November 3, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 8:05 PM | No comments

The Miracle of Giving


Seorang pemuda tertawa riang di sudut ruangan. Sambil menenteng Nokia 2100nya, dia berlari menuju ruang keluarga tempat kakak iparnya menonton drama Korea. Sesegera mungkin ia menunjukkan pesan singkat dari temannya. “Mbak, aku diterima di Jurusan Desain Produk industri ITS!” teriaknya semangat. Pelukan hangat pun dihadiahkan sang kakak.

Belum menguap rasa senang semalam, koran pagi ternyata menambah lebar senyumnya. Dengan teliti, ia telusuri ratusan nama satu-satu. Lembar demi lembar ia pelototi dengan sabar. “Alhamdulillah, akhirnya lolos juga,” ujarnya senang diikuti sujud syukur spontan. Tak heran, sang juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) propinsi ini diterima di jurusan impiannya, Teknik Kimia ITS.

Dua berita bahagia seakan membayar impas kerja keras. 31 Juli 2008 merupakan hari bersejarah baginya. Engineer atau Designer ? masa depannya berada di persimpangan jalan. Sejak SMA, pria asal Lamongan ini sudah jatuh hati pada kimia. Segala sesuatu yang berbau kimia pasti menjadi trending topic kesehariannya. Sampai ia tak mau mengikuti OSN SMA kecuali kimia. Di lain sisi, kesenian sudah mendarah daging sejak dini. Juara Lomba mewarnai play group se-Lamongan sampai Kompetisi desain tekstil dalam pekan seni pelajar SMA Jawa Timur pun digondolnya.

Satu satu teman dekat, kerabat, sampai milist ia lontar pertanyaan singkat. Selain horizontal, pertimbangan vertikal Tuhan ia lakukan. Akhirnya, hatinya berlabuh di pantai desain dan kesenian. Mindset untuk mengembangkan industri kreatif Indonesia dimulai. Malihat peluang dan masa depan yang menjanjikan, dengan segera kepala ia tegakkan.

Sejenak beaya, musuh besarnya, ia lupakan. Total uang masuk kuliah ‘hanya’ 5 jutaan. Cukup ekonomis untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sekelas ITS, walaupun hal itu tidak berlaku baginya. Setelah melepas beasiswa uang masuk kuliah BMU dari pemerintah pusat, harapan satu-satunya adalah beasiswa Pemerintah Kabupaten Lamongan. Melepas ? ya, sebuah tindakan yang cukup berani, atau lebih tepatnya tolol, bagi calon mahasiswa semelarat dia. Formulir BMU ia berikan pada temannya yang ia rasa lebih membutuhkan.

Permintaan beasiswa ke pemkab pun ia lontarkan. Sayang, kali ini rencananya meleset pesat. Dunia gemerlap entertainment dan gaya hidup mewah kampus desain membuat Dinas Pendidikan tidak berpikir rasional. “Kurang syarat apa coba. Prestasi SMA, OK. Kondisi ekonomi, parah. Perfect!” gumamnya. Belum tentu yang hidup di habitat borjuis adalah orang sejenis!

Beberapa hari kemudian cukup kelam baginya. Tapi semangat hidup tetap terpancar dari sorot matanya. Ia percaya, Allah sudah menuliskan garis hidup setiap makhluk-Nya. Sebagaimana ia nekad ingin bersekolah ke SMA favorit di kotanya, dari kampung dan tanpa beaya, Allah pun menunjukkan keajaiban untuk kedua kalinya. Seorang dermawan, sebut saja hamba Allah, datang memberikan jalan terang. “Alhamdulillah, bisa menikmati bangku kuliah,” celetuknya. Sungguh nikmat luar biasa bagi pemuda kampung yang biasanya hanya bekerja setelah lulus SMP.

(bersambung)

Categories:

0 comments:

Post a Comment