jpg

September 8, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 5:45 AM | No comments

Serial Haji Millenial: Berhaji dari UK


“Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, tapi Allah akan memampukan orang-orang yang terpanggil untuk berkunjung ke Baitullah”
Bismillah, banyak jalan menuju Roma. Begitu pula dalam berhaji, banyak jalan menuju tanah suci. Pasti pembaca tak asing lagi dengan informasi berhaji dari dalam negeri butuh perjuangan ekstra. Sebagai negara Islam terbesar di dunia dengan perekonomian yang konsisten merangkak naik, jumlah peminat haji terus meningkat. Data yang saya dapatkan bagi calon jamaah haji regular yang mendaftarkan diri di tahun 2017 harus membayar uang muka 25 juta dengan masa tunggu sekitar 20 tahun. Sedangkan untuk haji plus (non-kuota) biaya berkisar mulai USD 10.500-25.000 dengan masa tunggu sekitar 3-5 tahun. FYI, Jamaah haji regular 2017 sudah mendaftar 8-9 tahun dengan biaya berkisar 37-40 juta. Luar biasa bukan? Padahal kuota jamaah Indonesia mencapai 210.000 orang. Jumlah ini merupakan peringkat pertama quota negara yang mencapai 10% dari seluruh total Jemaah haji di dunia lho!
            Dari data tersebut bisa ditarik kesimpulan semakin lama menunda pendaftaran haji dari Indonesia, semakin lama pula masa tunggunya. Namun, tentu ceritanya akan berbeda apabila kita berhaji dari negara-negara dengan jumlah muslim minoritas, Britania Raya misalnya! Saya pribadi sudah merencanakan setahun silam untuk melaksanakan perjalanan ke tanah suci dari luar negeri. Berikut ini akan saya bagikan review pribadi saya terkait haji dari UK melalui travel haji, bukan haji LUNEG dari kuota KBRI. Setidaknya sepuluh hal yang patut dipertimbangkan mengapa harus berhaji lewat UK sebagai berikut!

Tidak Ada Masa Tunggu
Benar sekali, anda tidak salah baca. Tidak ada masa tunggu lho! walaupun jumlahnya terus merangkak naik, Muslim di Britania masih tergolong minoritas. Info dari Brother Manchester Hajj*, kuota haji UK tidak pernah penuh. Padahal jumlahnya hanya beberapa ribu doang! Tidak sampai ratusan ribu seperti Indonesia. Jumlah permintaan lebih kecil dari quota yang disediakan, otomatis calon jamaah tidak mengenal masa tunggu. Pengalaman pribadi mendaftar bulan Mei dan berangkat Agustus di tahun yang sama.

Biaya dan Durasi Haji Bervariasi
Rentang biaya berhaji via UK berkisar antara £3,500 – £6,000 (atau lebih). Durasinya pun bervariasi sesuai kebutuhan; mulai dari 2, 3, sampai 4 minggu. Saya memakai Manchester Hajj dengan biaya £4,190 (setara IDR 75 juta). Itu sudah termasuk return ticket UK-SA, Visa Haji, Akomodasi, semuanya! Hotel bintang 3 berjarak 7 menit dari Masjidil Haram di Mekkah, serta 5 menit dari Masjid Nabawi di Madina. Manchester Hajj termasuk kelas medium.

Proses Administrasi Kilat!
Saya masih ingat, pengumpulan berkas terakhir adalah awal Agustus. Kemudian proses VISA, tiket, dll kurang dari seminggu doang! Kilat deh pokoknya!

Prestis! Developed Country People Always Get Priority
            Hal ini hanya kesimpulan dari pengamatan saya selama berhaji dari UK. bahwa Britania Raya dan negara superpower lainnya mendapat prioritas. Petugas haji dan imigrasi menaruh respect lebih ketika saya memakai nametag Manchester Hajj walaupun penampakan ASEAN. Pernah beberapa kali saya membawa tas besar masuk ke masjidil haram dan tempat tawaf, tapi tidak pernah diperiksa petugas. Padahal Jemaah lainnya selalu diperiksa kalau membawa tas agak besar. Pernah juga diijinkan masuk melewati gate yang sudah ditutup, padahal yang lain dilarang.

Budaya Positif Negara Maju Memperlancar Ibadah
            Salah satu hal tak terduga berhaji lewat UK adalah pengaruh budaya positif masyarakat terhadap kenyamanan proses berhaji. Misalnya; budaya mengantri, respect terhadap orang lain, no spitting, no littering, dll. Ketika ke kamar mandi, jamaah berbaris rapi, mengantri. Kamar mandi bersih, membuang sampah di tempatnya. Tidak ada yang meludah sembarangan. Sehingga camp Eropa, Australia dan Amerika di Mina dan Arafah terasa sangat nyaman.
            Pemandangan ini kontras dengan camp Indonesia. Saya mendapat cerita dari sahabat Jemaah haji regular Indonesia, saling berebut kamar mandi dan tidak mau mengantri sampai adu mulut menjadi pemandangan sehari-hari. Belum lagi kondisi WC yang jorok dan sampah berserakan di mana-mana. Meludah seenaknya. Bahkan, tidak jarang buang air kecil di jalan (dengan ditutupi kardus saja). Padahal ini bisa jadi sarang penyakit lho! Miris melihatnya. Semoga budaya positif itu dapat diadopsi masyarakat Indonesia secara umum.

Ilmu dan Pengalaman Variatif
            Menjadi bagian dari masyarakat dunia berarti harus siap menghadapi segala perbedaan. Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan sendiri proses dan pelaksanaan dari berbagai mahzab dalam satu camp. Misal, ada mahzab yang menyatakan bahwa Thawaf Ifadhah dan Sai itu bisa dilakukan sebelum wukuf di Arafah, sehingga mempermudah jamaah untuk bermalam di Mina ketika hari tasyrik. Sedangkan mayoritas penduduk Indonesia menganut mahzab thawaf ifadhah dan Sai harus berurutan dilakukan setelah melempar jumrotul aqobah dan tahalaul awal 10 Dzulhijah. Alhasil, setiap hari pun menjadi ajang diskusi dan pembelajaran ilmu baru secara langsung dari penganutnya. Sungguh menarik!

Jaringan global
            Dengan berhaji lewat UK, tentu menambah jaringan global. Saya bertemu banyak sosok inspiratif dalam kelompok, baik itu jamaah UK berkebangsaan Pakistan, Arab, UK, sampai Indonesia sendiri.

Tidak ada Biaya Tambahan (Ratiban)
            Biaya syukuran sebelum berangkat dan sepulang ibadah di Indonesia (baca, ratiban) seringkali jauh lebih besar dari biaya haji. Well, saya tidak beropini apapun tentang budaya ini lho ya! Hanya mengaitkan dengan pengeluaran tambahan. Apabila berangkat haji dari luar negeri, tidak banyak orang yang harus dipamiti. Kalaupun syukuran, paling hanya mengundang makan sederhana. Selain itu, budaya potluck juga cukup meringankan pengeluaran. Pengalaman pribadi, saya dibuatkan syukuran kecil-kecilan dua kali, oleh Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Greater Glasgow. Speechless!

Baiklah, sudah cukup ya enak-enaknya. Setelah ini akan saya bahas beberapa hal yang nggak enak deh, biar berimbang. Bagi saya ada dua sisi minor:
Proaktif Mencari Informasi dan Mandiri Ketika Berhaji
Jangan berharap akan ada bimbingan manasik haji ala-ala KBIH di Indonesia! Perbedaan mahzab dan tuntunan berhaji membuat kami harus aktif dan kreatif dalam menhimpun informasi. Hanya ada sekali manasik haji di London. Tidak semua peserta dapat hadir karna unzur syar’i. Saya, misalnya, dari Glasgow (Scotland) ke London harus naik bus sekitar 7 jam. Untuk menanggulanginya, grup jamaah haji Indonesia mengadakan manasik online via Skype. Pemateri ustadz yang sudah pernah berhaji dari UK. Alhamdulillah!
Ketika pelaksanaan berhaji kami harus lebih mandiri dalam berbagai hal. Perbedaan mahzab dan pelaksanaan ibadah membuat ketua rombongan membebaskan jemaahnya dalam melaksanakan aktivitas sesuai keyakinan yang dipegangnya. Misalnya, ada yang melaksanakan thawaf Ifadha pada 10 Dzulhijjah setelah melempar jumroh Aqobah, ada yang memilih pada hari tasyrik. Ada juga yang memilih melempar jumrah setelah dzuhur sesuai Sunnah, ada pula yang memilih malam untuk menghindari panas, bahkan pagi hari untuk menghindari keramaian. Semuanya dikembalikan kepada keyakinan individu.

No Pecel, No Rendang, No Indonesian Food
            Say goodbye to Indonesian food. Jangan pernah bermimpi travel haji dari UK akan menyediakan makanan Indonesia. FYI, mayoritas peserta haji saya adalah muslim british keterunan Pakistan, sehingga menu makanannya pun Pakistani (ketika di hotel). Ketika berada di camp (Mina dan Arafah), makanan yang disediakan pun ala-ala Eropa dan Amerika.
            Tapi tenang guys, di Mekkah dan Madina banyak toko Indonesia kok. Kita dapat beli sendiri makanan Indonesia semacam sayur bening, tempe orek, rawon, soto, bakso, rending, nasi padang (sebutin aja semuanya Nif!) Hahahahaa. Namun makanan Indonesia cenderung lebih mahal. Sebagai perbandingan, ayam goreng Al-Baik (McD ala Arab) 15 SR (Saudi Real) sudah dapat lho! Padahal satu porsi masakan Indonesia, rawon misalnya sampai 40 SR. So, perbanyak uang saku ya!

Demikian review saya terkait berhaji lewat UK! Kesimpulannya sih, banyak enaknya daripada nggak enaknya kalau berhaji via UK. Mulai dari tidak ada masa tunggu, biaya dan durasi ibadah sesuai kebutuhan dan kemampuan, jaringan global, banyak belajar, dan masih banyak lagi. Sayangnya, untuk dapat berhaji dari UK kita harus punya British Resident Permit (BRP). Setidaknya kita punya ijin tinggal minimal 2-5 tahun (untuk pelajar atau pekerja), bukan VISA tourist yang hanya beberapa bulan saja. Tertarik? Semoga semua muslim (khususnya pembaca) yang berniat memenuhi panggilan Allah dimudahkan jalan-Nya menuju Baitullah, Amin! Terimakasih!

Medina, 15 Dzulhijjah 1438 H
Ditulis sambil mendengarkan lagunya Irfan Makki “Waiting for the Call”

Note:

*) Manchester Hajj: Biro travel yang saya pakai untuk berhaji 1438 H. see more at manchesterhajj.co.uk

September 4, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 6:09 AM | No comments

Serial Haji Millenial: Lima Alasan Kenapa Haji Muda

Pepatah Arab kuno mengatakan bahwa waktu itu seperti pedang. Jika dimanfaatkan dengan baik maka dapat memberikan keuntungan. Namun sebaliknya, apabila kita tak dapat memanfaatkan, maka pedang itu akan melukai kita. Begitu pula dengan masa muda kita, apabila kita tidak memanfaatkan dengan baik, maka kita akan merugi belakangan. Begitu pentingnya pemanfaatan waktu ketika masih muda, sampai Islam selalu mewanti-wanti lima perkara sebelum datangnya lima, salah satunya adalah masa muda sebelum masa tua.
Sebagai seorang pemimpi, saya sudah berimajinasi melaksanakan ibadah haji sejak tahun 2012, ketika masih menjadi santri asrama Rumah Kepemimpinan (RK). Tentu, materi visualisasi mimpi sangat mempengaruhi pola pikir saya sampai sekarang. Kalau kata Walt Disney, if you can dream it, you can reach it! Itulah kekuatan mimpi. The future belongs to those who believe in their dreams!
Banyak alasan yang membuat saya ingin mencapai target mimpi haji muda. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan untuk memenuhi panggilannya di tahun 2017 sehingga alasan-alasan tersebut akhirnya terkonfirmasi. Bagi saya, setidaknya ada Lima alasan utama kenapa kita harus mengupayakan berhaji muda secepatnya.
Misteri Masa Depan, Siapa Tahu?
Pepatah bijak mengatakan “If yesterday is history, tomorrow is mystery, then today is a gift. That’s why we call it present”. Allah sungguh maha baik. Berkat nikmat-Nya, saat ini kita masih sehat wal afiat, dapat bernafas dan browsing internet, serta membaca artikel ini. Esok hari adalah misteri, siapa yang tahu? Walaupun hari ini kita sehat bugar, siapa tahu besok kita sudah dipanggil oleh Allah melalui kejadian ga disangka-sangka, terpleset kulit pisang di depan pintu rumah misalnya. Who knows? Bisa jadi sekarang kita bersemangat untuk mengerjakan haji muda, siapa tau beberapa tahun ke depan Allah mencabut nikmat tersebut? Sungguh, misteri esok hari tak akan pernah ada yang mengetahui kecuali Allah. So, yuk persiapkan haji mumpung masih bisa! Apalagi yang sudah mampu (secara fisik dan finansial).
Aktivitas Haji Butuh Kekuatan Fisik & Mental
Apakah teman-teman pernah membayangkan betapa beratnya (secara fisik) pelaksanaan ibadah haji? Coba deh, sekali-kali iseng bukalah Youtube tentang aktivitas haji, dijamin bikin merinding. Saya kasih pandangan deh. Rangkaian Ibadah haji itu sekitar 6 hari penuh dengan perjuangan keringat. Mulai dari mabit di Mina pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), wukuf di Arafah kemudian bermalam di Muzdalifah (9 Dzulhijjah), keesokan harinya kembali ke Mina untuk jumrotul aqobah (10 Dzulhijjah). Kemudian, masih harus bermalam di Mina pada hari Tasyrik, serta kegiatan lain seperti Thawaf Ifadhah, Sai, dan Thawaf Wada’.
            Seriusan lho, ga akan pernah kebayang capeknya kalau tidak melaksanakan langsung. Sekedar informasi, setiap selesai sholat lima waktu, Imam masjidil haram selalu memimpin sholat jenazah. Iseng-iseng saya mengambil posisi sholat di dekat  tempat jenazah, tidak kurang dari lima (bahkan belasan) jenazah setiap sholat. Kalau diakumulasi, sehari bisa puluhan jamaah haji meninggal lho! Tim haji saya dari UK yang usianya tergolong muda, lebih dari 50% tumbang, sakit! Gemuruh batuk sahut-menyahut bak orchestra operet selalu terdengar dalam heningnya sholat 5 waktu di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Masih berfikir berhaji menunggu renta?
Kompleksitas Haji Butuh Kecerdasan Otak Lho!
            Serius, Ilmu Haji itu kompleks banget lho! Saya masih ingat pelajaran Fiqih ketika masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara dengan SD), memang cukup rumit dan butuh kapasitas otak yang mumpuni. Pelajaran tentang syarat dan rukun serta amalan-amalan yang luar biasa holistic. Terkait dengan haji muda, coba kita berfikir sejenak. Kinerja otak manusia tentunya semakin tua akan mengalami penyusutan kapasitas dalam kemampuan beroprasi. Jadi, semakin tua, semakin tidak berfungsi dengan baik pula otak kita. Ketika di lapangan, saya sempat berdiskusi dengan beberapa tim pembimbing manasik haji dari Indonesia. Mayoritas jamaah Indonesia tergolong berumur. Bahkan, walaupun sudah rutin mengadakan manasik haji, masih banyak yang belum faham ketika terjun di lapangan. Oleh sebab itu KBIH sangat dibutuhkan. Parahnya, masih banyak orang yang belum faham itu tidak sadar kalau dirinya masih jauh dari kata faham. Sehingga tipe orang ini beribadah seenaknya sendiri. Padahal menurut pengalaman saya, pelaksanaan ibadah haji akan lebih enak dilaksanakan dalam kelompok kecil beberapa orang. Supaya lebih nyaman ketika thawaf, sai, dll.
Semakin Dini Fokus Berhaji, Semakin Matang Atur Strategi
Sungguh, pengaruh training MHMMD ketika saya menjadi santri Rumah Kepemimpinan beberapa tahun silam masih melekat kuat dalam keseharian. Salah satunya dalam merencanakan rencana yang strategis. Ibarat naik kapal, sampailah sebelum berlayar sebagaimana prinsip suku Bugis. Itulah yang membuat mereka jadi pelaut yang tangguh dan strategis.
Sebagaimana pembuka artikel ini, saya sudah bermimpi ingin berhaji muda sejak tahun 2012. Tentu sudah banyak strategi yang saya fikirkan untuk mencapai salah satu milestone tersebut. Walaupun banyak kendala, tak akan patah semangat karena tekad sudah bulat. Mulai dari biaya yang tak murah, sampai waktu tunggu yang tak sebentar. Ketika masih duduk di bangku kuliah (undergraduate di ITS), saya selalu mencari strategi bagaimana supaya dapat ke tanah suci gratis. Misalnya melalui konferensi pelajar internasional di Timur Tengah atau program pertukaran pemuda. Namun sampai lulus (tahun 2013), target itu belum tercapai. Akhirnya, sambil bekerja sebagai konsultan Jepang (2014) dan dilanjutkan menjadi Pengajar Muda (2015), akhirnya menjelang quarter ketiga 2015 dana sudah terkumpul dan (insyaallah) cukup untuk dipakai umroh. Namun, dua tahun lalu saya masih harus mempersiapkan studi lanjut saya di Inggris dengan modal yang tak sedikit. Walaupun akhirnya dapat beasiswa [LPDP] toh untuk persiapan ke sana butuh dana, mulai dari kursus Bahasa sampai tes IELTS, mengurus berkas-berkas beasiswa dan pendaftaran kampus, serta apply VISA dan asuransi kesehatan di Kedubes Britania Raya. Yah, tabungan semakin menipis saudara-saudara hahahaha! Beruntunglah bagi kalian yang terpanggil dan memang [sudah ditakdirkan] jadi orang mampu dari sononya! Hahahahaa.
Untungnya, Allah benar-benar sesuai prasangka hamba-Nya. Entah bagaimana prosesnya namun saya selalu yakin bahwa semesta akan selalu mendukung apapun keinginan kita. Alhamdulillah, akhirnya berangkat juga 2017! Pastikan kamu juga sudah membulatkan tekad serta mengatur plot kisah ajaibmu ya! Percayalah, Allah pasti memampukan orang-orang yang terpanggil.
Rindu Baitullah, Sebuah Panggilan yang Tak Mengenal Usia
“Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Q.S. Al-Hajj: 27).
Allah pun sudah menjelaskan dalam undangannya dengan gamblang dalam Q.S Al-Hajj ya! Ga ada tuh, saya menemukan satu ayatpun haji harus menunggu tua! Bagi saya, setiap manusia memunyai zona waktunya masing-masing dengan berbagai variable, spiritual journey salah satunya. Mayoritas jamaah haji Indonesia memang yang sudah berumur, tapi apakah itu mau kamu jadikan patokan bahwa berhaji harus nunggu tua? Kalau dari muda uda ngebet berhaji, terus mau gimana? Lagian, kalau misal kita berkesempatan berhaji sejak dini, kenapa ditunda? Alhamdulillah, circle pertemanan saya banyak sekali sudah ngebet berhaji sejak masih kuliah. Bahkan sudah menyiapkan tabungan mulai dari sekarang. Bagi saya ini merupakan bukti nyata bahwa panggilan memang tak mengenal usia.

KESIMPULAN
Setiap manusia punya nilai yang mereka pegang sebagai tolak ukur kehidupan. Nilai itu ibarat penggaris dengan berbagai macam variabelnya. Bagi yang memakai penggaris logika, maka akan menjadi budak logika, begitu pula dengan penggaris lainnya; missal budaya, masyarakat dll. Apabila pembaca memakai penggaris dengan tolak ukur agama, ya silahkan pakai penggarismu secara kaffah ya! Sungguh kedudukan seorang pemuda itu benar-benar istimewa dalam Islam. Karena masa muda itu masa yang sempurna dengan kekuatan fisik, mental, dan otak yang paling optimal. Sungguh masa muda itu nikmat yang luar biasa! Oleh karenanya [bagi saya] tidak alasan untuk menunda-nunda melaksanakan panggilan-Nya dan merencanakannya sejak dini. Terkait hasil, apakah nanti akhirnya Allah menghendaki kita berkunjung ke rumah-Nya atau nggak, urusan lain. Setidaknya kita sudah pasang kuda-kuda sejak dini. Itu juga bernilai ibadah lho, menghabiskan masa muda dengan sesuatu amal kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat, sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya (HR at-Tirmidzi No. 2416)

Mecca,
14 Dzulhijjah 1439 H