January 19, 2011

The Prince, saya lebih suka menyebut Buku angker dengan efek domino. The Prince, bukanlah buku dongeng cerita antah berata yang mengisahkan pangeran tampan menggandeng putri cantik jelita dengan kuda putihnya. Tidak ada pula kalimat “….dan sang pangeran dan putri pun akhirnya menikah dan bahagia selamanya”. Lebih dari itu, banyak kekacauan dunia terinspirasi darinya.

Saya mengenal buku ini kurang lebih dua tahun silam, ketika saya masih imut-imutnya menjadi mahasiswa baru. Tersesat menjadi jurnalis kampus memaksa saya harus fleksibel dan beradaptasi super cepat. Bertemu orang hebat tiap harinya, mulai dari menteri RI sampai penjahat kelas teri pun pernah saya temui. Mau nggak mau, saya pun harus membaur tanpa melebur dalam berbagai komunitas. politik kampus dari birokrasi sampai ruwetnya mahasiswa pun jadi makanan sehari-hari.

The Prince memang menggagas pola berpikir pemerintahan saat itu dari idealis menjadi realis, orang berpolitik tidak perlu idealis. Untuk mencapai tujuan negara, suatu penguasa yang baru perlu melakukan tindakan amoral untuk mewujukannya, termasuk mengorbarkan darah. Namun Saya tidak akan mengulas isi buku yang penuh intrik ini. saya mencoba belajar dari hikmah perjalanan suram ini menuju era blogger masa depan. Karena jujur, menurut saya kisah Il Principe mampu menjadi motivator untuk menguasai media bagi yang memahaminya.

***

Kisah ini berawal sekitar Pertengahan abad ke-15, Era Renaissance sudah menampakkan taringnya. Ilmu pengetahuan sains dan teknologi di Eropa mulai berkembang, bak kuncup bunga yang bermekaran.Beraneka ragam pemikiran logis mulai berkembang. Sains, seni, arsitektur, filsafat, musik dan semua jenis bentuk ilmu bagaikan banjir bandang, datang tak terbendung dan mempengaruhi mindset manusia kala itu. Jaman telah berubah kawan, Berubah !

Pada masa itu, sekitar Tahun 1513. Seorang diplomat asal kota Florence Italia menyelesaikan naskahnya, “Il Principe” yang artinya Sang Pangeran (The Prince dalam bahasa inggris), sebuah karya emas Niccolò di Bernardo dei Machiavelli. Naskah yang kurang dari 100 halaman ini berkali-kali ditawarkan kepada penerbit untuk dicetak menjadi buku. Belum sampai terwujud, pada tahun 1527 ajal sudah menjemput.

Tapi tunggu dulu, cerita baru saja dimulai. Babak baru Renaissance semakin seru.Lima tahun kemudian, salah seorang teman Machiavelli menemukan naskah ini dan berhasil menerbitkannya. Kalau dihitung mundur, itu artinya butuh waktu tunggu sampai 19 tahun untuk membuat penerbit memutuskan bahwa tulisan ini layak terbit. Bahkan si penulis pun tidak tahu bahwa naskahnya diterbitkan.

Lucunya, Kira-kira dua setengah abad kemudian, The Prince dibaca oleh pemimpin legendaris Perancis, Napoleon Bonaparte. Menurut sejarah, Salah satunya karena terilhami buku ini, Napoleon melakukan serangkaian peperangan hingga Perancis menjadi negara yang paling ditakuti kala itu. Mungkin Si Napoleon sangat dibenci manusia kala itu. Tapi menurut saya, level si Bonaparte belum sampai level menggila, hanya sekedar keji.

Level pemegang buku ini pun meningkat brutal Empat abad kemudian. Adolf Hitler, sang pelopor Perang Dunia II ini ternyata juga salah satu pemegang The Prince. Tokoh rasis asal Jerman ini telah melahap Puluhan juta nyawa manusia. fatalnya lagi, buku ini juga menjadi pegangan Benito Mussolini dan Joseph Stalin. Sejarah mencatat, koalisi trio diktator ini sukses menghancurkan peradaban Eropa. Juga menimbulkan kisruh dunia sampai beberapa dekade.

(baca the prince online di constitution.org)
***

Lalu apa hubungannya dengan blogger masa depan ? banyak kawan !!! Saat ini, Blog sudah beralih fungsi menjadi media jurnalistik independent dalam penyampaian informasi. Tidak sedikit blog-blog berkualitas yang mengadopsi dan memanfaatkan sarana menulis gratis ini untuk melebarkan sayapnya. Bahkan blog komersial pun semakin menjamur bak cawan di musim hujan, menjengkelkan namun menggiurkan.

Kata dosen marketing saya, Blog merupakan sarana branding diri yang cukup menjanjikan. Tidak hanya pribadi, bahkan institusi. Bahkan, sedikit informasi, banyak surat lamaran (baik itu pekerjaan maupun beasiswa) diterima karena karena melihat tindak-tanduk kita di dunia maya. Tinggal bertanya kepada mbak google, semua info tentang kita akan terpampang indah. Syukur kalau kita memang orang terkenal dan sering dibritakan di media. Terus bagaimana nasib orang-orang yang belum pernah berkarya dan diliput media. BLOG ! Branding diri lewat blog. ya, itu salah satu jawaban cerdas. Bukan mutlak namun cukup membantu menang telak.

Terkadang saya membayangkan, bagaimana jadinya kalau di jaman reanaissance, Niccolò di Bernardo dei Machiavelli mempublikasikan The Prince lewat blog ya ? Efeknya pasti semakin menggila. Sang penulis legendaris ini bahkan belum melihat kesuksesan bukunya merubah dunia. Perjuangan untuk menerbitkan sabuah buku teramat sangat sulit.

Lalu, masihkah ada alasan untuk kita untuk tidak menulis lewat blog di era digital ini? Saya yakin, para tunas pemikir masa depan pasti ada yang jauh lebih hebat pemikirannya dari sekedar diplomat asal kota Florence Italia itu. Saya yakin, kitalah penerusnya. para blogger sebagai upaya penulis merubah dunia. Masa depan di tangan kita kawan. Ayo Menulis ! jadikanlah High Tech ini menuju High Touch, dan sambutlah kesuksesanmu!
Categories:

0 comments:

Post a Comment