May 16, 2015

Posted by Hanif Azhar Posted on 4:02 PM | No comments

Kurcaci Airguci


Bak, aku ngan Pak Ef hendak ke Sunor, nyakahi Doni,” (Ayah, saya dan Pak Efriansyah akan pergi ke Sunor, untuk mencari Doni) ijinku kepada Bapak angkat saya.
Pedengan jadi pule hendak nyakahi budak itu? La tau belum humehnye?” (Kalian jadi mencari anak itu? Apakah kalian sudah mengetahui alamatnya?) Jawabnya tegas.
Belum tau, Bak. Mangke itulah, kami hendak nyakahi Doni,” (Belum tahu yah. Oleh sebab itu, kami akan mencarinya) jawabku bersemangat.
“Oi, dekde tau alamatnye, mak mane pedengan hendak nyakah? La udem nilpon keluarganye disana belum?” (Kalau tidak punya alamatnya, bagaimana kalian mencarinya? Sudah menghubungi keluarganya di sana?) Ia bertanya balik.
“Belum nilpon pule Bak. Kami bae dekde punya nomornya. Mangke itulah, kami hendak nyakahi,” (Kami belum menelponnya yah. Nomor telpon saja kami tidak punya. Makanya kamu harus mencarinya) Jawabku lagi dengan penuh percaya diri.
Kalu belum jelas, alangkah iloknya kakgi bae. Daripada pedengan sare nian nyakahi budak itu, tapi katek uhangnya. La keluar biaya, dekde dapat apa-apa pule,” (Kalau belum jelas, lebih baik ditunda dulu. Daripada kalian susah-susah mencarinya, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Sudah lelah, keluar banyak biaya juga) Jelasnya lagi.
Insyaallah kakgi kami hendak dibantu mamangnya di duson, nyakahi ke sana. Semoga usaha kami la ade pule hasilnye,” (Insyaallah nanti kami dibantu pamannya di dusun untuk mencarinya. Semoga berhasil) Ujarku dengan optimis.

            Siang itu terjadi perdebatan serius antara saya dan ayah angkat saya di penempatan mengajar. Saya tahu, Pak Andi, ayah angkat saya, sangat peduli dengan keselamatan saya. Ia sekeluarga memang menghindari untuk terlibat dalam urusan rumah tangga orang lain, apalagi keluarga Doni Iskandar yang cukup rumit.  Ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap saya dan Pak Efriansyah, anak sulungnya. 

            Doni Iskandar adalah salah satu anak didik saya di SD Negeri 10 Rambang kelas jauh yang berbakat, baik di bidang akademis maupun non-akademis. Dia selalu mendapat peringkat tiga besar di kelasnya. Ia juga sempat beberapa kali mewakili sekolah dalam lombah cerdas cermat di Universitas Sriwijaya, Palembang, serta menjadi semifinalis dalam Olimpiade Sains Kuark (OSK) perwakilan Kabupaten Muara Enim, 2013. Selain itu, goresan jarinya juga sangat lincah dalam melukiskan apa yang di lihatnya. Luar biasa.

            Namun, dua tahun lalu, ia menghilang begitu saja. Menurut mamangnya (paman, red), ia di bawa oleh kakeknya ketika hari libur. Kemudian, ia diajak nakok (menyadap karet, red) oleh ayah tirinya yang selama ini menghilang. Ayah kandung Doni meninggal ketika ia masih bayi, dan ibunya menyusul ke syurga ketika melahirkan adiknya. Saat itu ia baru berumur lima tahun. Di usia sedini itu, ia dituntut untuk hidup mandiri. Mengasuh adik bayinya dan membantu pamannya bekerja, menyadap karet.

            Sejujurnya, saya pribadi sama sekali tidak mengenalnya. Saya hanya mengetahui dia dari rekaman video Lentera Indonesia Pengajar Muda IV pendahulu saya, Trisa Melati [1]. Saya juga tidak tahu bagaimana awal ceritanya saya mempunyai ide gila untuk mem-blow up kisahnya kepada stakeholders daerah yang berkepentangan untuk mencari dukungan dalam menemukan dan meyelamatkan masa depannya. Saya hanya mencoba untuk berbuat semampu saya selama saya di sini. Bisa jadi bagi saya ini hanya sesuatu yang sederhana. Tapi bagi Doni, dapat merubah masa depannya. Semoga.



***
            Berbekal informasi yang pas-pasan, saya dan Pak Efriansyah[2] nekat berangkat mencari Doni. Ditemani dua pamannya, kami menyusuri hutan dan kebun karet lebih dari tiga jam. Ternyata, info awal yang kami dapatkan itu salah. Doni sekarang tidak lagi tinggal di Sunor, tapi di sebuah humeh di dalam pedalaman hutan, dekat dengan Dusun 2R, Pagardewa, Kecamatan Lubai. Tempat ini sudah berbatasan dengan Kota Baturaja, OKU.

            Perjalanan jauh dan melelahkan akhirnya terbayar ketika kami sampai di sebuah humeh mungil yang hampir rubuh. Humeh adalah kebun yang sangat luas dengan sebuah gubuk kecil sebagai tempat tinggal pekebunnya. Biasanya, terdapat satu sampai tiga gubuk. Salah satunya dipakai sebagai gudang penyimpanan karet.

            Tidak ada seorangpun di dalam gubuk itu. “Kalu Doni ada di humeh ayuknya, parak sinilah” (mungkin Doni ada di rumah kakak perempuannya, di dekat sini) ujar pamannya. Kebetulan humeh ayah tiri Doni berdekatan dengan kakak perempuannya. Hanya berjarak kurang lebih 200 meter. Di tengah perjalanan, kami melewati sungai kecil. Kami bertemu dengan laki-laki separuh baya sedang mandi telanjang di sana. Tubuhnya sangat tidak terawat, dengan rambut gondrong acak-acakan. Saya taksir umurnya sudah di atas 40 tahunan.

            “Dengan maseh tekenang aku dekde?” (Kamu masih ingat saya?) ujar pamannya. “Oi, aku ini mamang Doni,” (Saya paman Doni) tambahnya. “Doni katek dekde?” (Doni ada atau tidak?) tanyanya lagi. Sambil mencoba mengingat, ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah hulu sungai. Kami pun bergegas menuju ke sana. “uhang tadi itulah bapangnya Doni, Pak,” (Orang itu adalah Ayah tiri Doni, Pak) kata mereka kepadaku.

            Saya masih berfikir membayangkan bagaimana seorang anak hidup sendirian di dalam hutan bersama ayahnya yang kata orang agak sedikit terganggu jiwanya. Bulu saya berdiri, merinding membayangkannya. Kemudian, di depan saya terlihat sebuah hulu sungai yang hampir kering airnya. Kami melihat seorang pemuda berada di sana, membawa sebuah jaring seperti raket, mencari ikan. Saya tidak asing dengan wajahnya, sama seperti di video Lentera Indonesia yang saya lihat. Hanya saja, ukuran tubuhnya yang berbeda. Selama dua tahun menghilang, ia sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah.

            “Dengan la maseh tekenang ngan Bapak dekde Don?”(Kamu masih ingat Pak Guru, Don?) Tanya Pak Efriansyah. “Ao Pak,” jawabnya singkat. “Ini perkenalkan, Pak Hanif, Indonesia Mengajar, penggantinya Ibu Trisa,” Dia memperkenalkanku kepada Doni. Kemudian saya mencoba menjabat tangannya, tapi ia mengelak. “Tangan doni jahat ige Pak, kakgi tangan Bapak kotor pule,”(Tangan Doni kotor, nanti Bakap ikut kotor) katanya. Saya balas dengan senyuman saja.

            “Don, ajak Bapak gurunya ke humeh sinilah,” terdengar suara kakak perempuan Doni dari kejauhan.  “Ao yuk,” jawabnya singkat. Kami berempat, ditambah Doni, pun bergegas menuju humeh. Kami juga melihat ayah tiri Doni menyusul dari belakang. Hanya memakai celana kolor dan membawa golok besar dan terlihat sangat tajam. Sesekali saya mencuri pandang. Goloknya memang menyeramkan.

            Sesampai di humeh, kami berempat diajak Doni masuk ke humeh. Kakak perempuannya meyiapkan kopi dan ubi rebus. Namun, ayah tirinya tidak ikut masuk. Dia duduk di depan pintu belakang, sambil mengasah goloknya. Bunyi asahan golok itu cukup membuat ngilu gigi saya.

            Sambil menikmati hidangan yang disediakan, paman Doni menjelaskan tentang maksud kedatangan kami. “Oi Don, Pak Hanif inilah hendak membantu melanjutkan sekolah dengan di Muara Enim. Dengan la maseh galak sekolah dekde?” (Don, Pak Hanif ini akan membantu Doni melanjutkan sekolah. Kamu masih mau tidak?) Tanyanya kepada Doni. Ia tak bisa menjawab. Hening.

            “Gale-galenye tergantung, Bak. Kalu Bak setuju, aku melu bae. Tapi kasihan pule, Bak la tua di humeh sendiri. Katek yang nanak nasi,” (Semuanya tergantung Ayah. Kalau dia setuju, saya berangkat. Walaupun kasihan dia sudah tua dan tidak bisa memasak nasi) Doni menimpali dalam diam. Doni memang sangat menyayangi ayahnya, walaupun ayah tiri. Karena ia sadar, ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Seburuk-buruk lelaki itu, tetaplah ayahnya.

            “Doni hendak melanjut sekolah di mana Pak?,” tanya suami kakak perempuannya. “Di Yayasan Assaidah, Muara Enim, Kak. Yayasan ini dibiayai oleh Pemerintah Daerah, sistemnya lok pondok pesantren. Jadi, Doni pacak belajah agama pule,” (Di yayasan Assaidah. Yayasan dari Pemda. Sistemnya seperti Pondok Pesantren. Jadi Doni dapat belajar agama) Saya mencoba menjelaskan. “Ilok tuh Don. Tapi, kami kembalikan lagi ke Doni, kalu dia hendak melanjut sekolah harus serius. Dekde hanya sampai SMP. Kalu pacak, sampai lulus SMA ngan kuliah,” (Bagus itu Don. Kami kembalikan lagi ke Doni, kalau dia mau melanjutkan sekolah, harus serius. Kalau bisa jangan hanya sampai tamat SMP, tapi SMA, atau bahkan kuliah) Kakak Doni menambahkan. “Doni dekde sendiri pule. Ade kance duwikok dari Talang Airguci. Doni maseh ingat Juli ngan Syawal dekde? Juli, kance dengan olimpiade dulu,” (Doni tidak sendiri. Ada dua teman dari Talang. Juli dan Syawal. Rekannya dalam OSK [3] waktu kelas IV dulu) tambahku.

            Diskusi cukup alot ini terjadi sampai menjelang maghrib. Sambil berdiskusi, sesekali saya mencari alasan keluar humeh untuk mencari sinyal. Walaupun, sebenarnya saya mencari posisi yang aman. Entah mengapa mendadak saya memikirkan hal-hal negatif dari ayah tirinya yang sama sekali tak ada sambutan hangat, hanya sibuk mengasah golok di pintu keluar. Kemudian, tiba-tiba ia mengambil motor bututnya dan pergi meninggalkan humeh. Alhamdulillah, saya merasa sedikit lebih aman.

            Kakak Doni menawarkan solusi dengan meminta tambahan waktu untuk berfikir beberapa hari lagi. Namun saya tahu, itu hanyalah akal bulusnya. Walaupun kelihatannya seperti mendukung, kebanyakan pola pikir warga humeh itu lebih suka anak-anaknya bekerja, tidak perlu sekolah. Oleh sebab itu, saya mencoba meyakinkan kepada Doni untuk ikut bersama kami ke Talang Airguci. “Dengan melu bae ngan kami. Kakgi nyubok wadah yayasan dengan di Muara Enim ngan Pak Hanif. Kalu nendak melanjot sekolah, kakgi Bapak antar lagi ke sini. Tapi kalu dekde melu, Bapak dekde tau lagi pacak jemput Doni lagi apa dekde.” (Kami ikut saja dengan kami. Nanti kita lihat dulu sekolahnya di Muara Enim. Kalau tidak sesuai, Bapak antar lagi ke sini) Jelasku mendesak.

            Sampai pukul 18.00 WIB, mereka belum menentukan keputusan. Saya mencoba menarik ulur benang penawaran ini dengan segera meminta ijin untuk pulang, karena sudah petang, keamanan kurang. Keadaan pun semakin tegang. Kami berempat kembali ke motor, ditemani Doni. Di tengah perjalanan, kami mencoba meyakinkannya untuk terakhir kali. “Doni, Bapak hendak balik. Ini kesempatan terakhir Doni memilih keputusan,” ujarku.

            Kemudian Doni berlari lagi ke humeh, ke tempat kakaknya. Pamannya menyusul kesana. Saya dan pak Efriansyah menunggunya di dekat motor, di humehnya Doni. Saya sengaja tidak mengikuti mereka karena ini adalah persoalan keluarga. Setelah menunggu lagi hampir 20 menit, saya melihat Doni keluar humeh, berlari menuju ke arah saya. “Saya hendak melu Bapak ke Muara Enim. Tapi saya masih tidak tega meninggalkan Bak sendiri. Saya harus ijin ke Bak dulu.” Ujar Doni disertai tangis bahagia.

            Sesampainya di humeh, ternyata Bapaknya sudah menunggu di rumah.  Kali ini dia duduk di bangku kayu, tanpa memegang goloknya. Ia sudah menyarungkannya. “Doni kalu mau melanjut sekolah, melu bae ngan Pak Hanif. Bak dekde apa-apa sendiri di sini. Doni dekde perlu khawatir, Bak pacak nanak nasi dewek,” (Doni kalau ingin belajar lagi, ikut saja dengan Pak Hanif. Kamu tidak perlu khawatir, nanti saya masak nasi sendiri) Ujarnya tiba-tiba. Sebuah kalimat ajaib, bahkan pamannya sendiri tidak menduganya.

            “Tapi,.. Bak...” belum sempat menyelesaikan jawabannya, Doni ditimpali lagi oleh ayah tirinya, “Udem. Doni berangkat bae melu Pak Hanif. La petang pule, kakgi petang nian sampai ke talang,” Saya terharu mendengarnya. Tanpa basa-basi lagi, Doni langsung mengambil baju dan berganti celana. “Aku berangkat ya Bak, jaga kesehatan di humeh” ijinnya. “Ao, Don! Belajah ngan Pak Hanif yang serios, mangke jadi uhang hebat pule,” (belajar denga Pak Hanif yang serius supaya jadi orang sukses) pesannya singkat.

            Kami pun segera menghidupkan mesin motor dan segera bergegas meninggalkan humeh. Dalam perjalanan, Doni masih tampak bingung. Semuanya terjadi begitu cepat. Bahkan ia tak pernah sedikit saja menyangka bakal ada orang yang menjemputnya dan mengajak untuk sekolah lagi.

            Di dalam perjalanan, saya mencoba memecah keheningan. “Doni dulu bagaimana ceritanya bisa sampai di sini,” tanyaku. “Dulu, ketika hari libur saya diajak kakek ke dusun. Kemudian saya diajak ke Sunor, Pak,” katanya. “Waktu saya dibawa kakek itu masih kelas IV, beberapa hari sebelum Evaluasi Tengah Semester (ETS), Bulan September 2013. Saya ingin sekali kembali, tapi saya disuruh untuk menyadap karet, tidak boleh sekolah lagi,” tambahnya.

            “Setelah delapan bulan di Sunor, kami pindah ke Senuling, bulan Juni 2014. Kontrak menyadap karet kami habis, kami harus mencari kebun karet baru disana.” Imbuhnya. “Hampir empat bulan di Senuling, kakek saya kembali ke duson pada Oktober 2014. Saya diberikan ke ayah tiri saya di Pagardewa, tempat saya sekarang. Sedangkan adik saya, diasuh orang lain di Baturaja,” Menurut cerita yang saya dapat, ada yang bilang adiknya dijual, ada yang bilang bekerja sebagai pembantu, namun saya sendiri tidak tahu menahu keberadaannya. Saya hanya bisa berdoa supaya dia baik-baik saja di sana.

            “Baiklah. Kalau begitu Doni berjanji ke Bapak ya, Doni akan belajar dengan sungguh-sungguh di Muara Enim. Bapak tunggu Doni di Jawa kalau sudah jadi orang sukses,” ujarku kepadanya. Senyum simpul terurai diwajahnya, disertai dengan air mata.

            Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari kisah Doni Iskandar. Tentang mimpi dan realita, perjuangan seorang anak berbakat untuk melanjutkan sekolahnya. Di tengan krisis dan dilema keluarga yang cukup rumit, apalagi untuk anak seusianya. Dia tergolong sangat dewasa dan tenang dalam bertindak. Selain itu, saya juga belajar bahwa seburuk-buruknya orang tua, pada akhirnya mereka akan selalu berfikir segala sesuatunya untuk kebaikan anaknya. Terimaksih Doni, untuk pelajaran kali ini. Kesuksesan di depan mata menantimu, Nak!

[1] Trisa Melati, Pengajar Muda angkatan IV. Ia adalah guru kesayangan Doni yang berhasil menggali potensi Doni yang terpendam. Baca profil selengkapnya
[2] Efriansyah, rekan guru saya di SDN 10 Rambang kelas jauh. Ia juga hostfam saya selama setahun penempatan. Baca profil selengkapnya http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/efriansyah-bujang-talang-penggerak-perubahan

[3] Juli Saputra, Semifinalis OSK yang putus sekolah. Baca selengkapnya http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/juli-semifinalis-osk-yang-putus-sekolah

dipublish juga di situs resmi Indonesia Mengajar
Categories:

0 comments:

Post a Comment