November 26, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 1:58 PM | 4 comments

SIASAT #2 : Selamatkan KM ITS!


Suatu sore yang cerah, kubuka happy (notebook-ku). sambil browsing riset tugas akhir, kubuka gmailku. DESAIN SIASAT, itulah nama subject email dari salah seorang yang cukup terpandang di Keluarga Mahasiswa (KM) ITS saat itu. pelan-pelan kudownload sebuah zine mini penuh sensasi. cukup berat memang bahasannya, tapi menarik. Ada salah satu konten yang cukup meraih perhatianku. (Selengkapnya bisa didownload disini)



SELAMATKAN  KM!

Kisruh  Pemira  2011  tak  kunjung  usai.  Masing-masing  pihak  tidak  mau  mengalah.  Menurut  kabar yang saya dapat, semua pihak tetap berada dalam keyakinannya masing-masing. Sehingga yang terjadi pada saat ini adalah deadlock. Dan di hari ini, kongres LPJ-an  BEM  tanpa memutuskan  apakan  kepengurusan  BEM sudah bisa disuksesi. Vacum of Power .

Baiklah, pertama saya ceritakan kronologisnya  berdasarkan pemahaman yang ada di otak saya.

Hasil  Pemira  sudah  di-tok  KPU  dengan kemenangan  berada  di  pihak  Imron.  Merujuk  pada peraturan yang berlaku, tim yang kalah, Muhlas, mencoba melakukan banding. Ketika banding disampaikan ke KPU, uji  materi  itu  ditolak.  Hingga,  Muhlas  berserta  tim membawanya  ke  Mahkamah  Konstitusi  Mahasiswa.  Di sana, mereka menang dalam uji materi.

Apa yang diadukan mereka? Menurut mereka, telah  terjadi  pelanggaran  pada  distrik  PENS  yaitu penyebaran sms yang isinya menyudutkan salah satu pihak (dalam  hal  ini  pihak  yang  melapor),  serta  adanya pelanggaran  jadwal kampanye (sms kampanye salah satu calon, dalam hal  ini pihak  terlapor).

Hasilnya: MKM memenangkan  pihak Muhlas dikarenakan  telah  terjadi  pelanggaran  asas  (mungkin tentang asas Jurdil dan Luber). Berkaca dari hasil ini, MKM memutuskan agar dilakukan pemira ulang di distrik PENS.

KPU  sebagai  pelaksana  Pemira  menyatakan menolak putusan  itu. KPU menganggap bahwa putusan  itu tidak  berdas ar . Dan  seharusnya, perkara  seperti  ini bisa  diberlakukan  hukuman  secara personal. Yaitu, dengan menghukum pihak  terkait  (yang  melanggar  itu) untuk  dikenakan  sanksi,  baik  administratif, maupun sanksi moral sebagaimana  telah  diatur dal am  UU  Pemira  dan  di-breakdown ke TAP KPU. Tapi MKM tetap bersikukuh. "Ini pelanggaran asas".

Deadlock  ini  tidak  bersolusi.  Semua  merasa telah mentok. Karena  rasa  arogansi masing-masing, KM ITS  lah  yang akhirnya dirugikan. Kevakuman  ini  tidaklah dapat  memberikan  kebaikan.  Molornya  kepengurusan BEM  akibat Mubes  IV  seharusnya  sudah menjadi  batas maksimum.  Tapi  mengapa  harus  sampai  berlarut-larut lagi? Akhirnya  rakyat  KM  kebingungan. Mereka  antipati sekarang! Siapapun pemenangnya, kami  tidak peduli  lagi!

Ini  pandangan  saya  terhadap  permasalahan ini. Dalam  hal  ini, Muhlas memang  berhak melaporkan segala indikasi kecurangan. Tapi yang patut dipersalahkan mengapa MKM mengeluarkan sebuah putusan yang tidak rasional sama sekali. Mereka membuat tata perundangan baru mungkin. Mereka melihat  ini sebagai peluang mereka menggunakan  kekuasaan.  Padahal  seharusnya,  jikalau permasalahan  ini  sekedar  personal,  maka  yang  harus dipermasalahkan  adalah  personalnya.  Dan  aturan  itu sudah lengkap. Tak perlu ditindih lagi. Ini bermain hukum, bukan bermain siapa yang  lebih kuat dari siapa!

KPU dilarang mematuhi fatwa MKM karena ini jelas melanggar etika hukum. Apabila  aturan  ini ditaati, maka  akan  ada  pelanggaran-pelanggaran  sejenis  yang akan disandingkan pada pendapat hukum yang jelas-jelas nyeleneh ini. Bila ditaati akan ada konsiderasi hakim MKM selanjutnya untuk menganut asa yurespundensi. Artinya, putusan yang tiada pengaturannya di dalam hukum, boleh mencatut  pendapat  hakim  sebelumnya  pada  kasus  yang sama  atau nilai  lain di  luar kerangka hukum  letterleg.

Saya pun harus berpihak pada kebenaran yang saya yakini. Bukan karena apapun, saya memilih keyakinan ini. Saya tidak ada hubungannya dengan mereka dan tidak mengambil manfaat  sedikitpun dari gontok-gontokan  ini. Tapi sekiranya masih ada orang waras di  tubuh KM-ITS, pasti mereka  akan  menyalahkan  keberlarutan  ini.  Juga menyalahkan  bersikukuhnya  mereka  pada  pendapat masing-masing.

Justru  saya  akhirnya  mempertanyakan efektivitas  Mubes  IV.  Ironisnya,  kasus  ini  terjadi  hanya beberapa  bulan  setelah  Mubes  itu  sendiri.  Bukankah akhirnya  kita  bertanya,  apa  hasil  dari  mubes  ini  sudah kompatibel  dengan  keadaan  dan  perkembangan  jaman   saat  ini. Baru satu masalah, KD/KM  telah  lunglai. Berarti kita perlu  bertanya  akan  sudah  layakkah  KD/KM  mengatur kehidupan Keluarga Mahasiswa  ITS?

Tapi   kemudian  saya  bertanya  tentang kedewasaan politik para pembesar-pembesar kampus ini. Katanya  -pas  kampanye- mereka  akan memperjuangkan kepentingan  ITS  dan  menyingkirkan  kepentingan golongannya masing-masing. Tapi kenyataanya? Politik kita belum dewasa. Permusuhan kita terlalu kekanak-kanakan. Artinya,  kawan  kita  yang menjadi  capres  BEM  dan  para pendukungnya  sebenarnya  telah  membohongi  hati-hati polos dari para  rakyat KM  ITS.

Janji-janji mereka  kosong!  Pengakuan mereka yang  katanya  mewakili  suara  KM  ITS,  ternyata  cuma sekumpulan  hipokrisi.  Dulu,  mereka  pernah  bergandeng tangan  saat  kampanye  dan mengaku  akan  legowo  apapun hasil yang akan diterima. Baik menjadi pemenang maupun sebaliknya. Mana? Mana? Mana?

Seharusnya  sebagai  pemimpin  yang  baik  mesti bisa bersikap  legowo. Harus mampu melihat permasalahan ini  lebih kepada hal yang esensi. Mereka  juga harus pandai melihat  kebenaran  sebenarnya.  Kalau  ditanyakan  kepada saudara-saudara,  apakah  anda  setuju  dengan  fatwa MKM yang semena-mena  itu?  Jawablah dengan  jujur!

Kalau  saja  mau  kita  buka  semua  kebobrokan Pemira ITS, pastilah kita banyak tahu kecurangan macam apa yang dimainkan masing-masing pihak. Sebagai contoh, kasus penggelembungan suara di beberapa kampus yang nyata kita dapati di depan pelupuk mata kita. Kalau mau bongkar, ayo kita bongkar semua. Tapi tolong, berikan nurani anda pada kami yang buta  ini. Andalah harapan kami.  Jangan campakkan kami karena ambisi anda atau ambisi kelompok anda yang hendak memenuhi rakusnya nafsu hewani terhadap jabatan. Meski  anda  bilang,  “Ini  atas  nama  rakyat”,  tapi  saya  tidak yakin, dalam tiap tidur anda, ada bayangan kami yang lemah ini, untuk terus anda bela sampai anda bangun kembali dan berhadapan dengan dunia nyata.

Mari  kita  selamatkan  KM  ITS!  Siapapun  yang menjadi  pemenangnya.  Kami  menyepakati  tanpa  syarat. Biarlah ini lebih cepat menemui titik terang. Bagi yang dalam hal  ini, mengalami kekalahan, sesungguhnya anda  itu  tidak kalah.  Sama  sekali  anda  tidak  kalah.  Malah  justru,  kami menyatakan  salut  luar  biasa  tinggi  kepada  anda  karena semangat dan tekad anda untuk merubah KM ITS. Kami tetap menghormati anda sepenuh hati, sepenuh  jiwa kami.


Wahai MKM, wahai KPU, wahai LM, wahai BEM, dan  seluruh  elemen  yang mengaku  pilihan  rakyat  KM  ITS. Berpikirlah  dengan  kepala  dingin.  Pikirkan  hal-hal  yang menyangut  kepentingan  orang  banyak. Bukan  kepentingan sebagian sahaja,  tapi menindas sebagian yang  lain.

SELESAIKAN KONFLIK PEMIRA  INI SEKARANG  JUGA!
LANTIK PRESIDEN BARU SEKARANG  JUGA!
SUKSESI BEM SEKARANG  JUGA!


NB : Siapapun presidennya, kita tetap keluarga! Keluarga Mahasiswa ITS!
Entah itu Imron Gozali maupun Muhlas Hanif Wigananda, kalian tetaplah saudaraku! 
dari kanan (Muhlas, Hanif, Imron, ibu Marwah Daud, Farid)


Categories:

4 comments:

  1. Replies
    1. thank you Ojan!
      makasih uda berkunjung :)

      Delete
  2. Ehemm...
    semoga bisa dijadikan pembelajaran ke depannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin! semoga menjadi pembelajaran kedepan ya Champ!

      tq uda berkunjung :)

      Delete