November 3, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 10:57 PM | No comments

Pemuda Badar dan Aktivis Twitter



Apakah yang ada di benak kita ketika eksistensi pemuda dipertanyakan? Marah, sedih, optimis, pesimis, ataukah hanya sekedar galau? Ya, Sebuah tema yang cukup menohok bagi kita yang merasa sebagai pemuda. Setidaknya tema dari diskusi kepemudaan dari Indonesia Cendikia Senin (31/10) ini cukup membuat greget para aktivis Islam dan pergerakan di Surabaya.

Kategori pemuda tidak hanya berpatok pada usia belaka, antara 15 sampai 40 tahun. Lebih bermakna dari usia, pemuda adalah sebuah paradigma dan pola piker manusia. Pemuda adalah mereka yang visioner, selalu berpikir jauh ke depan. Sedangkan orang yang selalu berpikir ke belakang penuh dengan pesimisme, merekalah mindset dari orang tua, entah berapapun umurnya.

Pemuda di jaman Rasulullah pun demikian. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dijamin masuk surga dengan segarnya darah syahidnya. Merekalah orang-orang yang berhak mencicipi sungai tujuh rasa surga atas keberaniannya berjuang di jalan Allah bersama Rasul-Nya. Bisa kita lihat dalam syahduhnya perang Badar sebagai salah satu bukti visioner dan keikhlasan luar biasanya.

Perang Badar merupakan kemenangan pertama kaum muslimin atas kaum Kafir. Perang ini pun sangat terkenal dengan berbagai kejadian ajaib di dalamnya sebagai bukti kekuasaan Allah. Perang yang terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah hijrah ini pun menjadi catatan sejarah akan eksistensi pemuda dan pejuang Islam di masanya.

Coba bayangkan, 300 muslim harus berhadapan dengan pasukan kafir quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat. Lebih detailnya, Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang terdiri dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta, serta persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari. Kafir Quraish ingin menjadikan peperangan ini sebagai kemenangan bagi mereka yang akan meletakkan rasa takut di dalam hati seluruh kaum bangsa Arab. Tapi sayangnya Allah berkehendal lain. Kemenangan diberikannya kepada kaum muslim Arab.

Peperangan Badar ini sungguh bermakna bagi agama Islam. Apabila tentara Islam kalah dalam peperangan, maka tamatlah juga penyebar agama kala itu. Kemenangan ini juga menguatkan kedudukan Islam di Madinah dan menambahkan keyakinan bahwa mereka adalah pihak yang benar. Mereka pun mulai disegani dan ditakuti oleh kabilah-kabilah Arab lain. Sebaliknya pengaruh orang Quraisy Makkah mula lemah dan merosot. Menakjubkan!

Lalu, apakah yang bisa diperbuat oleh pemuda modern, kawan? Ketika eksistensi pemuda dipertanyakan, banyak orang yang menghujat pesimis. Tapi tidak sedikit pula yang menantang dengan optimism. Jaman sudah berubah. Jaman pemuda Badar telah disubtitusi oleh para aktivis twitter yang setiap jamnya bisa berbagai berbagai kegalauan yang setia mendampingi aktivitasnya.

Dakwah melalui media, itulah poinnya. Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan, tidak melulu keinginan. Allah pun tak kan memberi beban melebihi kapasitas hambaNya. Jika jaman Rasulullah pemuda harus memegang pedang untuk menegakkan islam, maka pemuda jaman sekarang cukup membawa gadget social media. Jaman telah berubah. Mari berkontribusi untuk agama sesuai kapasitas dan jaman kita, kawan! Allahuakbar!!!

Categories:

0 comments:

Post a Comment