September 13, 2014

Posted by Hanif Azhar Posted on 9:49 AM | No comments

GGS : Gara-Gara Sinetron

Ganteng-Ganteng Srigala Airguci :)
Gigi ditampakkan, taring dikeluarkan. Terkadang menyelipkan sedotan di taring depan. Mata disipit-sipitkan, pandangan ditajamkan. Kepala dimiring-miringkan. Mulut dimanyunkan. Tangan mencakar-cakar. Berlagak seperti manusia srigala kesurupan.

Saya tidak paham apa yang mereka lakukan. Setiap keluar kelas pada waktu jam istirahat, mereka berlarian seperti srigala liar yang baru terbebas dari kandang. Sesekali mencakar-cakar dinding dan saling mendorong. Jatuh, menangis, dan bangkit lagi menjadi srigala jadi-jadian. Begitulah siklus permainan manusia srigala.

Setelah saya telusuri, ternyata itu semua adalah pengaruh sebuah sinetron harian. Ganteng-Ganteng Srigala (GGS), begitu mereka menyebutnya. Sinetron adaptasi dari tetralogi Twilight yang mengisahkan permusuhan antara bangsa vampir dan manusia srigala.

Pengaruh sinetron tidak hanya disitu. Gaya hidup anak sekolah di televisi pun menjadi tauladan bagi remaja talang. Mulai gaya berbicara, gaya rambut, sampai gaya berpakaian. Bahkan sampai ada siswa yang sering mengeluarkan bajunya di sekolah. Biar jadi anak gaul seperti pemeran di film favoritnya, katanya.

Di lingkungan Talang Airguci, Desa Sugihan, Rambang, Muara Enim, listrik merupakan barang mewah. Listrik hanya menyala dari mesin diesel, pukul 18.00-22.00 WIB. Itu pun tak semua rumah dapat menikmatinya. Momen itu mereka manfaatkan untuk mendapatkan hiburan bersama keluarga. Kebetulan, waktu itu adalah jadwal hiburan semacam sinetron GGS, reality show, dan komedi situasi yang kurang mendidik anak-anak.

Saya tidak bilang hal ini benar atau salah. Masyarakat memang butuh hiburan setelah kepayahan mencari nafkah seharian. Keterbatasan pendidikan juga membuat mereka kurang dapat memilah hiburan yang bermanfaat untuk buah hati mereka. Anak-anak ibarat mesin fotocopy. Mereka siap menirukan segala sesuatu yang dicontohkan lingkungannya. Bisa dibayangkan, apabila hiburan yang mereka dapatkan di malam hari hanya GGS, hasilnya pun seperti yang saya paparkan di atas.

Jujur, sebagai PM saya merasa tertantang untuk merebut perhatian anak-anak supaya meminimalisir hiburan yang kurang mendidik. Untungnya, ada beberapa anak yang senantiasa setia bermain ke tempat saya pada waktu petang. Akhirnya kami sepakat membuat sebuah klub belajar dari hari Senin sampai Jumat. Tentunya, dengan menu-menu spesial yang selalu membangkitkan gairah belajar mereka.

Kami menyusun jadwal sesuai materi pengetahuan yang mereka butuhkan. Tentunya materinya berbeda dengan materi di sekolah. Hari Senin, kami belajar seni rupa. Mulai dari cara menggambar sampai mewarnai. Selasa dan Rabu kami gunakan sebagai English Class. Saya mencoba mengenalkan pengetahuan bahasa Inggris dasar kepada anak-anak talang. Mau tidak mau, mereka akan bersaing di dunia global kalau sudah besar. Mr. Han, begitulah saya memperkenalkan diri dalam kelas ini. Tak jarang mereka terpleset memanggil Mr. Han dengan miss miss miss, terr terr terr, atau master hen.

Kamis waktunya materi public speaking. Saya mencoba membiasakan anak-anak talang untuk berani tampil di depan. Setiap kamis, akan dibagi penugasan yang harus dipersiapkan untuk minggu depannya. Satu anak sebagai Master of Ceremony (MC), beberapa yang lain membawakan pidato tematik, sisanya menampilkan bakat seni kreativitas. Kamis ceria selalu mereka tunggu setiap minggunya.

Jumat adalah hari kreativitas. Kami bisa belajar apapun. Kami memerankan drama teatrikal. Kami bermain pantomim. Kami belajar origami modern. Tak jarang juga kami belajar menyanyi dan menari, walaupun saya kurang bisa memberikan contoh tarian. Mereka berkreasi sendiri. Ibarat kincir angin, mereka hanya butuh ditiup di awal. Selebihnya mereka berputar dengan sendirinya.

Member klub belajar ini terus bertambah. Tidak hanya anak SD, namun juga SMP. Walau jumlahnya masih belasan, tapi saya sudah sangat bersyukur. Anak sekecil itu lebih memilih untuk belajar les tambahan di kala yang lain sedang asyik menonton sinetron. Tak hanya itu, mereka juga harus melewati jalanan di talang yang gelap tanpa penerangan. Tak jarang, ular dan kalajengking menghadang perjalanan mereka. Syukurlah, tak sedikit dari mereka diantar-jemput oleh orang tuanya. Setidaknya, saya merasakan dukungan mereka untuk kemajuan anak-anaknya. Optimisme saya pun semakin bertambah, Indonesia bisa lebih baik dan bermartabat ke depannya.


Saya tidak bilang hal ini benar atau salah. Masyarakat memang butuh hiburan setelah kepayahan seharian mencari nafkah. Keterbatasan pendidikan membuat mereka kurang dapat memilah hiburan yang bermanfaat untuk buah hatinya. Anak-anak ibarat mesin fotocopy. So, beware ya para orangtua :)


Note : tulisan ini juga dipublish di website resmi Indonesia Mengajar 
(http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/hanif-13/ggs-gara-gara-sinetron)
Categories:

0 comments:

Post a Comment