January 24, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 12:49 AM | 2 comments

Kamar 5 Dan Pusat Peradaban Asrama Vampire Surabaya

Tidak terasa, satu semester sudah saya menempati asrama Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Regional IV Surabaya. Euforia semester ini ditandai dengan perpindahan kamar beserta penghuninya. Tidak lupa pula rasa was-was dag-dig-dug menjelang evaluasi dari pembina pusat yang spooky, katanya.

Tentunya selama satu semester ini banyak canda tawa bersemi. Suka duka juga turut menyertai. Bagaikan permen Nano, manis asam-asin ramai rasanya. Banyak kenangan berkesan yang dapat diambil dari para pemimin muda, khususnya penghuni kamar lima. Empat pemuda keren bersatu dalam satu ruang dan membentuk peradaban. Merencanakan masa depan dalam keakraban dan kekeluargaan.

Nizar Aquita, Ahli Kesehatan yang mencintai Alam Liar


Nizar, begitulah kami biasa memanggilnya. Pria 19 tahun ini layaknya api, selalu bersemangat, membakar apa saja di depannya, menebarkan spirit dimanapun ia berada. Sangat formal dan cinta kebersihan. Mahasiswa tahun ke-2 Fakultas Keperawatan, sudah dipercaya menjadi Kepala Departemen pengembangan SDM BEM Fakultasnya. Departemen yang identik dengan pengkaderan yang biasanya dipegang minimal mahasiswa tahun ke-3. Subhanallah, Luar biasa !

Awal kami berjumpa ketika keberangkatan Pendidikan Kepemimpinan Nasional PPSDMS Nurul Fikri pertengahan tahun 2010 silam. Kami duduk di gerbong yang sama, berhadapan. Obrolan ringan pun memulai perjalanan yang bakal membosankan. Tanpa segan, dia memanggil setiap orang dengan nama panggilan. Tidak pandang bulu. Entah angkatan 2008 atau 2009, kecuali supervisor. Untuk menghormatinya dia pakai embel-embel “mas”.

Kenapa saya bahas demikian ? Apakah ada yang salah dengan hal ini ? Tidak ! Saya malah salut dengannya. Seperti saya, overselfdefense menjadi perhatian utama kami. Dari pengamatan saya, orang-orang tipe seperti ini adalah mereka yang baru bisa memberi penghargaan “bang”, “kang, “mas” dll apabila mereka merasa orang itu memang pantas mendapatkannya. Tidak hanya karena sekedar faktor usia. Walaupun akhirnya Saya, Nanang, dan Imron dipanggilnya dengan sebutan mas, tapi saya belum mendengar dia memanggil semua penghuni asrama yang lebih senior dengan sebutan layaknya adik-kakak itu. Salute!

Selain itu, masih banyak hal unik lainnya. Ternyata nama belakang, Aquita itu dicomot dari nama atlet kebanggaan ayahnya. Sehingga tak mengherankan, kalau sekarang penyuka futsal ini menjadi atlit lari. Bahkan, beberapa bulan lalu sempat menjadi juara 2 nasional untuk kompetisi serupa. Subhanallah, orang tuanya pasti bangga melihat doa dan harapan untuk anaknya terlaksana.


Walaupun lebih junior, jujur, saya banyak belajar darinya. Belajar untuk menyemangati diri sendiri. Belajar untuk berani. Belajar untuk mewujudkan mimpi. Sampai belajar untuk memakai masker ketika bersih-bersih. Mimpi terbesarnya adalah menjadi nurse terkemuka dunia dan mampu mendirikan Rumah Sakit berkualitas dan murah untuk orang-orang yang kurang mampu. Subhanallah, sungguh mulia cita-citanya. Tetap semangat saudaraku. Aku tahu, Allah pasti memeluk mimpi-mimpi hambanya yang bersemangat dalam mewujudkannya. Saksikanlah, Nizar Aquita, Nurse Dunia dengan Hospitalnya 25 tahun lagi, pembaca.

Nanang Rosadi, Ketua BEM Multikarakter

Multikarakter, ya, multikarakter. Itulah sosok dominan yang kukenal dari seorang Nanang Rosadi. Ketua Studi Kajian Islam (SKI) Fakultas Psikologi UNAIR yang sekarang banting stir menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultasnya.

Kalau diperhatikan, karakter Nanang luar biasa hebat. Mengingatkan pada salah satu aktor favorit saya, Jim Carey. Tentunya pembaca masih ingat film-film fenomenalnya, seperti The Mask, The Grint, atau God Almighty. Begitu pula Nanang, pertama kali bertemu dengannya ketika rihlah PKN di Jakarta. Dengan gaya Cikichewnya, pasti tidak akan ada yang menyangka kalau waktu itu jabatannya adalah ketua SKI.

Kabar terakhir yang saya peroleh dari Fauzi, adik seperjuangannya, kegilaannya pun semakin menjadi-jadi. Kemarin, (22/1) Ketika sertijab kesanggupannya memegang amanah menjadi ketua BEM, dia pun menjawabnya tegas,”saya siap menjadi ketua BEM Fakultas Psikologi Unair,” kemudian dia mengepalkan tangan ke atas seraya berteriak, “Siaaaaaap Grak!,” Spontan seluruh mahasiswa yang menyaksikan diam seragam. Menyadari kalau salah ucap (seharusnya Hidup Mahasiswa, bukan siap grak) dengan reflek cepat tubuhnya bergoyang-goyang lentur ala Mr. Bean. Oh My God ! I Can’t imagine It! J

Tapi tunggu dulu, jangan sampai kalian underestimate dengannya. Disamping kegejean yang merajalela, dia bisa menempatkan diri dimana saja. Waktunya bercanda, mungkin dia bisa menjadi yang paling gila. Giliran serius, dia bisa menjadi orang paling berwibawa. Hal itulah yang menjadikannya sebagai wakil ketua asrama. Bahkan ketika menjabat sebagai personalia, saya sempat ditegurnya di kala terindikasi menyalahi aturan asrama.

Nanang merupakan teman sharing yang sehat. Dia mampu menjadi pendengar yang hebat. Bisa menjadi adik, atau menjadi bapak. Satu-satunya penghuni asrama yang siap bertransformasi menjadi tempat sampah dalam kegalauan. Talenta yang luar biasa. Dia mampu menjadi psikolog handal di masa depan. Mampu mengayomi dan mengarahkan orang-orang di sekitarnya. Pemimpin hebat yang dapat membaca perasaan rakyatnya. Go Nanang Go Nanang Go ! Aku bangga bisa bersahabat dengan orang hebat sepertimu !

Imron Gozali, Kolaborasi Skill Kahima Dan Mawapres

Don’t judge the book by its Cover, istilah yang cocok untuk impresi Imron. Dingin dan angkuh, mungkin itu kesan pertama melihatnya. Namun semua yang kau lihat tidak selamanya benar, kawan. Dibalik sikapnya yang dingin, Imron adalah sahabat yang baik dan pengertian.

Menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEKK) ITS tidak menghambatnya untuk berprestasi. Bagi Imron, semua itu berkesinambungan dan saling mendukung. Sehingga tidak mengherankan, kalau orang nomor 1 di jurusannya itu juga menempati puncak tertinggi nilai Indeks Prestasi Komulatif (IPK). Bahkan, beberapa waktu lalu dia sempat menyabet status mahasiswa berprestasi jurusan yang siap dikirim ke medan perang menuju kompetisi yang lebih besar, Mawapres Institut beberapa bulan kedepan.

Bicara mengenai mawapres, ada sedikit cerita lucu. Saya tidak menyangka, seorang Imron Gozali sempat merasa minder untuk maju dalam kompetisi bergengsi ini. Dalam hati saya hanya bisa berucap, “kalau dia tidak pantas apalagi saya. Ck ck ck,” satu lagi kalimat yang masih saya ingat dan belum bisa mengartikannya secara utuh, “enak ya nif, kamu bagaikan ikan besar di kolam kecil. Tapi aku hanyalah ikan kecil di kolam besar,” ini sindiran atau motivasi, kevalidannya masih dipertanyakan. Hmmm, misterius!

Satu lagi momen yang cukup berkesan, ketika kami menjadi Finalis Youth Tourisme Entrepreneur Wisata Batu Resource 2010. Acara enterpreneur muda bergengsi yang berlokasi di Batu, kota kelahirannya, mengharuskan kami nampang di TV Lokal. Menginap di rumahnya dan berlibur disana. Mengenal keluarganya yang bersahaja. Dan sekali lagi Sunatullah membuktikan hukum alam itu ada. Untuk menjadi berlian, karbon harus ditempa sedemikian rupa didalam tanah jutaan tahun lamanya. Struktur karbon pun harus benar. Atau akan gagal dan menjadi arang bahan bakar murah.

Terakhir, beswan GE Foundation 2010 ini menyandang status baru, Young Leaders For Indonesia dari McKinsey, sebuah perusahaan internasional yang ingin menggenjot pemimpin-pemimpin mudah di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Good Luck kawan ! Semoga engkau menjadi pemimpin handal di masa depan. Pimpinlah mimpimu dan raihlah citamu. Jadikan kota Batumu itu menjadi Kota Pariwisata Internasional seperti lifeplanmu!

***

Well then, itulah kisah indah di kamar lima. Semester luar biasa sepanjang masa. Mengenal orang-orang hebat dengan berbagai talenta. Dan sekarang, saatnya bereformasi ria. Menuju kamar dua yang tidak akan kalah seru dari yang sebelumnya.

Saya harus menyiapkan telinga tebal untuk mengantisipasi segala retorika dan politisi Muhlas Hanif wigananda, ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMS) ITS. Harus rajin belajar ngaji Qiro’ah pada ustadz dan akademisi handal, Achmad Choirudin, Statistika ITS 2009. Berdebat ria dengan sekjen SKI Fakultas Hukum UNAIR, Alam Aziz Anggono. Bergeje ria sambil memperdalam pengenalan karakter manusia bersama Muhammad Fauzi Setyawan, Ketua SKI Fakultas Psikologi UNAIR. Serta belajar lebih bijak dan bersahaja dari ketua BEM Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR, Achmad Mujahidin.


Bagiku . . .

Teman Lama ibarat berlian

Semakin ditekan di kedalaman, semakin kuat dan berkilauan


Bagiku . . .

Teman baru ibarat emas

Menarik dan menyilaukan

Semakin digosok semakin panas dan cantiknya mencuat di permukaan.


Categories:

2 comments:

  1. Huda berkata, "Hanif, kereeeennn"
    teringat ceritamu waktu di dalam mobil saat rafting ITS Online pertama, mengharukan (ada serbet buat ngelap air mata nggak? hehe)
    Salutttt....
    Lanjutkan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahaa.... cerita itu off the record ya om Hoe :)

      Hey, ane hidupin lagi ni blog! kasian ga ada yg ngurus :v

      Delete