February 14, 2015

Posted by Hanif Azhar Posted on 11:02 AM | No comments

Budak Talang, Budak Balam





Setiap anak adalah bintang. Setiap anak itu juara. Setiap anak punya kelebihan dan kecerdasan di bidangnya masing-masing. Setidaknya mindset itulah yang membuatku tak patah semangat dalam berjuang mengasah intan di pedalaman hutan Sumatera Selatan.

Sejak awal saya datang di penempatan Indonesia Mengajar, di Talang Airguci, Desa Sugihan, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim, saya dapat merasakan bahwa anak-anak SDN 10 Rambang (kelas jauh) ini sangat spesial. Mereka punya karakter yang unik. Ceria, semangat, perasa, kompetitif, dan lebih dari 90 % bergolongan darah A. Iya, dapat dikatakan bahwa masyarakat Talang Airguci itu masih satu keluarga. Mereka semua masih ada hubungan darah. Mereka berasal dari Suku Rambang, yaitu salah satu suku melayu pedalaman di Sumatera Selatan. Sejarah talang menyebutkan bahwa puyang (nenek moyang) suka berpencar dan menyebar ke hutan dalam kelompok kecil untuk berkebun. Dari kelompok-kelompok kecil tersebut, mereka beranak pinak dan terbentuklah pemukiman mini di dalam hutan yang disebut talang. (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/kelas-galaksi-bima-sakti)

Secara kemampuan, anak-anak Talang Airguci sangat cerdas di bidang verbal dan linguistik. Mereka ahli dalam membuat cerita, syair, dan pantun. Apabila ditugaskan membuat pantun, mereka dapat merangkai kata-kata indah dalam sekejap. Sepertinya, mereka sudah hafal di luar kepala. Bahkan, saya pun sampai kewalahan apabila adu pantun dengan mereka. Luar biasa! Beberapa pantun favorit saya dari mereka adalah :

Terimakasih Pak Hanif Azhar
Datang ke sini untuk mengajar
Terimakasih aku ucapkan
Untuk Indonesia Mengajar
(Karya Juli Saputra, (seharusnya) siswa kelas VII SMP, tapi putus sekolah)

Lihat-lihat ke atas langit
Banyak bintang bertaburan
Teman-teman jangan menangis
Kalau nanti pak Hanif Pulang
(Karya Ramadhan Pradika alias Bomboy, Siswa kelas II SDN 10 Rambang)



Kemampuan menulis dan mendongeng mereka juga tak diragukan. Mereka punya minat baca yang sangat tinggi, walaupun dengan keterbatasan sarana. (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/ramaikan-perpustakaan-dengan-hall-of-fame-pendidik). Pernah sekali saya menugaskan mereka untuk membuat sebuah cerita kreatif sebanyak enam halaman kertas HVS dalam waktu semalam. Iya, hanya semalam. Karena waktu itu kebetulan deadline pengumpulan tulisan untuk lomba Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI). Momen ini sekalian saya gunakan sebagai seleksi pemilihan duta Airguci yang akan berpartisipasi dalam site visit ke PT. Bukit Asam, persero (Tbk), di Tanjung Enim.

Keesokan harinya, sebanyak 13 anak mengumpulkan cerita tersebut. Tidak kurang dari enam halaman, bahkan ada yang dilebihkan. 13 itu angka yang sangat fantastis! Karena memang jumlah siswa di kelas jauh SDN 10 Rambang sangat sedikit. Siswa kelas 5 hanya delapan anak, kelas 4 hanya tiga. Kelas 6 tidak ada, mereka belajar di sekolah induk. Itu berarti, semua siswa kelas besar 100% membuat cerita, ditambah beberapa anak dari kelas 3 yang tidak mau kalah. Mereka terinspirasi oleh Tri Alya Desta, salah seorang siswi kelas 5, tahun lalu berangkat ke Jakarta sebagai perwakilan Sumatera Selatan dalam Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI). Sangat kompetitif!

Selain kecerdasan verbal dan linguistik, anak-anak ajaib ini pun jago dalam bidang musik dan visual. Mereka adalah mesin fotokopi yang sangat cerdas. Mereka dapat meniru semua karya guru-gurunya, kemudian memodifikasi dengan gaya mereka sendiri. Pernah sekali saya membuat komik strip dalam membalas sahabat pena. Kemudian itu menjadi salah satu referensi mereka dalam berkirim surat. Pernah juga saya membuat ucapan dalam bentuk gambar, mereka pun dapat referensi baru yang tidak kalah seru. (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/sahabat-airguci).

Mereka juga ahli dalam memainkan alat musik tradisional, khususnya angklung. Mereka sudah mengerti nada di usia dini. Bahkan, pengalaman unik ketika site visit Indonesia Mengajar ke Talang Airguci akhir Januari 2015 lalu, dua visitor dari Jakarta sempat terkagum dengan penampilan mereka dalam prosesi penyambutan. Saya sendiri cukup kaget ketika mereka memainkan 3 lagu dengan angklung, salah satunya lagu daerah Rambang, Muara Enim, yang belum pernah saya ajarkan. Ternyata, selama seminggu saya meninggalkan mereka untuk mempersiapkan kegiatan site visit di kota, mereka berlatih keras belajar lagu baru, tanpa sepengetahuan saya. Ya Allah, anak-anak ini sungguh berbakat dan penuh kejutan. (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/makhluk-kecil-penuh-kejutan-selamat-tujuh-bulan-pm)

Kecerdasan interpersonal mereka juga berkembang dengan baik. Percaya apa tidak, mereka akan berlomba-lomba untuk tampil di depan umum kalau ada kesempatan, baik itu menyanyi, menari, maupun berpidato. Ketika pelajaran pun, mereka akan berlomba mengangkat tangan apabila pak guru melemparkan pertanyaan. Dapat menjawab atau tidak, itu urusan belakang, yang penting eksis dan berani tampil di depan. Hal inilah membuat saya berinisiatif untuk membentuk klub public speaking setiap kamis malam. Kegiatan ini pun menjadi acara favorit yang selalu mereka nantikan. Manusia Srigala, 7 Manusia Harimau, Pangeran Lutung, dan siluman-siluman di layar kaca lainnya pun terlupakan. (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/ggs-gara-gara-sinetron).

Namun, apabila sudah dihadapkan dengan matematika dan logika, mereka seperti cacing kepanasan. Mati segan, hidup tak mau. Entah, apakah ada yang salah dengan angka-angka itu, nak? Apakah mereka menari-menari di kepalamu, nak? Saya tidak tahu, kenapa mereka takut dengan angka. Padahal mereka sekuat tarzan yang berani melawan monyet ketika berebut buah rambutan di hutan, atau ular dan babi hutan ketika mandi di selokan #eeh sungai kecil maksud saya, atau sekedar bertarung dengan anjing gila untuk melindungi gurunya yang ketakutan. Kenapa nak, kenapa??? (mulai drama)

Sempat saya berfikir kalau beberapa anak ini diskalkulasia. Hal ini diperkuat dengan hipotesa saya tentang seorang anak (yang mungkin) disleksia. Namanya Chad, siswa kelas 5 SD tapi belum bisa menulis layaknya anak normal. Apa yang dia tulis, berbeda dengan apa yang di fikirkan. Tulisannya sulit dibaca, dan tidak ada seorangpun yang mengerti artinya, kecuali dia.

Oi Chad, hendak menulis ape dengan?,” tanyaku. “Chad hendak menulis surat terimakaseh karena Bapak la mengajah kami dan ngajung kami belajah ngan bapak di humeh,” jawabnya. Kemudian dia memberikan surat yang tidak saya mengerti tulisannya, disertai buah rambutan dan senyum penuh ketulusan. Ya Allah, Astaghfirullahaladzim. Saya perbanyak istighfar dan kembali berpikir positif, mungkin saya terlalu curiga karena sering menonton film Taare Zameen Par, sebuah Bollywood movie favorit saya yang menceritakan kehidupan anak disleksia dan cara penanganannya.

Sampai akhirnya, pada suatu hari saya menemukan mereka bermain biji karet di hutan. Hiking dan eksplorasi hutan adalah salah satu kegemaran anak-anak talang. Sambil berjalan dan berlarian, sesekali mereka berlomba memanjat pohon. “Pak Hanif, kami la pacak manjat dahan lok cingkuk. Bapak pacak dekdeh? Kami la ahli nian,” tantang mereka. Karena gurunya kompetitif, kami pun berlomba memanjat pohon seperti monyet.

Setelah itu mereka mengumpulkan biji balam (biji karet, dalam bahasa talang). Mereka membawa sekantong plastik yang cukup besar. Kemudian bermain adu balam, yaitu permainan yang mengadu kekuatan permukaan biji balam dengan menekannya sangat kuat. Biji balam yang pecah dinyatakan kalah. Kemudian pemenangnya akan mendapatkan sejumlah biji balam lawan sesuai taruhan dan kesepakatan di awal.

Sekilas permainan ini tampak biasa. Tapi, hey... tunggu, saya baru menyadari ternyata anak-anak ini mampu mengaplikasikan teori matematika dasar dengan biji balam. Setidaknya mereka dapat mengoperasikan penjumlahan dan pengurangan dalam permainan tersebut. Mereka dapat menghitung jumlah balam sebelum dan sesudah permainan. Termasuk operasi perkalian dan pembagian apabila mereka bermain dalam tim. Padahal, saya pernah gagal mencoba cara ini di kelas. Tapi, media pembelajarannya memakai kelereng dan permen.

Terkadang saya bertanya dalam hati, “Ada apa dengan biji karet nak? Apakah bau khas balam yang pedih dan membuat air mata mengalir itu mampu memicu kinerja otakmu dalam belajar matematika dan logika, nak? Jika memang benar, baiklah, besok bapak akan meminta kalian membawa sekarung biji balam ke sekolah.” Dan mereka pun kegirangan mendapat tugas tersebut. Keesokan harinya masing-masing anak membawa sekantong biji balam yang berisi antara 300-500 buah.

Sesampainya di kelas, saya mulai menerapkan beberapa metode operasi hitung sederhana seperti video tutorial pembelajaran kreatif oleh inibudi.org. Bedanya, saya menggunakan media biji balam. “Beee... saya la pacak nian behitong. Kalu pakai biji balam, mangke dekdeh sareh pule, oi.” Itulah ekspresi bahagia mereka. Trust me, it works!

Alhamdulillah, ternyata sebenarnya mereka mampu. Kitalah, para pengajar, yang dituntut untuk lebih kreatif dalam menemukan cara belajar yang sesuai dengan siswa. (baca juga tulisan saya di ruang belajar http://belajar.indonesiamengajar.org/2014/11/origosistem-belajar-ilmu-sains-dan-sosial-dengan-kolase-origami/)  Saya jadi teringat bahwa selama dua tahun berturut-turut, anak Talang Airguci pernah mewakili Muara Enim dalam Olimpiade Sains Kuark (OSK) di tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Bahkan, salah satu anak didik PM talang Tebatrawas sampai ada yang menjadi finalis tingkat nasional di Jakarta. Salah satunya adalah Juli Saputra (simak cerita lengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/juli-semifinalis-osk-yang-putus-sekolah)

Eksperimen biji balam pun terus berlanjut. Supaya lebih menarik dalam belajar operasi hitung, kami pun merangkai biji-biji favorit monyet itu menjadi gelang, kalung, dan tasbih. Setiap barang mempunyai satuan biji yang berbeda untuk latihan berhitung. Misalnya, 10 biji balam untuk gelang, 25 untuk kalung, dan 33 untuk tasbih. Kami juga berencana mengembangkan eksperimen biji balam ini untuk produk sederhana lainnya. Seperti mahkota, bando, tas jinjing, ikat pinggang, dan aksesoris lainnya. Cara ini pun semakin menambah semangat mereka untuk belajar berhitung yang sebelumnya merupakan momok terbesar di sekolah. 

Tentunya keberhasilan anak-anak ajaib di Talang Airguci tidak terlepas dari guru-guru luar biasa yang mengabdikan diri untuk pendidikan di pedalaman hutan. Pak Hasnel Latif, guru honorer belasan tahun sejak awal sekolah berdiri (1996), perintis sekolah yang baru lolos K2 CPNS akhir tahun 2014. Pak Efriansyah, pemuda talang yang memilih untuk rela mengabdi demi kemajuan pendidikan di talangnya sejak lulus SMA empat tahun silam, padahal bisa jadi banyak kesempatan baginya untuk mengembangkan diri di luar talang. Pak Sempriadi, guru yang berasal dari desa, rela menempuh perjalanan jauh dan melelahkan demi panggilan pendidikan. Pak Depriadi, pembina pramuka dan guru agama yang selalu mengobarkan semangat muda. Serta Pak Yon Mulyono, kepala sekolah yang penuh dedikasi untuk membangun daerah tertinggal.

Dewan guru SDN 10 Rambang kelas jauh (dari kiri) : Pak Efriansyah, Pak Hasnel, Pak Yon Mulyono (kepala Sekolah), Pak Sempriadi (Bendahara Sekolah), Pak Depriadi (Pembina Pramuka)

Cerita anak balam ini semakin menguatkan mindset saya bahwa setiap anak adalah bintang. Tidak ada perbedaan antara anak talang, anak desa, maupun anak kota. Minimnya fasilitas tidak akan menghalangi niat belajar mereka (baca selengkapnya di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/kreativitas-melesat-di-kelas-super-darurat dan http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/masker-untuk-masa-depan)

Mereka semua punya hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang layak. Karena sejatinya cita-cita luhur para pendahulu kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD tahun 1945.


Talang Airguci, 14 Februari 2015
Hanif Azhar, Pengajar Muda Angkatan 8 Kabupaten Muara Enim

(Refleksi 8 bulan di pedalaman hutan Sumatera Selatan)

Tulisan ini juga dimuat di website Indonesia Mengajar


Categories:

0 comments:

Post a Comment