August 1, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 1:21 PM | 2 comments

Belajar Plus-Plus dari Kegagalan KP

Practice makes perfect, itulah pepatah lawas di buku tulis SD yang paling kuingat. Saya meyakini bahwa segala sesuatu ada karena desain, bukan sekedar insiden. Jadi jangan sekali-kali underestimate terhadap seorang desainer lho, apalagi dengan Sang Desainer Alam semesta. Seperti itu juga mahasiswa, disiapkan sebagai iron stock yang berpotensi. Harus melalui beragam proses, supaya siap menjadi fresh graduate siap pakai. Salah satunya dengan Mata Kuliah Kerja Praktek 2 SKS dan berbagai kompetisi, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) misalnya yang cukup bergengsi.

Malam itu, setelah latihan Tae Kwon Do dengan teman-teman asrama Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri, tampak beberapa wajah sumringah. Sedangkan yang lain gunda gulana. Ternyata hari itu adalah hari pengumuman Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang masuk Pimnas XXV di Makassar. Dan pastinya, aku termasuk golongan yang suram. Bagaimana tidak, tahun ke-3 belum bisa fokus ke prestasi. Pengerjaan PKM ala kadarnya, tertunda oleh amanah-amanah, dan tim SOASYIK yang luar biasa sibuknya. Astaghfirullah . . .

Keesokan harinya, beberapa teman yang lolos Pimnas meminta tolong dibuatkan poster untuk PKMnya. Spontan rasa sakit ini terkuak lagi. Untungnya saat itu saya memang lagi repot dengan beberapa proyek desain, buku, dan percetakan. Jadi, saya bisa menolaknya dengan segera. Sampai beberapa kali jiwa ini terbawa mimpi menikmati indahnya pulau Sulawesi.

Belum sembuh total nih ceritanya, sempat bertemu dengan Pak Thomas, salah satu dosen yang menjadi tauladan saya di kampus. “PKMmu lolos Pimnas niv ?” “nggak pak,” jawabku singkat. “kalau gitu bantu-bantuin tim desain aja gimana?” “wah, makasih pak. Juli ini saya ada National Leadership Camp (NLC) dan forum 3 Young Leaders for Indonesia (YLI) McKinsey di Jakarta,” Padahal dalam hati saya garuk-garuk tanah berharap bisa ikut ke Makassar. Saat itu pula saya berjanji tahun depan akan serius menggarap PKM dan ikut Pimnas sebagai peserta, bukan sebagai tim desain, apalagi wartawan.

Bagaikan katalisator, kegagalan Pimnas menambah galau program KPku yang tergolong mbambet. Sekedar flashback sedikit, awalnya memang saya ingin melaksanakan KP di Bali atau Jogjakarta. Karena Passion saya memang ingin mengembangkan ekonomi kreatif di bidang Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UKM). Namun setelah mengikuti latihan gabungan Training for Trainer Mengelolah Hidup Meraih Masa Depan (MHMMD) akhir April di PPSDMS pusat, Jakarta, saya menemukan focus baru dari passionku sebelumnya. Yaitu pengembangan ecodesain sebagai modal ekonomi kreatif, khususnya di kota kelahiran Lamongan.

Oleh sebab itu, saya akan mengambil program KP di Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Lamongan. Sembari KP, rencananya juga akan mencari data untuk Mata Kuliah riset desain 8 SKS semester depan. Supaya KP saya ini berkelanjutan, bisa diteruskan di Riset Desain dan berevolusi menjadi karya Tugas Akhir S1 Hanif Azhar, ST. Waktu itu, serasa ada sinar terang dari langit menyorot silau kearah saya. (kalimat terakhir ini lebay, gan)

Saya percaya pepatah Jawa, if you fail to plan, you plan to fail. Oleh sebab itu, saya pun merencanakan agenda KP dengan matang. Namun, siapa sangka, ternyata Allah berkehendak lain. Ternyata agenda Juni-Juli lumayan padat. Minggu ke-2 dan ke-3 Juni ada Ujian Akhir Semester (UAS). Setelah itu, bersambung dengan Musyawarah Besar (Mubes) IV KM ITS di Tretes selama seminggu. Setelah itu, berlanjut untuk mengikuti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM TL) ITS-DIKTI 2011, lagi-lagi di Tretes.

Forkom News Rider LKMM TL ITS 2011

Setelah itu, ada jedah seminggu sebelum saya harus berangkat ke Jakarta untuk mengerjakan Breaktrough Leadership Project dengan Samsung Indonesia. Seminggu itu (tepatnya hanya 5 hari aktif, karena weekend sudah harus berangkat ke Jakarta) saya gunakan untuk mengurus beberapa proyek mini desain dan proposal KP di Lamongan. Tidak lupa pula saya sempatkan pulang ke rumah (walaupun cuma semalam) untuk meminta restu orang tua semoga diberi kelancaran.

National Leadership Camp PPSDMS Nurul Fikri 2011

Sesampainya di ibu kota untuk mengikuti National Leadership Camp (NLC) yang terdiri dari Inspiring Leadership Talk dan Leadership Training Camp, nomor hape saya rusak. Kontan saya tidak bisa dihubungi selama seminggu. Setelah itu, akhir pekannya pun sangat berkesan dengan forum 3 Young Leaders for Indonesia McKinsey di Hotel Four Season Jakarta. Seakan mendapat spirit baru, dari pesawat sampai asrama pun cengar-cengir penuh makna.


Sesampainya di Surabaya, hal pertama yang saya lakukan adalah ke Gallery *** untuk membenahi nomor saya. Ternyata, selama seminggu itu ada dua info penting yang saya lewatkan. Pertama, saya punya keponakan baru. Dua sekaligus, Zaka-Zaki yang unyu-unyu seperti omnya. Kedua, surat lamaran KP saya mengalami disposisi surat pengantar. Seharusnya ke Dinas Persatuan Bangsa dan Politik dulu. Walaupun dari Kopindag sudah menyalakan lampu hijau, tapi mereka belum mau menerima sebelum ada tembusan dari Dinas tersebut.

Buka Bersama Young Leaders for Indonesia Regional Jawa Timur

Young Leaders for Indonesia Alumni Community Leaders for east Java

OK, saatnya mengurus kembali administrasi KP ke kampus. Sesampainya disana, ternyata semua dosen, termasuk Ketua Jurusan, sedang mengadakan lokakarya di Malang selama seminggu. OK, tetap sabar. Saya tunggu mereka sampai pulang. Jumat (30/7) semua sudah datang, namun kajur dan sekjurku masih sibuk dengan urusan Yusidium fakultas untuk wisudawan 103 ITS. Ya… entah harus terjun dari gedung lantai 3 atau nyemplung ke kolam buaya. Saat itu benar-benar galau. Dunia serasa mendung, gelap, hitam. Dalam hati hanya ada bisikan kalau tidak bisa KP sekarang, berarti otomatis planningku untuk riset dan TA di lamongan harus direvisi. Atau bisa jadi semua planning itu bakal buyar berkeping-keping dan harus menyusun ulang dari awal.


***Wah, kayaknya keasyikan cerita sampai kepanjangan nih :D***
Di kala penuh kegalauan, ada seorang sahabat (Sebut saja mr.X) yang memberiku pencerahan hanya dengan satu peribahasa. “Gajah di pelupuk mata tak tampak. Kuman di sebrang lautan tampak,” pribahasa ini biasanya berarti kesalahan orang lain akan tampak jelas walaupun kecil, sedangkan kesalahan sendiri tak kan terlihat, sebesar apapun. Namun, di lidahnya, peribahasa ini bermakna beda, yaitu suatu hal yang positif. Beliau berpesan, Jangan kau lupakan nikmat-nikmat yang jauh lebih besar, apabila hanya ditukar dengan sedikit pengorbanan nikmat kecil. *terpaku sejenak*

“OK, kamu memang tidak masuk Pimnas, tapi di malam yang sama, bukankah tim Bisnis Planmu Leadership Collection (LeCo) lolos dan didanai 17 Juta oleh DIKTI ?,” belum sempat menjawab, dia melanjutkan, “belum lagi di minggu yang sama, abstrakmu juga diterima di 1st GEOMAT 2011 Japan, Konferensi Internasional tentang struktur dan material di Jepang Nopember mendatang?,” aku masih terdiam.
“Masih mengeluh soal KP?” tanyanya ulang. Belum sempat menjawab, dia memberondongku dengan pernyataan-pernyataan mematikan. “Ingat Han, tidak semua orang berkesempatan mencetak sejarah sebagai pelaku Mubes IV ITS ! dan kamu tahu ? berapa banyak mahasiswa yang mupeng ingin mengikuti LKMM TL sepertimu, namun terkendala banyak hal!,” masih terdiam.
“Masih belum bersyukur juga?” tanyanya lagi. Dan lagi-lagi belum sempat menjawab, dia melontarkan penyataan pedas. “berapa banyak mahasiswa beruntung sepertimu yang bisa masuk PPSDMS dan mengikuti NLC ? Bertemu dengan orang-orang hebat sekelas Jusuf kalla dan menteri-menteri lainnya, serta para pemimpin-pemimpin muda dari 7 PTN terbaik bangsa?” (udah tidak kuat mulai menutup telinga)
“dan lagi, tidakkah kamu lihat betapa beruntungnya kamu masuk menjadi salah satu dari 60 Young Leaders for Indonesia dari perusahan konsultan internasional McKinsey? Masih kurangkah motivasi Gita Wirjawan dan orang-orang hebat lainnya disana ? Belum lagi, mini jobfair dari Pertamina, Grupon, Indonesia Mengajar, Tripatra, Blitzmegapleks, Chatered Bank dll menunggu kalian kapanpun kalian berminat kesana. Bukankah itu jauh menjanjikan untuk menjamin hidup di masa depan?,”(Speechless)
***


Satu pelajaran penting adalah betapa besar arti bersyukur. Gajah di pelupuk mata tak tampak. Kuman di sebrang lautan tampak. Semoga coretan ini tidak hanya menemani pembaca sebagai dongeng pengantar tidur. Namun kita bisa mengambil hikmah di dalamnya. Taare Zameen Par, Because Every Children Are Special. Selamat menjalankan rangkaian ibadah suci Ramadhan kawan :D
Categories:

2 comments:

  1. nice article Boy. keep writing!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank you bro!
      keep writing too :)

      makasih kunjungannya!

      Delete