November 22, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 2:13 AM | No comments

Terimakasih Maag

“tumben di asrama seharian bang?” Tanya seorang sahabat asrama

“tumben nggak ngampus Han?” Tanya sahabat asrama yang lain

“tumben bisa buka puasa bersama di asrama pada hari senin, Han” Tanya sahabat lainnya

Tumben, tumben, dan tumben . . .

Sepertinya, tumben adalah kata favorit untuk dua hari belakangan. Saya baru tersadar ternyata beberapa hari ini saya memang terlalu asyik dengan tugas dan dunia kampus. Sampai-sampai intensitas di asrama pun sangat kurang. Bahkan mabit pun jarang. Banyak waktu yang saya habiskan di luar.

Saking autisnya dengan tugas-tugas tersebut, makan pun jadi terbengkalai. Apalagi mandi. Puncaknya adalah serangan Maag perdana Minggu (20/11) malam. Saat itu, kondisi di kantor cukup tenang, sendirian. Sambil refreshing kejar tayang 25 Episode One Piece (maklum, sejak Juni lalu belom sempat update episode terbaru), dan ditemani rintik hujan dan angin malam. Tiba-tiba perutku melilit bagaikan dijepit-jepit, sakit! Baru tersadar bahwa seharian belum makan, Cuma sarapan sekadarnya sambil nungguin kongres mahasiswa pada pagi harinya.

Namanya juga masih perdana, saya bingung harus berbuat apa. Segera saya tanyakan pada professor google tentang penyakit satu ini. Seketika itu pula saya mencari makanan (apapun) yang ada di lemari “harta karun”. Sayangnya hal itu tidak membantu. Satu-satunya yang bisa meredakan asam lambung ini adalah obat maag. “Bagaimana saya bisa memperoleh obat maag, untuk berjalan saja kelabakan,” gumam saya dalam hati.

Secara spontan saya menghubungi salah seorang teman asrama untuk membelikan makanan dan obat maag. Parahnya, saya juga menyuruhnya untuk mengantarkan, dan menjemput saya di kantor. Keadaan saya saat itu memang menyedihkan. Bagaikan cacing kepanasan. Entah kenapa yang pertama kali terlintas adalah teman-teman asrama yang notabenenya bukan orang biasa, super sibuk semua. Maaf merepotkan!

Sesampainya di sana, dia memberikan makanan dan minuman hangat. Bermenit-menit ditungguin, tak secuil pun roti kumakan. Sambil mbentak-mbentak, dia memaksaku makan. Bahkan dia menyalahkanku karena tidak makan, padahal sore harinya dia sudah mengajakku makan bareng, ditraktir malahan. Jujur, baru pertama kali saya melihat ekspresi ni anak khawatir bercampur marah. Sekali lagi, maaf merepotkan!

Dari kejadian, ada beberapa poin yang dapat saya ambil, kawan

  • Nikmatnya sehat. Kita sering kurang bersyukur atas nikmat sehat. Dan biasanya memang baru tersadar kalau nikmat itu dicabut dari diri kita. Alhamdulillah, Allah masih sayang ma saya dengan mengingatkan lewat maag perdana ini.
  • Sahabat adalah Seorang yg membuat hari demi hari kita lebih berwarna dengan saling menasehati kebaikan ketika berkumpul bersama. Mencari musuh itu mudah,, namun menemukan seorang sahabat yang benar-benar sahabat sesungguhnya tidaklah mudah.
  • Jujur, ketika saya terkena maag, bayangan saya langsung tertuju kepada orang-orang yang kurang beruntung seperti kita. Bahkan untuk makan pun susah. Para pengemis dan tunawisma di balik jembatan. Ya Allah, lindungilah mereka dari penyakit maag.
Terimakasih maag! telah mengingatkan saya akan nikmat sehat dan nikmat sahabat :)

Categories:

0 comments:

Post a Comment