January 1, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 2:12 AM | No comments

Marvolous 2016

Perjalanan seribu langkah pasti diawali dengan langkah pertama. Alhamdulillah, 2017 sudah di depan mata. A new year, a new start, way to go! Resolusi pertama saya di tahun ini adalah membuat catatan pribadi pelajaran berharga selama tahun 2016. Bisa jadi sharing saya akan terlalu personal, namun semoga dapat membawa  manfaat bagi pembaca. Secara garis besar, 2016 saya bagi menjadi 4 chapter perjalanan: Kampung Inggris Undercover, Dapur Indonesia Mengajar, Cikal Nagari, dan kampus rasa Hogwarts!

Chapter #1: Kampung Inggris Undercover
Kuarter pertama 2016, tepatnya Januari sampai Maret, saya habiskan untuk menempah diri di Kampung Inggris, Pare. Selama 3 bulan itu, saya habiskan bulan pertama untuk study group persiapan tes IELTS, bulan kedua saya off untuk focus real test IELTS (International English Language Testing System, red) di Surabaya sambil menyiapkan persyaratan pendaftaran kampus impian serta mengikuti mentoring mingguan bersama ASEAN Youth Centre bekerjasama dengan AMINEF Education USA, bulan ketiga saya kembali ke Pare untuk menjadi tim hore di TEST-English School, salah satu tempat kursus yang hits dan kekinian. Ada 2 pelajaran utama yang saya dapatkan:

#1. In Learning You Will Teach, In Teaching You Will Learn.
Kali ini saya mengamini kalimat Om Phil Collins kalau belajar dan mengajar itu merupakan satu kesatuan yang utuh. Belajar bersama dan saling mengajari itu salah satu kunci efektif menyerap ilmu baru. Mendapat kesempatan emas untuk belajar mengajar sebagai tutor Bahasa Inggris. “Hey Han, who are you? Les Bahasa Inggris aja nggak pernah, sekali ke Pare, abis belajar bentar terus sok-sokan jadi tutor gitu?” Hmmm… kalau selalu mendengarkan bisikan-bisikan negatif pastinya menghambat neuron bekerja optimal. Dan YEAY! I did it! Walaupun cuman sebentar, saya menikmati jadi tutor dengan waktu istirahat yang sangat minim karena sibuk menyiapkan materi ajar kepada para siswa di kelas. Tapi guys, dengan persiapan itu, jujur, lebih ngena belajarnya! Seperti ada beban moral aja, lha kalau tutornya ga menguasai utuh, gimana ngajarnya?

#2. IELTS, Conquer From Within
Kata orang sih, IELTS tidak hanya tentang bagaimana kita menjawab soal, namun juga manajemen waktu dan strategi setiap tipe soal. Inget, SETIAP TIPE SOAL! IELTS berbeda dengan TOEFL, terdapat 4 sesi berbeda; listening, reading, writing, dan speaking. Namun bagi saya, segala bentuk tes tidak dapat dipisahkan dari ketenangan hati. Salah satunya bisa didapat dari kedekatan kita dengan Tuhan. Saya sengaja mengatur agenda untuk benar-benar OFF dari semua aktivitas selama 2 minggu sebelum tes IELTS dan 1 minggu pasca tes. Selama 2 minggu itu, saya menghibahkan diri saya menjadi asisten marbot di salah satu masjid di Surabaya, detoksifikasi dari segala urusan duniawi. Poin saya adalah, silahkan teman-teman mencari cara untuk menenangkan kalbu sebelum menghadapi tes ya! Sebagai muslim, saya sepenuhnya percaya kalau dunia akan mengikuti kita kalau orientasi kita akhirat kok! Alhamdulillah, hasil tes IELTS pertama saya cukup memuaskan. Walaupun nilainya belum maksimal, setidaknya cukup untuk mendaftar kampus impian! YEAY! 
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di dunia.” (QS. Asy-Syura: 20).

Chapter #2: Dapur Indonesia Mengajar
Alhamdulillah (lagi dan lagi), saya mendapat kesempatan menjadi tim training intensif pelatihan calon pengajar muda. Fase ini sekitar 3 bulan mulai dari April sampai Juni 2016. Alasan utama gabung simpel, sampai sekarang saya masih amaze dengan pertumbuhan yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang mampu merubah mindset para pemuda terbaik bangsa untuk turun tangan, meng-upgrade istilah relawan jadi mantu idaman! #eea Walaupun pernah tergabung menjadi Pengajar Muda VIII (April 2014 sampai Juli 2015) rasanya belum lengkap kalau belum mengintip dapur IM lebih dalam. 2 pelajaran utama;

#3. Coaching is unlocking a person’s potential to maximise their growth
Catch a man a fish, feed him for a day. Teach him how to fish and feed him for life. Saya selalu suka dengan pribahasa itu. Saya percaya bahwa mengajari cara memancing itu jauh lebih baik daripada hanya sekedar memberi ikan. Begitupun dalam membantu orang lain, daripada langsung memberi solusi, akan lebih baik lagi kalau kita menggali lebih dalam dan melejitkan potensi orang tersebut. Salah satunya adalah dengan teknik Coaching & Facilitating. Nah, di Indonesia Mengajar, coaching & fasilitasi adalah skill dasar yang harus dikuasai oleh setiap Pengajar Muda untuk mengoptimalkan dampak perubahan positif ketika bertugas di daerah penempatan. Sebagai tim fasilitator, tentunya dituntut dapat mengaplikasikan skill kepemimpinan tersebut untuk mengoptimalkan potensi 42 Calon Pengajar Muda (CPM) XII. Menarik! Menantang! Begitu pula dengan para CPM, harus dapat mengaplikasikannya di penempartan masing-masing :p

#4. There is nothing certain, but the uncertain. 
“Uncertainty and misteries are the energies of life. Don’t let them scare you unduly, for they keep boredom at bay and spark creativity,” R.I Fitzhenry
Selama menjadi tim training IM, hidup berasa roller coaster! Selalu ada tantangan yang memicu adrenalin! Setiap saat! Menghandle 42 CPM terpilih dengan berbagai karakter dan keunikan masing-masing, menghubungi pemateri dan menyiapkan materi yang akan disampaikan, mengatur jadwal dari pagi jam 5 shubuh sampai malam jam 11, selama 2 bulan full, sampai urusan logistic! Salah satu turning point ketidakpastian yang paling random adalah penambahan daerah penempatan IM 2.0 angkatan genap di Papua Barat. Banyak drama yang terjadi baik di dalam internal tim training maupun para CPM. Untungnya, tim training yang solid dan dewasa dalam menyikapi perubahan dapat menghandel semuanya. Kalau kata Om John Finley “Maturity is the capacity to endure uncertainty”. Ketidakpastian itu menyenangkan! YEAY!

Chapter #3: Cikal Nagari
Setelah hidup dalam jet coaster IM, fase berikutnya adalah fase di mana salah satu doa dikabulkan, yaitu mendapat beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk melanjutkan studi master di luar negeri. Oia, Cikal Nagari itu keluarga besar Persiapan Keberangkatan (PK) 71 LPDP. Selama persiapan, 2 pelajaran utama yang saya dapatkan:

#5. Luck is a matter of Preparation meeting Opportunity
Banyak teman-teman yang menanyakan, bagaimana ceritanya kok tiba-tiba sudah dapat LPDP, dapat kelompok PK, bahkan uda mau berangkat aja ke luar negeri, padahal kan saya selama ini disibukkan dengan kegiatan sosial dan kerelawanan? Guys, mendadak saya teringat pepatah Bugis kuno yang seringkali diucapkan oleh Bunda Marwah Daud Ibrahim, MHMMD Mengelolah Hidup Merencanakan Masa Depan, “Tiba, Sebelum Berlayar”. Ternyata mimpi itu butuh direncanakan sebelum nantinya diperjuangkan, sebagaimana mimpi saya untuk lanjut studi. Ketika persiapan sudah matang, kemudian kesempatan datang, VOILA! Selamat memanen usaha dan kesabaran. So, persiapan harus matang dari awal seperti kata om Alexander Graham bell “Before anything else, preparation is the key of success”. Timeline persiapan studi saya;
1.    Januari : Study Group IELTS, Kampung Inggris
2.    February : tes IELTS di British Council, Surabaya 
3.    Maret : Mendaftar kampus impian dan melengkapi berkas beasiswa 
4.    April : Mendaftar beasiswa LPDP Batch 2 2016
5.    Mei : Tes Substansi LPDP 
6.    Juni : Pengumuman lolos beasiswa, mengurus VISA
7.    Juli : Persiapan Keberangkatan (PK) 71 LPDP
8.    Agustus : Hallo, UK!
FYI, terlepas dari kasus Bunda Marwah Daud, beliau adalah salah satu orang yang berjasa dalam hidup saya mempersiapkan masa depan melalui MHMMD. 

Chapter #4: Kampus rasa Hogwarts!

30 Agustus 2016, akhirnya nasib membawa saya ke Glasgow, UK, untuk melanjutkan studi di University of Glasgow, mengambil program Creative Industry & Cultural Policy. Selama satu semester, tentunya banyak sekali pelajaran tinggal di UK. Namun 2 hal paling penting:

#6. Learning Is a process, not an event. Never stop learning because life is never stop teaching.
Atmosfir belajar di luar negeri, khususnya di UK, sangat berbeda dengan undergraduate saya di Indonesia. Beberapa highlight adalah fasilitas umum pembelajaran seperti perpustakaan kampus, perpustakaan kota, museum-museum, sampai kantin dan kafe pun sangat mendukung proses pembelajaran. Koleksi literasi yang lengkap, budaya membaca sejak dini, tempat belajar dan diskusi yang nyaman, budaya berfikir kritis dan terbuka, serta student learning centre! Bahkan segedhe apapun perpus kampus, akan tetap kewalahan menampung mahasiswanya, apalagi di musim ujian. Hal yang menyenangkan selama proses belajar mengajar, mahasiswa diberikan reading list sekitar 3-7 jurnal internasyenel setiap mata pelajaran sebelum kelas. Bayangin kalau seminggu ada 4 mata pelajaran, tinggal dikalikan jurnal bacaannya hehe. Kemudian berdiskusi terbuka selama pelajaran berlangsung, memberikan kesempatan setiap mahasiswa untuk berbicara dan tidak memaksakan kesimpulan. Setiap pelajar harus membangun pengertian dan kesimpulan sendiri. So, sebagai pelajar internasyenal yang Bahasa Inggrisnya masih abal-abal, tentunya harus belajar cerdas dan kerja ekstra keras!  Because once you stop learning, you start dying, kata Om Albert Instein. 
"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR. Bukhari dan Muslim)

#7. Your Attitude is like a price tag, It Shows how valuable you are!
Belajar di luar negeri juga menantang kita untuk mampu menepatkan diri, baik itu bergaul dengan teman sesama pelajar dari Indonesia maupun mancanegara. Menurut saya, challenge terbesar adalah attitude! Sekecil apapun langkah kita, bisa jadi membawa persepsi bagi orang sekitar yang melihatnya. Karena kita sebagai representasi Indonesia. Selain itu, bagaimana sikap kita dengan teman-teman kita yang masih berjuang untuk mendapatkan beasiswa, mengejar kampus impian, mengejar nilai IELTS, dan orang-orang yang selalu mendukung kita juga harus tetap dijaga. Attitude adalah segalanya :)

“Two things define you: Your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything”


Categories:

0 comments:

Post a Comment