May 20, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 8:49 PM | No comments

Siapa Takut Balik Indonesia!

Awal Mei 2017, saya sempat dikejutkan beberapa tulisan viral yang menghebohkan. Salah satunya adalah catatan Petrus Wu, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Sidney, Australia (9/5)*. Ia mengungkapkan “Buat apa kembali ke Indonesia? Meski Indonesia adalah tanah kelahiran sendiri. Di negara ini orang tidak dihargai karena bakat dan kinerjanya, tapi karena suku dan agamanya. Di negara ini, orang benar bisa masuk penjara, hanya karena ada segerombolan preman demo berjilid-jilid atas nama agama. Di negara ini, orang lain boleh menghina agamamu karena agamamu hanya minoritas. Tapi jangan kamu lakukan yang sebaliknya, karena kamu akan berakhir di penjara.” (artikel lengkapnya di sini https://seword.com/politik/ahok-dipenjara-pulang-indonesia/)
Sungguh, saya sangat kecewa, bahkan marah! Cuma segini doang mental lo, Bro? Terlepas dari pandangan politik yang semakin rumit (saya tidak mau berdebat urusan Pilkada di sini ya!) tapi bagi saya pola pikir ini perlu diluruskan! Jika kamu merasa punya masalah, hadapilah! Bukan lari dari kenyataan! Hal ini membuat saya berefleksi:
Apakah dengan studi di luar negeri membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain?
Mentang-mentang studi di luar negeri, apakah membuat kita merasa lebih penting dan dibutuhkan sehingga dieluh-eluhkan untuk pulang?
Apakah Indonesia membutuhkan kita? Atau malah sebaliknya?
Sudahkah kita melihat Indonesia lebih dekat?
Sudahkah kita menyempatkan diri “piknik” ke wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal)?
Sudahkah kita iuran kontribusi untuk ibu pertiwi?
Kalau kata WS Rendra dalam seonggok jagung:
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya??
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata : “disini aku merasa asing dan sepi”
Saya pribadi masih butuh mencicipi micin indomie dengan kenikmatan haqiqi yang hanya ada di nusantara. Walaupun berkesempatan melanjutkan studi di UK, sama sekali tidak membuat perasaan lebih dari teman lain. Lha wong sekolah dari SD sampe kuliah karena beasiswa, duit negara, duit pajak para bapak tukang pentol dan mbok2 penjual sayur keliling. Terus apa yang mau disombongkan? Alhamdulillah, pengalaman saya blusukan ke pelosok ketika menjadi supervisor program jawapos pro otonomi award serta menjadi volunter di Indonesia Mengajar semakin membuka lebar mata saya untuk senantiasa berkontribusi. Well, mungkin ada beberapa temen yang beropini kontribusi kan bisa dimana saja, tidak harus kembali ke Indonesia? Benar sekali! semua kembali lagi ke niat individu. Saya tidak mau berdebat tentang hal ini, silahkan berdiskusi dengan hati nurani. Apabila memang tidak pulang karena berniat kontribusi dari luar, jalankan secara optimal posisi anda. poin saya di sini adalah kekecewaan saya terhadap pola pikir takut pulang ke Indonesia karena kesombongan itu sendiri.
Untungnya, saya tidak menemukan kawan-kawan pelajar Indonesia di UK (khususnya di Greater Glasgow) dengan model pemikiran seperti saudara Petrus Wu! Malahan, saya mendapat banyak inspirasi dari berbagai mimpi kawan-kawan saya di sini. “Kalau uda balik ke Indonesia nanti, saya ingin membuat pusat kesehatan mental. Saya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa gangguan mental itu sama vitalnya dengan penyakit fisik!” Ujar seorang sahabat yang sedang study Global Mental Health. Saya juga memunyai teman yang sangat semangat untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya beretika terhadap hewan. Dia ingin membuat kafe di Indonesia dengan konsep peduli fauna. Keren kan? Ada juga sahabat saya yang ingin terjun (lagi) ke dunia NGO sepulang studi ke Indonesia. Dia ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sex usia dini lewat profesional NGO. Banyak juga yang ingin masuk pemerintahan, badan penelitian, dan institusi pendidikan. Sungguh, optimisme itu ada dimana-mana! Pola pikir saudara Petrus Wu itu terbukti tidak merepresentasikan mindset para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, setidaknya yang saya kenal di UK.
Semangat berkontribusi itu tidak hanya sekedar wacana yang akan dilaksanakan nanti dan nanti. Hari ini, Persatuan Pelajar Indonesia Greater Glasgow sukses mempromosikan kebudayan nasional lewat pertunjukan drama musical Shallot & Garlic dalam Indonesian Cultural Day 2017! Dengan mata kepala saya sendiri, saya menyaksikan kekompakan dan kemauan teman-teman saya untuk mengenalkan Indonesia di mancanegara. Di tengah hujan badai, ujian, essay, dan assignments yang tak ada hentinya, para mahasiswa ini meluangkan waktu latihan setidaknya 5-10 jam setiap minggu selama dua bulan untuk persiapan pementasan. Banyak diantaranya mengaku ini pengalaman pertamanya terlibat dalam pertunjukan seni di tengah ratusan penonton, apalagi audiens global. Musikalisasi drama, paduan suara, tari jaipong, tari kecak, tari saman, permainan angklung, pertunjukan gamelan, dll melebur jadi satu untuk menghipnotis penonton! Ini salah satu bukti nyata bahwa kontribusi mahasiswa untuk Indonesia itu nyata! ICD 2017, KETJE BADAY!

Masihkah memandang mahasiswa cemen ga mau pulang ke Indonesia hanya karena takut ga mendapat penghargaan?

Selamat berefleksi,
Selamat hari kebangkitan nasional!
Hanif Azhar, pecinta micin Indomie
Glasgow, 20 Mei 2017
Categories:

0 comments:

Post a Comment