May 7, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 6:00 PM | No comments

Membudayakan Literasi Sejak Dini

Di suatu sore yang cerah, sambil menikmati tumpukan hidangan mewah, dua bocah SD bersaudara mendatangi saya, Umar (11 tahun) dan Azzam (7 tahun). Percakapan singkat inspiratif pun berlangsung:
Umar: “Kak, saya mau presentasi projek sekolah saya” (malu-malu sambil sesekali melirik ibunya)
Saya: “Projek apa Umar?” (saya menanggapi penuh antusias)
Umar: “Jadi, dalam waktu 7 minggu ke depan, saya harus setidaknya membaca 10 buku bacaan dengan genre bebas sesuai selera saya. Boleh tentang sains maupun fiksi. Ini adalah reading challenge dari sekolah.”
Saya: “Wow, keren sekali Umar! Terus?”
Umar: “Setelah membaca, saya harus mempresentasikan apa yang saya baca kepada orang lain supaya mereka tahu pesannya dan saya lebih memahami isinya. Setelah itu, saya berharap kakak mau menjadi donatur social project saya dengan mendonasikan uang £ 0.30 untuk setiap buku yang saya baca. Kalau kakak suka projek saya”
Saya: “Kalau boleh tahu, project apa Umar?”
Umar: “Ini project sekolah. Kami ingin menambah koleksi buku bacaan dalam perpustakaan kami. Rencananya, dalam 7 minggu, sekolah kami menargetkan mendapatkan donasi uang £1,000 dari project reading challenge ini.”
Saya: “Umar sudah membaca berapa buku sejak proyek ini berjalan?”
Umar: “Ini proyek baru Kak. Umar sudah membaca satu buku fiksi tentang detektif setebal 400an halaman. Adik saya, Azzam, juga sudah menamatkan satu buku horror 100 halaman. Kami diperbolehkan membaca bacaan sesuai dengan kelas dan minat kami.”
Saya: (ngelus dada, saya baca jurnal 20 halaman saja paling banyak 2 jurnal dalam sehari)
Kemudian Umar menceritakan isi buku detektif 400 halaman yang dibacanya dalam 5 hari. Azzam pun menceritakan isi fiksi horornya dengan antusias. Setelah mereka bercerita, saya mendonasikan £5 untuk projek mereka tanpa pikir panjang.
Umar: “Kak, apa tidak kebanyakan? £ 0.10 per buku saja itu sudah banyak. Kalau £5 berapa buku yang harus saya baca nanti?”
Saya: “Ya gapapa. Saya kan deposit donasi uang sekian, jadi Umar dan Azzam harus membaca 10 buku dalam waktu 7 minggu ke depan,”
Umar: “Okay Kak! Siap! Nanti akan saya informasikan lagi, seandainya dalam waktu yang ditentukan saya tidak dapat memenuhi target, maka saya akan mengembalikan donasinya.”
(kemudian kami lanjutkan makan hidangan berjamaah. Oia, obrolan tadi semuanya dalam Bahasa Inggris lho. FYI, Umar dan Azzam ini anak dari pelajar Indonesia yang sedang melanjutkan PhD di Glasgow. Mereka sudah tinggal di UK hampir 4 tahun, jadi uda seperti native ngomongnya, bikin minder hahaha)
***
Obrolan singkat dengan duo bocil bersaudara ini membuat saya berkontemplasi terhadap pola pendidikan dasar yang selama ini saya dapatkan. Ternyata, banyak cara kreatif yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini ya! Mendadak saya ingat sebuah pepata lama, bisa karena telah terbiasa, dan terbiasa karena terpaksa! Bisa jadi, awalnya mereka terpaksa melakukan hal tersebut. Tapi, Hey! Saya melihat ekspresi bahagia mereka menikmati setiap proses tugas yang diberikan sekolah. Bahkan, mereka sadar, pada akhirnya membaca akan bermanfaat buat diri mereka sendiri. Toh, donasi juga digunakan untuk proyek social. Hey… bukankah itu malah pembelajaran rangkap? Bahkan, saya pun jadi berefleksi. Selain membiasakan mereka untuk mencintai budaya literasi sejak dini, setidaknya mereka belajar tujuh poin perkembangan diri:

KOMUNIKASI

Setelah membaca, mereka dituntut untuk mempresentasikan buku yang dibaca. Mereka belajar berkomunikasi dengan orang lain. Mereka belajar menuangkan fikiran mereka sehingga pesan tersampaikan. Bayangin deh, anak 7 tahun uda mampu jadi pemateri bedah buku -_- saya dulu 7 tahun paling main kelereng doang.

PERSUASI

Nah! Setelah mempresentasikan bacaan, mereka mencoba mempengaruhi kita untuk menjadi donator dalam proyek social mereka! Keren banget kan! Bocah 11 tahun udah mampu bernegosiasi dengan orang lain. Lha saya dulu umur 11 tahun masih rebutan tazoz pokemon dalam bungkusan Chicky.

PERCAYA DIRI 

Tidak diragukan lagi, kepercayaan diri mereka pun bakal meningkat. Lha wong dari usia dini uda disuruh presentasi dan persuasi sana sini. Walaupun, dalam kasus Umar dan Azzam, mereka masih agak malu di awal. Tapi gapapa, namanya juga belajar!

JUJUR

Mereka mengatakan dari awal bahwa hasil donasi akan diberikan untu social proyek bersama di sekolah. Mereka juga jujur, kalau donasi pun seikhlasnya.

TANGGUNG JAWAB

Ketika saya memberikan £5 saya meminta mereka untuk membaca 10 buku, dan mereka menyanggupi. Bahkan, mereka bilang bakal ngasih informasi lagi nanti kalau sudah selesai membaca. Kurang amanah gimana coba?

PEKA ISU SOSIAL

Donasi yang mereka kumpulkan digunakan untuk proyek social bersama untuk mengatasi isu-isu social di sekitar mereka. Kali ini isu perluasan koleksi buku di perpustakaan. Mereka juga sudah beberapa kali membuat proyek untuk penghijauan, kebersihan, dll.

MANAJEMEN PROYEK

Bayangin aja, mereka ditantang membaca 10 buku dalam 7 minggu dengan ketebalan sekitar 400-500 setiap buku. Mereka harus melakukan tantangan ini di tengah aktivitas mereka yang lain. Mereka masih harus sekolah, main bola, belajar ngaji dll. Kurang ketje apa coba, dari SD sudah bagus manajemen waktunya.
Selain proyek reading challenge, sekolah juga secara teratur membuat siswanya melakukan proyek setidaknya satu sampai dua kali dalam satu semester. Terkadang proyek penghijauan dengan menanam pohon, bahkan pernah proyek menulis buku tentang sejarah Scotland dan imajinasi mereka. catet ya! MENULIS BUKU!!! *tambah minder kejer-kejer*, bocah SD uda dibiasain projek positif seperti ini, gimana besarnya coba?

KESIMPULAN:

Membiasakan anak usia dini untuk melakukan proyek social baik secara personal maupun komunal sangat membantu mereka untuk berkembang. Hal itu dapat saya lihat dengan jelas kedewasaan Umar dan azzam di usia sekarang. Bisa jadi, awalnya mereka terpaksa, namun pada akhirnya jadi kebiasaan bagus. Terimakasih untuk inspirasinya hari ini.
“we are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit” (Aristotle)
Silahkan dibagikan dengan fitur "SHARE" apabila menemukan manfaat dari tulisan ini, tidak perlu ijin. Terimakasih!
Categories:

0 comments:

Post a Comment