. Jadi, semakin lama kita menunda pendaftaran, semakin lama pula masa tunggunya. Menarik bukan?
So, bagaimana dengan orang-orang dengan kehidupan pas-pasan namun punya keinginan kuat menjadi tamu Allah? Pernah nonton sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” yang sequelnya ga ada abisnya? Atau sinema layar lebar “Haji Backpacker”? Atau bahkan cerita viral salah seorang pemuda dari Pekalongan yang menunaikan haji dengan berjalan kaki berbulan-bulan? Di sisi lain, pernah menengok teman atau tetangga kita yang mampu beli mobil ratusan juta hingga miliyaran rupiah namun belum pernah melaksanakan ibadah ke Baitullah? Itulah rahasia Haji.
Ada orang yang mampu, tapi tak sempat. Sebaliknya, ada yang sempat namun tak mampu
Ada yang sempat dan mampu, tetapi ia terhalang kesehatan.
Ada juga yang sempat, sehat, dan mampu, tapi masih menunggu 15-20 tahun.
Banyak juga yang tergolong sangat mampu, namun hatinya belum tergerak.
Padahal Allah sudah jelas mengundang semua mukmin untuk mengunjungi rumah-Nya. Ibadah haji merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu (?).
            Seminggu lalu, ada seorang kawan saya minta didoakan,”Selamat ya Nif, sudah terpanggil dan dimudahkan kesempatannya. Doakan saya juga segera terpanggil ya”. Saya telaah ulang kalimatnya, kok seakan-akan Allah itu pilih kasih ya? Seakan-akan yang berangkat haji itu pilihan. Mungkin lebih tepatnya, dengan izin Allah, karena Allah maha berkehendak. Kembali ke istilah panggilan, dipanggil, dan terpanggil. Untuk menjadi “terpanggil”, tentu kita terlebih dulu harus merespon “panggilan” agar kita dapat “dipanggil” dan masuk daftar “terpanggil”.
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, untuk menjadi “terpanggil” hendaknya merespon “panggilan” terlebih dahulu. Allah SWT sudah mengundang setiap mukmin ribuan tahun silam sejak jaman Nabi Ibrahim AS sampai Rasulullah Muhammad SAW.
Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (Q.S. Al-Hajj: 27).
Setelah merespon “panggilan” dengan niatan yang lurus lillahi ta’ala, muncullah kemauan kuat dan usaha cerdas untuk mencapai tahapan “dipanggil” dan “terpanggil”. Dapat disimpulkan, Allah sudah memanggil secara official dalam Al-Qur’an, kita sebagai mukmin sudah dipanggil untuk bertamu ke rumah-Nya sebagai bagian dari Rukun Islam, Tetapi hanya “sebagian” yang merasa “terpanggil”. Semuanya kembali kepada respon individu.
Apabila sudah merespon "panggilan" Allah dan merasa "terpanggil", tentu semua akan kita kembalikan lagi kepada kuasa Allah sang Maha Berkehendak. So, mari perbanyak doa. Jangan pernah berhenti berharap dan berusaha :)

Haji Muda, Kenapa Nggak?
            Ingat lima perkaraaaa, sebelum lima perkaraaaa…. (malah nyanyi hihi). Beberapa diantaranya adalah masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, dan lapang sebelum sempit. Tiga variable di atas menurut analisa saya bisa ditarik kesimpulan bahwa mengerjakan haji ketika masih muda tentu lebih utama. Masa muda itu masa sehat dan kuat dalam fase tumbuh kembang manusia. Sebagaimana syarat dan rukun haji mulai dari amalan-amalan wukuf, tawaf, sai, dan lainnya, semua membutuhkan ketahanan fisik. Selain itu, masa muda itu masih punya banyak waktu luang karena belum banyak amanah dan beban hidup (oia?).
            Menurut UU, pemuda adalah manusia dewasa yang berumur antara 17-30 tahun. Apabila dilihat dari kisaran usia, pemuda saat ini termasuk dalam generasi millennial, sebuah generasi melek teknologi yang haus eksistensi dan aktualisasi diri (katanya sih). Generasi ini cenderung ambisius, terlalu optimis, bahkan sampai kurang realistis. Apakah stereotype ini benar adanya? Who knows. Yang pasti, apabila saya tarik benang merah dengan konsep berhaji muda, para millennial (yang sudah merasa terpanggil) ini akan mati-matian dalam mengejar mimpi dan ambisinya.  Bahkan, sebuah berita online menyatakan kalau 10-15 pemuda mendaftar haji setiap harinya (http://www.solopos.com/2017/01/17/haji-2017-sehari-10-15-remaja-daftar-haji-785145). Banyak juga artikel yang menyebutkan bahwa saat ini haji bukan lagi didominasi oleh kaum tua. Walaupun perbandingannya masih 1: 5, angka peningkatan ini cukup drastis. Selain itu, hasil pengamatan saya di social media, berhaji muda sudah mulai menjadi tren, setidaknya dalam circle pertemenan saya. Sebuah fakta yang menarik bahwa tren haji millennial semakin meningkat tiap tahunnya.


Strategi Haji Muda    
Masih tentang karakter generasi millennial; ambisi, mimpi, dan aktualisasi diri masih menduduki peringkat utama. Banyak sekali anak muda di sekitar kita (bisa jadi termasuk saya) yang setiap hari nongkrong di Starb*ck demi gengsi dan foto Instagram, padahal di kontrakan dibela-belain makan Ind*mie setiap hari. Banyak pula demi eksistensi dunia maya dan menambah followers, travelling sebulan sekali ke tempat-tempat hits, mulai dari destinasi lokal sampai benua seberang, demi memuaskan gaya hidup dan jumlah jempol Instagram. Wait, saya sedang mendiskripsikan realita ya, no nyinyir, no offense. Saya pun butuh pelsiran, menyisihkan sebagian pounds demi swafoto di depan stadium Old Trafford Manchester United, Glencoe Harry Potter Bridge, maupun ke London untuk mengunjungi lokasi film favorit saya, Sherlock Holmes dan Night at The Museum, serta lokasi Ayat-Ayat Cinta 2 di Edinburgh. Semua itu butuh seni kepemimpinan, manajemen diri dan keuangan. Begitu pula para millennial yang bermimpi haji muda, mereka harus mengatur strategi yang efektif!
Bersyukur bagi kalian yang dilahirkan di keluarga yang mampu secara finansial dan terbuka hatinya untuk berIslam seperti sahabat baru saya, Latif. Pemuda 17 tahun asal Karawang ini menunaikan haji muda setelah menunggu 8 tahun sejak 2009. Kala itu ia masih SD. Sekarang ia berkunjung ke rumah Allah ketika lulus SMA. “Alhamdulillah Mas, mendaftarkan haji di waktu kecil adalah investasi berharga orang tua saya. Menurut mereka, semakin mendekati akhir jaman, para pemuda muslim harus dibentengi sejak dini, salah satunya dengan memberi kesempatan spiritual journey sedini mungkin.” Ujarnya ketika ngobrol di depan ka’bah sambil menunggu jamaah sholat Maghrib dua hari lalu. Masyaallah!
Lalu, bagaimana dengan para millennial kere seperti saya yang bahkan dari SMA saja harus berjuang memenuhi kebutuhan biaya hidup dan sekolah? Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan beberapa pemuda inspiratif yang kisahnya membuat saya menangis di masjidil Haram. Salah satunya adalah Rendy (bukan nama sebenarnya). Pemuda 27 tahun ini sudah 2 tahun berada di tanah Haram. Ia merupakan anak yatim yang dititipkan di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah. Ia selalu bermimpi untuk berhaji dan menghajikan almarhumah ibunya. (tuh kan, udah mulai baper sendiri pas ngetik). Ketika lulus pondok, ia dipanggil sang kyai untuk diinterogasi tentang rencana hidupnya ke depan. Dengan tegas, ia menjawab tujuan hidupnya hanya ingin beribadah, memenuhi rukun islam, dan menghajikan almarhumah ibu. Kemudian ia diberi kesempatan magang di biro travel haji dan umroh, sampai akhirnya ia menjadi tour guide. Setelah sampai Mekkah dua tahun silam, ia sengaja tidak kembali ke Indonesia dan bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan perut untuk menyambung hidup menuju bulan haji tahun depannya. Karena ia ingin menhajikan ibunya. Terkadang ia jadi tukang pijat panggilan atau tukang cuci piring di restoran.
Cerita lain datang dari Hamzah (bukan nama sebenarnya). Ia juga golongan tidak mampu (secara finansial) namun berkeinginan kuat. Ia merupakan pelayan hotel tempat saya tinggal sebulan di Mekkah. Awalnya, ia mendaftar ke perusahaan penyalur Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Arab Saudi, dengan harapan dapat penempatan di Mekkah, tanah haram. Setiap hari ia berdoa supaya segala seleksinya dipermudah dan mendapat tempat sesuai yang diharapkan. “Alhamdulillah, Mas! Sudah tiga tahun saya bekerja di hotel dekat Masjidil Haram sehingga dapat melaksanakan ibadah haji setiap tahun dan umroh semau saya. Walaupun, untuk mendapatkan jatah cuti ketika ibadah haji tidak mudah. Setelah wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, saya harus balik ke hotel keesokan harinya untuk bekerja. Setelah jam kerja abis, saya menyusul lagi untuk melempar jumroh dan seterusnya.” Ujar Hamzah dengan bangga. Jujur, saya mendengarnya saja merinding lho. Serius, hidup di Mekkah itu penuh perjuangan, panas sampai 50 C, belum lagi kerja di hotel 12 jam sehari, dan masih mengejar ibadah haji. Masyaallah, mabruk Mas Hamzah!
Inspirasi berikutnya datang dari Mas Aziz (bukan nama sebenarnya). Kebetulan saya bertemu dengan beliau tepat sehari sebelum saya berangkat haji dari UK. Mas Aziz merupakan mahasiswa PhD di salah satu kampus terbaik dunia, dulu sempat mengambil gelar sarjana di Al-Azhar University dan magister di Jordan. Salah satu kelebihan mahasiswa yang belajar di negara-negara Timur Tengah adalah kecakapan Bahasa Arab. Hal ini tidak disia-siakannya untuk memenuhi hasratnya menunaikan haji muda. Ia mendaftarkan diri sebagai petugas haji Indonesia dari Kementerian Agama bermodalkan pengalaman umroh dan kecakapan Bahasa Arab. FYI, VISA haji itu mahal, beda dengan umroh. Akhirnya, ia pun dapat melaksanakan haji sambil menjadi petugas. “Capek sih, namun nikmatnya berhaji itu jauh lebih besar. Semua lelah terbayarkan. Bismillah”. Ungkap Mas Aziz.
Selain itu, cerita mahasiswa LN berhaji berikutnya datang dari Rizky (bukan nama sebenarnya). Ia merupakan mahasiswa master di salah satu kampus terbaik di Britania Raya. Selama setahun, ia menyisihkan sebagian dana beasiswa untuk kebutuhan hidup bulanannya demi menambah tabungan ke tanah suci. Kelonggaran kuota Jemaah haji dari negara-negara minoritas Islam dimanfaatkan oleh Rizky. Selain harga kompetitif dengan haji dari Indonesia, berhaji dari sana juga tidak perlu ribet dan menunggu lama. Setelah daftar, langsung berangkat tahun itu juga. Menarik bukan? Saya termasuk dalam kondisi yang sama dengan Rizky. Saya akan menceritakan detilnya di postingan berikutnya. Semoga kisah-kisah di atas membawa inspirasi para pemuda millennial yang (katanya) mendewakan mimpi dan passion.

Kesimpulan
            Dari berbagai evidence di atas, saya pribadi dapat menyimpulkan bahwa tren berhaji muda semakin lama akan semakin naik. Haji muda tahun 2017 mencapai 20% dari seluruh total haji Indonesia. Saya optimis presentase ini akan terus meningkat. Hal ini didukung dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi yang membuat kelas menengah ke atas semakin banyak, serta karakter generasi milenial itu sendiri yang ingin mengaktualisasikan diri terhadap passion dan mimpi yang ingin dicapai.
            Kuatnya karakteristik yang ambisius dalam mengejar mimpi itu terbukti dari beberapa kisah teman-teman baru saya di Mekkah. Mulai dari Latif si anak SMA beruntung yang punya orang tua berkecukupan yang ingin membentengi iman anaknya dengan berhaji, sampai kisah-kisah mengharukan penuh perjuangan seperti Rendy si anak yatim dan tour guide travel haji local, Hamzah si TKI Saudi, Aziz sang petugas haji, sampai Rizky si mahasiswa strategis dari luar negeri. Semoga kisah-kisah di atas dapat diambil pelajarannya.
So? Masih ngeyel kalau haji itu perkara panggilan? Atau perkara umur? Yuk intropeksi!

Refleksi Menuju Haji,
Mekkah, 1 Dzulhijjah 1438 H

Hanif Azhar (pemimpi yang ga bangun-bangun dari tidurnya)
Categories:

2 comments:

  1. inspiratif hanif... mrinding bacanya, ngena bangeeeet... semoga bisa kesana juga sekeluarga, terutama ibuku. dari tahun ke tahun lihat ibu yang berlinang air mata tiap liat siaran haji di TV.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih bunda Nawaz sudah mampir, semoga bermanfaat :)

      Semoga Irma dan keluarga diberi kesempatan memenuhi undangan Allah
      Amin

      Delete