July 13, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 1:12 AM | No comments

Nikmat, Wujud Cobaan Tak Terlihat




Pernah terpikirkan olehku, cobaan adalah sebuah beban. Cobaan adalah sebutir tangisan tak bertuan, yang hanya bisa dikeringkan oleh keikhlasan. Padahal, untuk belajar keikhlasan, apabila ditukarkan dengan segenap ilmu dunia belum tentu setara. Sebaliknya, kuantitas cobaan berbanding terbalik dengan keikhlasan. Bisa jadi, sebelum kita mengikhlaskan sebuah cobaan, maka cobaan-cobaan lain sudah sikut-sikutan minta dimanja duluan.

Kadang terbesit di benakku, cobaan hanyalah buah pahit dari musibah yang berkepanjangan. Musibah yang silih berganti bak musim kemarau dan hujan yang saling berkejaran. Bahkan, saking semangatnya, salah satu musim pun terkadang mendahului sobatnya. Belum waktunya datang, eh . . . sudah tiba duluan.

Sekarang, agaknya mindset itu mulai bergeser seiring dengan pertumbuhan gigi geraham. Ternyata, cobaan bukanlah sebuah beban. Melainkan bukti rasa cinta sang Ilahi kepada makhlukNya. Pernah mendengar kisah sang elang kan ? untuk mendapatkan umur panjang, elang harus melalui fase-fase menyakitkan. Mencabuti bulunya satu-satu, mendekam gundul dalam goa, dan tentunya harus berpuasa sampai bulu-bulu baru tumbuh sempurna. Ibarat seekor elang, beranikah kita mengambil resiko tersebut ? atau hanya puas dengan bulu-bulu tua dan menerima nasib untuk menunggu Sinigami menjemput kita ?

Satu lagi, ternyata paragraf kedua tentang cobaan buah pahit dari musibah berkepanjangan, itu juga salah besar. Bahkan, bisa jadi tumpukan nikmat yang melenakan menjadi cobaan yang lebih beracun daripada musibah berkepanjangan. Dan Allah mengajariku statemen ini beberapa hari belakangan. Entah kenapa, tumpukan nikmat yang menggunung kadang terasa sakit dirasakan. Apalagi datang sebuah pilihan, keterpanggilan untuk meninggalkan semua nikmat karena ideologi yang belum tentu kebenarannya, melainkan hanya sebuah kepercayaan. Inilah cobaan. Datang bersamaan dalam hari yang sama. Saya lebih suka menyebutnya hari kegalauan, Selasa (12/7).

1. Dukungan Kerja Praktek, Riset, dan Tugas Akhir

Pagi itu, sudah saya agendakan untuk berkunjung ke Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Lamongan. Tujuan utamanya adalah untuk melamar Kerja Praktek (KP) selama libur puasa semester ini, antara 26 Juli – 26 Agustus 2011. Berbekal proposal cantik dan surat pengantar standar, segera kuinjakkan kaki memasuki gedung megah itu.

Ternyata, saya disambut hangat oleh paman teman sekelas saya ketika SMA, Ika Nurma atau biasa dipanggil Risma. Kontan, obrolan jadi lumayan cair. Saya juga mulai menceritakan rencana jangka panjang saya paska KP. Karena, KP ini hanya saya jadikan batu pijakan untuk membuat riset desain semester depan sehingga akan menghasilkan tugas akhir tentang pengembangan industry kreatif di Lamongan. Alhamdulillah, mereka menyambut dengan tangan terbuka, bahkan siap membantu, apapun itu. Demi kemajuan Lamongan. Oia lupa, bapak baik hati itu bernama Khusnul Khotim. Senyum manis pun selalu mengembang sepanjang perjalanan pulang menuju kampong halaman.

2. Kontrak Proyek dengan dosen Technopreneur

Sesampainya di rumah, kurebahkan punggungku sejenak. Selang beberapa menit, robot hijau saya bordering. Ternyata panggilan dari dosen technopreneur saya. Sebelumnya, kami memang pernah terikat kontrak sebuah proyek (lebih tepatnya, aplikasi tugas MK Pengantar Technopreneur). Beliau mengaku puas dengan proyek tersebut. Beliau juga berencana untuk menagajakku terikat kontrak proyek yang lebih bonafit. Mulai dari penyusunan buku, layout buku, brosur, travelling, sampai bisnis konveksi. Bola mataku yang semakin menghijau pun memaksa bibir ini untuk mengamininya. Ya, lumayanlah, hitung-hitung buat tambahan beli pulsa.

3. 17 Juta Dana Hibah DIKTI untuk Business Plan : LeCo, leadership Collection

Setelah ajakan itu, aku pun tertidur pulas dengan senyum mengembang. Mimpi indah tahun ke-4 perkuliahan ada di depan mata. Sekitar pukul 3 pm, aku bangun untuk menunaikan sholat ashar. Sebelum mengambil wudhu, saya intip sebentar Galaxi Mini saya. Ternyata, ada pesan singkat dari Ken Hutomo, tim saya Bisnis Plan. “Assalamualaikum wr.wb. Halo halo, Le co dpt 17jeti, Boo :X,” Sujud syukur gulung-gulung setelah menerima SMS ini. Ditambah lagi beberapa ucapan selamat dari teman-teman dekat baik via SMS maupun facebook.

4. 1st GEOMAT 2011, Japan

Belum selesai melakukan ritual sujud syukur gulung-gulung, Galaxi Mini saya bordering lagi. Kali ini pesan singkat dari teman sekamar saya di asrama Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri angkatan 5 Regional IV Surabaya. “Paper Jepangmu wes mari? Bagi dong untuk contoh. Bgpl,” begitu pesan singkat si MJ (Mujahidin, bukan Mary Jane). SMS ketua BEM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) ini mengingatkanku kalau beberapa hari lalu abstrakku juga ketrima di event internasional yang sama, bersama Irfan Arif Abdillah, ketua Kajian Fakultas Ekonomi Unair.

Bahkan, setelah SMS ini juga masuk pula inbox dari junior saya ITS Online, si Eci. Maba Arsitektur 2010 ini juga punya passion yang besar dalam urusan abroad overseas. Awal tahun 2012, ternyata ada juga konverensi internasional berbasis leadership di Vietnam. Spontan, adrenalinku pun tertantang. Makasih infonya Eci.

Dan Alhamdulillah, masih ada beberapa lagi tumpukan nikmat yang tidak bisa diungkapkan satu-satu. Dan semua ini adalah buah dari lifeplanku untuk tahun ke-4. Sungguh indah dibayangkan. Namun, bagaimana apabila semua mimpi-mimpi itu harus kandas karena sebuah kondisi tertentu ? Who knows… we’ll see . . . (to be continuous)

Categories:

0 comments:

Post a Comment