September 28, 2014

Posted by Hanif Azhar Posted on 10:21 AM | No comments

Juli Saputra, Semifinalis OSK yang Putus Sekolah

Putus sekolah. Masalah klasik pendidikan, tidak hanya di Sumatera Selatan. Dulu saya hanya melihat di layar kaca. Tapi sekarang saya dapat merasakan lebih nyata. Di depan kedua mata. Tidak hanya satu. Dihitung memakai semua jari kaki dan tangan pun masih kurang. Nyesek.
Awalnya saya tidak menyangka bakal ada lagi anak putus sekolah di Talang Airguci, Desa Sugihan, Kecamatan Rambang, Muara Enim. Karena para Pengajar Muda sebelum saya mencoba membantu, minimal anak-anak di sini lulus sampai ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tiga bulan pertama di penempatan, saya tidak melihat anak usia SD dan SMP putus sekolah. Namun, beberapa hari ini saya melihat ada seorang anak usia SMP, seringkali bermain kelereng di depan rumah sendirian. Julek, begitulah kami memanggilnya.
Juli Saputra, seorang anak yang masuk babak semifinalis Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2012. Siapa sangka, mimpi anak pedalaman yang berotak brilian ini harus kandas di tengah jalan. Walaupun tidak dapat melanjutkan sekolah, keinginannya untuk belajar sangat besar. Terbukti, setiap malam anak ini masih datang ke rumah saya untuk mengikuti les. Tanpa minder dengan statusnya, dia cuek dengan perkataan temannya. Yang penting dapat belajar dengan Pak Hanif, katanya.

***
“Julek dek melanjut SMP?” (Juli tidak melanjutkan SMP?) tanyaku.
“Dekde Pak,” (tidak Pak) jawabnya singkat.
“La ngape?” (Kenapa?) tanyaku lanjut.
“Dek jadi le bak,” (Karena tidak diijinkan bapak) jawabnya singkat.
“La ngape? SMP kan dek mbayar?” (Kenapa? SMP kan gratis?) Saya mencoba mencari tahu.
“Ao Pak. Tapi aku diajung ngasoh adingku di humah,” (Iya pak. Tapi saya disuruh menjaga kedua adik saya di rumah)
“Endong dengan kemane?” (Kemana ibu kamu?) lanjut saya.
“Endong ngan bapangku nakok sampai siang. Adingku masih kecek behumur due taun ngan setahun. Aku harus ngasohnye,” (Bapak dan ibu saya menyadap karet sampai siang. Adik saya masih bayi berumur dua tahun dan setahun, saya harus menjaganya)
Sejenak suasana hening. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Yang ada di fikiran hanya tanda tanya dan ketidakpuasan dengan segala keputusan orang tua Juli. Bagaimana bisa seorang anak brilian tidak diijinkan lanjut sekolah karena harus menjaga adiknya di rumah. Biaya pendidikan SD-SMP pun tidak dipungut biaya. Apalagi, secara ekonomi keluarganya masih tergolong menengah di talang kami. Bahkan kakaknya dari istri pertama bapaknya, merupakan ketua Rukun Tetangga (RT) baru di Talang Airguci. Di talang, ketua RT sudah seperti raja kecil.

Ya, memang jarak SMP terdekat dengan rumahnya sekitar lima kilometer sih. Itupun harus dilaluinya menyusuri hutan. Tapi, elak saya lagi, setidaknya Juli siap untuk melaluinya asalkan dapat melanjutkan sekolah. Walaupun sebenarnya, kakaknya yang ketua RT itu dapat mengantarnya, sekalian dengan anaknya di talang sebelah. Entah. Terlalu banyak alasan kalau fikiran belum ada keterbukaan.

“Julek gindak sekolah?” (Juli masih ingin melanjutkan sekolah kan?) tanyaku lagi.
“Ao pak. Aku paling ndak sekolah pule,” (Iya pak. Saya ingin sekali sekolah lagi) Jawabnya singkat.
“Tapi enggoh aku ndek sekolah lagi, aku maseh jadi belajah ngan bapak? Jadi mbace di perpustakaan bapak? Jadi milu les di humah bapak tiap malam? Aku janji dekde kan nakal ngan nganggu yang laen. Aku kan belajah serios,” (tapi walaupun saya tidak sekolah lagi, saya masih boleh belajar dengan bapak kan? Boleh membaca di perpustakaan bapak kan? Boleh ikut les di rumah bapak setiap malam kan? Saya berjanji tidak akan nakal dan mengganggu yang lain Pak. Saya akan belajar dengan serius) Juli melanjutkan.

            Suasana kembali hening. Saya tidak dapat berfikir. Otak saya buntu. Saya hanya bisa menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Ya Allah, betapa kecil kuasa hamba-Mu ini. Ketika tidak bisa berbuat banyak melihat keadaan Juli, sakitnya itu di sini (sambil mengelus dada).


Setidaknya, Juli masih mau tetap belajar bersama saya walaupun tidak melanjutkan sekolah. Setidaknya lagi, Juli masih punya semangat menghadapi masa depan walaupun takdir berkata demikian. Juli... kamu bisa nak!

Akhir tahun 2014, ketika kami diundang salah satu stasiun TV swasta nasional untuk talkshow inspiratif

Note : tulisan ini juga dipublish di website resmi Indonesia Mengajar

Categories:

0 comments:

Post a Comment