January 3, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 6:36 AM | No comments

CAK dan CUK


Cerdas, Amanah, dan Kreatif (CAK), jargon umum mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu bukan hanya sebuah label. Sebagaimana sebuah rangkaian nama indah yang diberikan orang tua kepada buah hatinya, label itu pun merupakan doa. Lebih dari itu, tanggung jawab besar menanti kita, Cak!

Sebagai maba (mahasiswa basi, red), saya mungkin masih harus beradaptasi dengan jargon yang relatif baru tersebut. Karena ketika saya masuk kampus perjuangan, tepatnya pertengahan tahun 2008, ITS masih memakai jargon lamanya, yaitu Cerdas, Ulet, Kreatif. Tiga kata tersebut biasa disingkat dengan CUK.

CUK sendiri merupakan kata khas Surabaya yang sangat familiar diucapkan oleh mahasiswa ITS pada umumnya. Bahkan, banyak teman yang berasal dari luar Jawa ikut-ikutan menjadikan cuk sebagai bahasa kesehariannya. Aneh, seperti ada sesuatu yang ganjil ketika mereka sok-sokan berlagak menjadi arek Suroboyo. Jadi ingat kata-kata cak Suro Si Ikin Gatotkaca Studio, “kupingku rasane disogrok Tugu Pahlawan.”

Selain itu, cuk ternyata mempunyai makna yang condong ke arah negatif. Bahasa kasarnya, termasuk dalam klasifikasi kata-kata pisuhan khas Suroboyo. Namun, ada pula yang berdalih kalau ini merupakan salah satu kebudayaan lokal yang patut dilestarikan. Mungkin hal inilah salah satu faktor yang mengubah jargon ITS dari CUK menjadi CAK.

Di dalam American Marketing Association, Kotler mengatakan bahwa label merupakan nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari keseluruhannya yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari penjual atau sekelompok penjual, agar dapat dibedakan dari kompetitornya. Kata dosen mata kuliah marketing saya, Joko Kuswanto, MT, kekuatan label itu sangat berpengaruh dan mampu menyetir mindset orang lain.

Terlepas dari itu semua, label CAK bukanlah sembarang label. Banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai tersebut seharusnya tertanam dalam hati sanubari setiap sivitas akademika ITS pada umumnya. Tidak hanya mahasiswa, dosen pun seharusnya meresapi dalam-dalam makna CAK sesungguhnya, sehingga mampu menjadi teladan yang baik untuk mahasiswanya. Beberapa nilai CAK yang saya ambil dari Deskripsi Model Pendidikan Karakter Bangsa di ITS diantaranya adalah :

1. Etika dan Intregitas
Dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, beragama, maupun dalam menjalankan profesinya, Seorang yang cerdas-amanah-kreatif selalu berpegang teguh pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, negara, dan agama. Marilah berusaha menjaga amanah ini supaya jangan sampai label cak menjadi negatif karena etika dan ulah minoritas.

2. Kreativitas dan Inovasi
Mahasiswa yang kreatif tentunya selalu mencari ide-ide segar yang mampu menghasilkan inovasi dalam mengerjakan tugas dan menjalankan perannya dengan baik.

3. Ekselensi
Dengan ekselensi, seseorang akan berusaha secara maksimal untuk mencapai hasil yang sempurna. Walaupun kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, namun sebagai makhluk hendaknya selalu berusaha yang terbaik dalam setiap aksinya.

4. Kepemimpinan yang kuat
Kepemimpinan yang kuat akan menunjukkan prilaku yang visioner, kreatif, inovatif, pekerja keras, berani melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu, mereka juga harus bertanggungjawab dengan segala tindakannya.

5. Sinergi
Mampu bekerjasama untuk dapat memanfaatkan semaksimal mungkin potensi yang dimiliki.

6. Kebersamaan dan tanggung jawab sosial
Mampu menjaga kerukunan dan peduli terhadap masyarakat sekitar. Sebuah tanggung jawab sosial yang cukup berat untuk seorang berlabel CAK. Karena mereka akan dituntut menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya.

Mungkin masih banyak lagi nilai yang terkandung di dalam tiga kata sederhana itu. Dengan jargon CAK, sivitas akademika ITS diharapkan mempunyai karakter yang amanah dalam menjalankan tugasnya, mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sekitar. Dan yang pasti, hendaknya memunyai mindset dan tindakan yang cerdas dan kreatif.

Pernah saya berbincang dengan seorang dosen TKK jurusan saya. Saya terkejut mendengar fakta bahwa setiap mahasiswa ITS (dan perguruan tinggi negeri pada umumnya) itu mendapat subsidi sampai Rp 20.000.000,- per tahun. Itu bukanlah angka yang kecil, apalagi bagi saya yang notabenenya rakyat jelata yang setiap hari makan seadanya saja.

Sungguh bukanlah tergolong orang yang pandai bersyukur apabila kita tidak mengoptimalkan semua nikmat itu. Karena cara terbaik untuk mensyukuri nikmat adalah dengan mengoptimalkannya sesuai dengan batas maksimal kemampuan kita. Dengan terus berkreasi, berinovasi, berprestasi, dan berkarya di bidangnya masing-masing.

Ketika saya bertemu beberapa senior yang belum lulus lebih dari waktu normal yang ditentukan, ada rasa seneng dan senep. Senang? ya, bangga bagi mereka yang belum bisa lulus dari target waktu standar karena alasan logis dan membanggakan. Di antaranya mungkin cuti karena harus bekerja dan membantu orang tua. Beberapa mungkin masih bergelut dalam organisasi mahasiswa. Bangga bagi mereka yang mampu menebar benih positif di kampus tercinta.

Senep? ya, senep bagi mereka yang belum menyadari bahwa subsidi Rp 20.000.000,- itu bisa lebih bermanfaat bagi orang lain di luar sana. Jutaan lulusan SMA yang ngebet masuk perguruan tinggi itu bersaing habis-habisan. Tapi orang-orang yang (maaf) kurang amanah ini tetap bersikukuh tanpa keperluan penting di kampus. Semoga kita tidak termasuk bagian di dalam golongan kedua. Amin !




***
Berbicara tentang aplikasi Cerdas Amanah Kreatif, mahasiswa ITS sudah cukup untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan kampus. Mereka punya potensi untuk berkarya. Mereka punya inovasi untuk berbangga. Sebut saja Sapu Angin yang mampu menundukkan kepala universitas-universitas terbaik se-Asia. Atau tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritim Challenge yang siap berlaga di Canada. Semua itu tidak terlepas dari usaha kita, arek ITS, cak!

Sampai penulis mempublikasikan tulisan ini, rentetan prestasi pun terus mengharumkan nama ITS baik di kanca lokal maupun internasional. Mulai dari kemenangan tim UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) ITS yang menggondol emas di Korea, sampai UKM keilmiahan yang mendapat juara keilmiahan di Universitas Padjajaran. Dan tentunya masih banyak lagi prestasi yang tidak mungkin disebutkan satu-satu.

Sebagai bagian dari mahasiswa yang berlabel CAK, saya pun bertanya pada diri pribadi, “Apakah kita sudah mampu mengaplikasikan CAK dalam kehidupan sehari-hari?,” pertanyaan singkat dan berat. Saya mungkin belum optimal dalam apikasi CAK. Penulis sama seperti pembaca, seorang pembelajar yang terus berusaha menemukan pola untuk mengaplikasikan CAK dalam bidangnya. Mari kita semua berusaha seoptimal mungkin untuk mencapainya. Demi almamater, bangsa, dan negara. Untuk mewujudkan Indonesia emas yang bermartabat di masa depan.
Semoga Bermanfaat !

Hanif Azhar
Mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri
Tulisan ini terinspirasi dari Sarasehan Pendidikan Karakter Bangsa di ITS, Selasa (30/11)

Categories:

0 comments:

Post a Comment