April 20, 2015

Posted by Hanif Azhar Posted on 11:32 AM | No comments

Istri Bupati Mengajar


“Ibu Bupati datang, Ibu Bupati la sampai talang!” teriak Edo dari kejauhan. Suaranya samar, namun berulang. Kelamaan, semakin keras, dan spontan semua anak berbaris rapi masuk ke dalam kelas.

Kamis, 2 April 2015 merupakan hari bersejarah di talang Airguci, Desa Sugihan, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim. Seorang tamu istimewa  akan masuk ke pedalaman hutan Sumatera Selatan ini untuk menyapa dan bermain bersama anak-anak SD Negeri 10 Rambang kelas jauh. Beliau adalah Ibu Shinta Paramitha, istri Bupati Muara Enim, Bapak Muzakkir Saisohar.

Bagi kita yang tinggal di kota-kota metropolitan, khususnya yang berada di pulau Jawa, bertemu dengan para pejabat bisa jadi hal yang sangat lumrah. Apalagi di era penciteraan seperti sekarang. Namun, hal itu berbeda dengan keadaan kami di pelosok hutan Sumatera Selatan. Jangankan pejabat, anak-anak pun akan sulit mengenali wajah camat maupun lurahnya sendiri. Karena kami memang tinggal di lingkungan sebuah talang, pemukiman kecil di dalam hutan. Tanpa listrik, tanpa akses jalan hitam.

Sesampainya Ibu Bupati beserta rombongan sampai di gedung sekolah, anak-anak langsung menyambutnya dengan alunan musik angklung. Dua lagu kebangsaan, Tanah Air dan Syukur, menjadi pilihan sebagai lagu penyambutan. Ibu Shinta tersenyum melihat penampilan mereka. “Anak-anak Airguci sangat berbakat. Sayang kalau sampai tidak dikembangkan potensinya,” ujar beliau ketika menyampaikan sambutan. Kemudian beliau juga diminta untuk meresmikan gedung sekolah baru yang sudah dipakai dua bulan ini.
Setelah itu disusul dengan penampilan kreativitas lainnya. Ada berbagai macam tarian dan nyanyian, baik menyanyi solo maupun paduan suara. Ada juga workshop karya anak, berupa origami maupun desain batik yang seminggu lalu sempat membawa tropi juara dari kabupaten. Kemudian kekaguman Ibu Bupati semakin lengkap dengan penampilan pantomim sebagai penutup kegiatan kreativitas.

Beliau semakin tercengang ketika mengetahui bahwa semua penampilan ini hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk persiapan. Anak-anak Airguci memang spesial *1). Mereka sudah terbiasa tampil di depan. Mental juara sudah tertanam di dalam jiwa mereka. Tak ada rasa malu lagi ketika di depan panggung. Karena, dalam kegiatan belajar sehari-hari, mereka sudah terbiasa dengan Student Centre Learning (SCL). Bahkan, bermain sambil belajar di hutan pun dapat menjadi ajang latihan kreativitas yang menyenangkan *2).

Ibu Shinta merupakan ketua PKK Kabupaten Muara Enim. Berkolaborasi dengan Dinas Peternakan dan Perikanan, beliau melaksanakan Program Makanan Tambahan (PMT) untuk anak sekolah di SD Negeri 10 Rambang kelas jauh. Susu, telur, kacang hijau, pempek ikan, nugget ayam, dan berbagai macam olahan daging. Beliau membagikannya sambil menjelaskan pentingnya mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna.

 “Anak-anak, mengapa kita harus makan makanan bergizi seperti susu, telur, kacang hijau, pempek ikan dan nugget ayam?” tanya Ibu Shinta. “Supaya tumbuh sehat dan pintar seperti Ibu Bupati,” jawab seorang anak. Beliau membalasnya tersenyum. “Tapi Ibu, makanan-makanan itu mahal nian. Kami dekde pacak belian Ibu,” sambung anak lainnya. Memang, bagi kami, makanan-makanan itu teramat mewah. Belum tentu pula kami dapat memakannya kalau tidak ada program bantuan seperti ini.

Selain itu, beliau juga bekerjasama dengan Dinas Kesehatan untuk Program Cuci Tangan Pakai Sabun. Dengan sabar, beliau mengajarkan anak-anak cara mencuci tangan yang baik dan benar. “Anak-anak, kita semua harus membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan, dan setelah dari kamar mandi. Jangan lupa pakai sabun ya,” ajaknya lembut. “Ibu, kalau la besak kakgi, kami galaknya jadi uhang lok ibu. Cantik, pintar, baik hati, dan menjadi istri bupati,” ujar Kayla polos, anak kelas satu.

Terimakasih kepada Ibu Shinta Paramitha, istri Bupati Muara Enim, Bapak Muzakkir Saisohar, yang sudah berkenan blusukan ke hutan seharian untuk belajar dan bermain bersama anak-anak SD Negeri 10 Rambang kelas jauh. Mungkin bagi ibu, hal ini sekedar  refreshing yang menyenangkan dari segala macam kesibukan pemerintahan. Namun bagi kami, ini adalah momen langka yang akan selalu diingat sepanjang masa. Kami dapat berjabat tangan dan bermain bersama Ibu Bupati di pedalaman hutan, merasakan terik matahari di talang, dan menampilkan berbagai macam kreativitas kami.

Ketika di layar kaca selalu dihiasi dengan berita-berita penciteraan para elit politik yang mengatasnamakan rakyat. Entah, rakyat yang mana. Saya bersyukur, masih mempunyai sosok pemimpin yang humble dan peduli kepada rakyat. Tidak melulu tentang penciteraan, beliau langsung turun tangan dan menyapa kami di pelosok hutan Sumatera Selatan.

Catatan kaki :
*1) Setiap anak itu spesial, termasuk anak-anak Airguci (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/budak-talang-budak-balam)
*2) Belajar dan bermain di hutan merupakan ajang latihan kreativitas yang menyenangkan (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/legenda-pangeran-i-love-you)


Categories:

0 comments:

Post a Comment