July 5, 2011

Posted by Hanif Azhar Posted on 2:17 PM | No comments

SNMPTN, Ajang Adu Gengsi Akademisi Masa Kini


INTAN tetaplah intan walau dimuntahkan dari mulut anjing jalang. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan. Manfaatnya tak kan pernah berkurang sekali pun berasal dari menara gading atau kolong jembatan.

Ibarat sebuah kasta, jika Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah golongan utama, maka Perguruan Tinggi Swasta (PTS) setingkat di bawahnya. Ibarat sebuah keluarga, jika PTN adalah anak kesayangan orangtua bisa jadi, PTS merupakan anak angkat yang selalu menjadi nomor dua.

Ini fakta kawan. Realita nyata keadaan pendidikan negara kita, Indonesia. Klasifikasi perguruan tinggi yang diawali dari persepsi, semakin lama semakin menjadi-jadi. Tanpa disadari, sebuah tembok gaib berdiri kokoh. Tembok pemisah antara si pintar dan si bodoh, sampai perbandingan rumah idaman dan tempat buangan.

Diskriminasi antara PTN dan PTS ini sudah menjadi standar baru dalam ajang adu gengsi. Tidak sedikit obrolan ibu-ibu dalam arisan membangga-banggakan anaknya yang lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dan tidak jarang pula para pemuda yang ‘kurang beruntung’ dalam SNMPTN, mulai terkikis tingkat kepercayaandirinya. Bahkan yang paling parah, sampai ada yang kehilangan nafsu hidupnya.

Terkadang, penulis galau bukan karena memikirkan soal diterima atau tidak diterimanya para peserta di PTN. Tapi lebih ditekankan pada kecenderungan mereka untuk masuk institusi negeri. “Pokoknya gue harus sekolah negeri, entah bagaimana caranya,” sebuah pemaksaan nyata di depan mata.

Pemaksaan ini bak efek domino. Ketika sang anak mulai berpikir kesana, yang resah bukan hanya dia, tapi juga orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Ketika mereka dinyatakan tidak lulus SNMPTN, mereka akan mati-matian untuk mengikuti seleksi gelombang berikutnya. Tak peduli berapa ratus juta rupiah yang harus melayang. Tak peduli berapa hektare sawah, bahkan rumah, yang akan hilang. Pokoknya mereka mendapat kepuasan yang menurutnya mutlak sebuah kebenaran.

Ada yang mengganjal kawan. Entah itu berasal dari salah asuhan orangtua, ataupun lembaga pendidikan. Sebuah sistem gaib yang membuat mindset anak-anak untuk tumbuh menjadi manja dan pemaksa. Mereka tidak sadar, atau bahkan tidak mau tahu kesulitan orang tua. Di lain pihak, lembaga pendidikan malah berlomba-lomba menjual dirinya. Sebuah sistem pelemah citra PTN yang berkualitas dan lebih murah dari institusi swasta.

Kamis (30/6/2011) lalu, ratusan ribu peserta SNMPTN menantikan hasil ujian mereka. Proses ini baru saja berakhir. Sebanyak 118.233 dari total 540.953 peserta SNMPTN berhasil lolos menjadi salah satu calon mahasiswa dari 60 PTN yang tersebar di seluruh Indonesia.

Apabila mayoritas peserta yang tidak lolos SNMPTN, yang berjumlah lebih dari 420 ribu, itu berpikiran seragam, maka PTS hanya akan menjadi pilihan kedua. Atau bahkan tempat persinggahan untuk mengikuti tes setahun berikutnya. Dan ini bagaikan lingkaran setan, terus berputar tiap tahunnya. Otomatis, jumlah peserta yang kurang beruntung akan semakin menggembung. Ironis.

Salah satu upaya nyata yang bisa dilakukan adalah mem-branding ulang PTS. Bagaimana caranya supaya citra PTS tidak jatuh, bahkan jomplang, apabila disandingkan dengan PTN? Dan ini tidak hanya PR pemerintah dan institusi pendidikan, tapi juga tugas orangtua. Tentunya juga diimbangi dengan peningkatan kualitas PTS.

PTN dan PTS bukanlah permasalahan inti dalam pendidikan negeri ini. Permasalahan berupa kupasan kulit yang terlalu dibesar-besarkan hendaknya kita buang jauh-jauh. Jika proses mendidik diibaratkan memasak nasi, kita tidak harus memakai rice cooker dan kompor LPG kok. Kita bisa memakai kompor minyak gas manual, atau bahkan tungku kayu bakar. Untuk menghasilkan nasi yang berkualitas, yang harus diperhatikan tidak sekedar alat masak saja. Tetapi juga bahan (beras) dan proses memasak yang sesuai dengan porsinya.

juga pernah dipublish di okezone.com
Categories:

0 comments:

Post a Comment