January 6, 2014

Posted by Hanif Azhar Posted on 11:57 AM | No comments

Soekarno The Movie : Urgensi Mentoring

Pemimpin itu ada karena dibentuk oleh proses, bukan karena kecelakaan (aninomous)
Soekarno & Kartosuwiryo mengendarai delman yang dipimpin HOS Cokroaminoto (Soekarno The Movie, 2013)
 Minggu (5/1) kemarin sempat sharing bersama adik-adik Moslem of Design (MODES) ITS, dalam acara Mentoring Gado-Gado. Pada kesempatan kali ini, saya memilih tema tentang urgensi mentoring untuk pemuda muslim. Mentoring adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Tiap kelompok biasanya terdiri atas 3-10 orang, dengan dibimbing oleh seorang pembina.

Kegiatan ini bisa juga dijelaskan sebagai pembinaan agama melalui pendekatan kelompok sebaya. Pembina sebuah kelompok mentoring disebut mentor, sedangkan peserta mentoring disebut mente (nggak pake awalan jambu). Di dalam mentoring disampaikan pemahaman dasar tentang islam, pemaknaan kehidupan, sampai tugas-tugas kuliah. Pokoknya paket curhat komplit deh! Di dalam mentoring terjadi transfer pengetahuan dengan cara pengajaran, diskusi maupun belajar bersama.

Ketika ditanya tentang urgensi mentoring, dengan mantap saya jawab untuk akselerasi kedewasaan, sebagaimana yang diungkapkan Uda Yusuf (salah satu tokoh inspiratif saya sejak jaman maba di kampus, tahun 2009 sempat ketemu dalam studi eksekursi BEM ITS ke KM ITB, beliau merupakan presma KM ITB yang melegenda). Akselerasi kedewasaan ini tentunya dalam banyak hal. Mulai dari kedewasaan berislam, kedewasaan pengetahuan, dan kedewasaan psikologis.

Kedewasaan Berislam
"Mas, ada teman saya yang tidak diperbolehkan orang tuanya ikut mentoring, khawatir jadi fanatik dan teroris". Fanatisme berlebihan terjadi karena dogmatis yang tanpa ada diskusi dan interpretasi. Islam tidak seperti itu, kita diberikan kesempatan untuk bertanya seluas dan sedalam mungkin, kita bahkan ditantang untuk membuktikan kebenaran Islam dalam Al Quran, dan percayakah kamu, Malaikat saja bertanya ! Mempertanyakan kepemimpinan manusia di bumi ? Dan, mereka tidak disebut Allah dengan kurang ajar loh. So, ,mau menjadikan Islam sebagai sebuah gaya hidup ? Setelah kamu jadi peneliti, pengusaha, hingga dosen, kamu akan kehilangan ruh dan karakter kuat manakala tidak punya prinsip yang kuat, dan saya yakin, Islam adalah prinsip hidup yang paling nyaman dan menyenangkan buat manusia.

Kedewasaan Pengetahuan
Dalam mentoring, kita tidak hanya diskusi terkait agama doang. banyak hal yang kita diskusikan lho. Mulai dari bisnis, sampe tugas-tugas kuliah. kebayang kan, bagaimana asyiknya mentoring? apalagi dimentori ama mentor-mentor kece yang bisa dijadikan role model kehidupan kita. Pasti tambah semangat kuliah deh!

Kedewasaan Psikologis
Manusia itu maksluk simple yang kompleks. Makhluk sosial dan juga individu. Hamba Allah sekaligus khalifah di bumi-Nya. Keren kan? dengan status keren seperti itu, tentunya dibutuhkan kedewasaan psikologis yang matang. dan kita bisa mendapatkannya dalam mentoring lho! kita bakal bertemu dengan manusia-manusia keren dengan berbagai macam karakter. Setiap kali diskusi, tentunya akan dibenturkan dengan berbagai macam kepentingan dan ideologi. belajar bersosial dan hidup bermasyarakat. Hal inilah yang akan mempercepat kedewasaan kita.

Hmmm, anak-anak seni dan desain memang unik. Bahkan ada yang bertanya kenapa kok mentoring baru gencar-gencar belakangan ya? terus, apakah mentoring hanya untuk orang Islam? Wait... jangan salah, mentoring itu metode kuno yang sudah terbukti kesuksesannya dalam mentransfer ilmu. dan metode mentoring ini tidak cuma dipakai umat Islam lho. Tahu teman satu mentoring-nya Einstein ? Ya, Schrodinger! Dan tahu nama komunitas diskusinya ? Ya, The Royal Society, yang sudah ada semenjak Sir Isaac Newton hingga Stephen Hawking sekarang.

Kisah Inspiratif : Romansa Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo

Sudah lihat film SOEKARNO belum? film garapan Hanung B yang tayang serempak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada akhir tahun 2013 ini cukup menggambarkan suasana heroik proklamasi Indonesia. Beberapa hikmah pun dapat saya ambil dari film tersebut.


Tapi tolong jangan cuma fokus pada poin 5 yang menyatakan bahwa dibalik kesuksesan seorang pria tidak hanya cukup satu wanita di belakangnya. Tapi mari kita kupas poin ketiga, tentang romantisme kisah klasik mentoring pejuang kita bersama HOS Cokroaminoto.

Sesungguhnyalah, republik ini berdiri atas sokongan berbagai aliran ideologi. Para aktivis beraliran kiri, kanan, tengah, bahkan liberal sekalipun, ikut andil dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Hingga puncak proklamasi 17 Agustus 1945, mereka bersatu padu.

Bulir masalah baru menampakkan diri setelah proklamasi. Aliran liberal menghendaki Indonesia menjadi negara Uni Belanda dan menerapkan sistem demokrasi ala Barat. Para pejuang kiri, yang dipimpin oleh Musso, berusaha menjadikan komunisme menjadi ideologi negara. Sementara aktivis kanan, yang dipimpin Kartosuwiryo, menghendaki lahirnya negara Islam.

Bung Karno? Proklamator dengan endapan banyak ideologi, mulai dari marxis, das capital, komunis, bahkan kajian Alquran dan hadits, Injil, Weda dan berbagai kitab lain. Pancasila adalah ideologi yang ia tawarkan. Pancasila adalah ideologi yang tumbuh dari bumi pertiwi.

Dan tahukah kalian? Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo adalah satu asrama yang dimentori oleh HOS Cokroaminoto ketika masa mudanya. Terlepas dari perbedaan ideologi dari ketiganya, hal ini membuktikan betapa efektifnya mentoring dalam menelurkan pemikiran dan kader-kader ideologis di masa depan.

PPSDMS Nurul Fikri
Entah kenapa, ketika membicarakan tentang mentoring, asrama, dan hal-hal yang berbau persahabatan dan pembinaan ideologis, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah PPSDMS Nurul Fikri. Sebuah Program Pembinaan SDM Strategis yang benar-benar mampu merubah paradigma saya tentang Islam yang moderat. Bahkan, pasca program pembinaan selama dua tahun (2010-2012), kegiatan mentoring kami pun masih berjalan lancar, walaupun anggota kami tidak pernah full team karena agenda pascakampus.

 Idealisme Kami
Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.
Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini, sementara kita hanya menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.
Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci; bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu.
Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia; tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekadar ucapan terima kasih.
Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah, Pencipta alam semesta.
Categories:

0 comments:

Post a Comment