jpg

May 20, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 8:49 PM | No comments

Siapa Takut Balik Indonesia!

Awal Mei 2017, saya sempat dikejutkan beberapa tulisan viral yang menghebohkan. Salah satunya adalah catatan Petrus Wu, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Sidney, Australia (9/5)*. Ia mengungkapkan “Buat apa kembali ke Indonesia? Meski Indonesia adalah tanah kelahiran sendiri. Di negara ini orang tidak dihargai karena bakat dan kinerjanya, tapi karena suku dan agamanya. Di negara ini, orang benar bisa masuk penjara, hanya karena ada segerombolan preman demo berjilid-jilid atas nama agama. Di negara ini, orang lain boleh menghina agamamu karena agamamu hanya minoritas. Tapi jangan kamu lakukan yang sebaliknya, karena kamu akan berakhir di penjara.” (artikel lengkapnya di sini https://seword.com/politik/ahok-dipenjara-pulang-indonesia/)
Sungguh, saya sangat kecewa, bahkan marah! Cuma segini doang mental lo, Bro? Terlepas dari pandangan politik yang semakin rumit (saya tidak mau berdebat urusan Pilkada di sini ya!) tapi bagi saya pola pikir ini perlu diluruskan! Jika kamu merasa punya masalah, hadapilah! Bukan lari dari kenyataan! Hal ini membuat saya berefleksi:
Apakah dengan studi di luar negeri membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain?
Mentang-mentang studi di luar negeri, apakah membuat kita merasa lebih penting dan dibutuhkan sehingga dieluh-eluhkan untuk pulang?
Apakah Indonesia membutuhkan kita? Atau malah sebaliknya?
Sudahkah kita melihat Indonesia lebih dekat?
Sudahkah kita menyempatkan diri “piknik” ke wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal)?
Sudahkah kita iuran kontribusi untuk ibu pertiwi?
Kalau kata WS Rendra dalam seonggok jagung:
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya??
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata : “disini aku merasa asing dan sepi”
Saya pribadi masih butuh mencicipi micin indomie dengan kenikmatan haqiqi yang hanya ada di nusantara. Walaupun berkesempatan melanjutkan studi di UK, sama sekali tidak membuat perasaan lebih dari teman lain. Lha wong sekolah dari SD sampe kuliah karena beasiswa, duit negara, duit pajak para bapak tukang pentol dan mbok2 penjual sayur keliling. Terus apa yang mau disombongkan? Alhamdulillah, pengalaman saya blusukan ke pelosok ketika menjadi supervisor program jawapos pro otonomi award serta menjadi volunter di Indonesia Mengajar semakin membuka lebar mata saya untuk senantiasa berkontribusi. Well, mungkin ada beberapa temen yang beropini kontribusi kan bisa dimana saja, tidak harus kembali ke Indonesia? Benar sekali! semua kembali lagi ke niat individu. Saya tidak mau berdebat tentang hal ini, silahkan berdiskusi dengan hati nurani. Apabila memang tidak pulang karena berniat kontribusi dari luar, jalankan secara optimal posisi anda. poin saya di sini adalah kekecewaan saya terhadap pola pikir takut pulang ke Indonesia karena kesombongan itu sendiri.
Untungnya, saya tidak menemukan kawan-kawan pelajar Indonesia di UK (khususnya di Greater Glasgow) dengan model pemikiran seperti saudara Petrus Wu! Malahan, saya mendapat banyak inspirasi dari berbagai mimpi kawan-kawan saya di sini. “Kalau uda balik ke Indonesia nanti, saya ingin membuat pusat kesehatan mental. Saya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa gangguan mental itu sama vitalnya dengan penyakit fisik!” Ujar seorang sahabat yang sedang study Global Mental Health. Saya juga memunyai teman yang sangat semangat untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya beretika terhadap hewan. Dia ingin membuat kafe di Indonesia dengan konsep peduli fauna. Keren kan? Ada juga sahabat saya yang ingin terjun (lagi) ke dunia NGO sepulang studi ke Indonesia. Dia ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sex usia dini lewat profesional NGO. Banyak juga yang ingin masuk pemerintahan, badan penelitian, dan institusi pendidikan. Sungguh, optimisme itu ada dimana-mana! Pola pikir saudara Petrus Wu itu terbukti tidak merepresentasikan mindset para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, setidaknya yang saya kenal di UK.
Semangat berkontribusi itu tidak hanya sekedar wacana yang akan dilaksanakan nanti dan nanti. Hari ini, Persatuan Pelajar Indonesia Greater Glasgow sukses mempromosikan kebudayan nasional lewat pertunjukan drama musical Shallot & Garlic dalam Indonesian Cultural Day 2017! Dengan mata kepala saya sendiri, saya menyaksikan kekompakan dan kemauan teman-teman saya untuk mengenalkan Indonesia di mancanegara. Di tengah hujan badai, ujian, essay, dan assignments yang tak ada hentinya, para mahasiswa ini meluangkan waktu latihan setidaknya 5-10 jam setiap minggu selama dua bulan untuk persiapan pementasan. Banyak diantaranya mengaku ini pengalaman pertamanya terlibat dalam pertunjukan seni di tengah ratusan penonton, apalagi audiens global. Musikalisasi drama, paduan suara, tari jaipong, tari kecak, tari saman, permainan angklung, pertunjukan gamelan, dll melebur jadi satu untuk menghipnotis penonton! Ini salah satu bukti nyata bahwa kontribusi mahasiswa untuk Indonesia itu nyata! ICD 2017, KETJE BADAY!

Masihkah memandang mahasiswa cemen ga mau pulang ke Indonesia hanya karena takut ga mendapat penghargaan?

Selamat berefleksi,
Selamat hari kebangkitan nasional!
Hanif Azhar, pecinta micin Indomie
Glasgow, 20 Mei 2017

May 7, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 6:00 PM | No comments

Membudayakan Literasi Sejak Dini

Di suatu sore yang cerah, sambil menikmati tumpukan hidangan mewah, dua bocah SD bersaudara mendatangi saya, Umar (11 tahun) dan Azzam (7 tahun). Percakapan singkat inspiratif pun berlangsung:
Umar: “Kak, saya mau presentasi projek sekolah saya” (malu-malu sambil sesekali melirik ibunya)
Saya: “Projek apa Umar?” (saya menanggapi penuh antusias)
Umar: “Jadi, dalam waktu 7 minggu ke depan, saya harus setidaknya membaca 10 buku bacaan dengan genre bebas sesuai selera saya. Boleh tentang sains maupun fiksi. Ini adalah reading challenge dari sekolah.”
Saya: “Wow, keren sekali Umar! Terus?”
Umar: “Setelah membaca, saya harus mempresentasikan apa yang saya baca kepada orang lain supaya mereka tahu pesannya dan saya lebih memahami isinya. Setelah itu, saya berharap kakak mau menjadi donatur social project saya dengan mendonasikan uang £ 0.30 untuk setiap buku yang saya baca. Kalau kakak suka projek saya”
Saya: “Kalau boleh tahu, project apa Umar?”
Umar: “Ini project sekolah. Kami ingin menambah koleksi buku bacaan dalam perpustakaan kami. Rencananya, dalam 7 minggu, sekolah kami menargetkan mendapatkan donasi uang £1,000 dari project reading challenge ini.”
Saya: “Umar sudah membaca berapa buku sejak proyek ini berjalan?”
Umar: “Ini proyek baru Kak. Umar sudah membaca satu buku fiksi tentang detektif setebal 400an halaman. Adik saya, Azzam, juga sudah menamatkan satu buku horror 100 halaman. Kami diperbolehkan membaca bacaan sesuai dengan kelas dan minat kami.”
Saya: (ngelus dada, saya baca jurnal 20 halaman saja paling banyak 2 jurnal dalam sehari)
Kemudian Umar menceritakan isi buku detektif 400 halaman yang dibacanya dalam 5 hari. Azzam pun menceritakan isi fiksi horornya dengan antusias. Setelah mereka bercerita, saya mendonasikan £5 untuk projek mereka tanpa pikir panjang.
Umar: “Kak, apa tidak kebanyakan? £ 0.10 per buku saja itu sudah banyak. Kalau £5 berapa buku yang harus saya baca nanti?”
Saya: “Ya gapapa. Saya kan deposit donasi uang sekian, jadi Umar dan Azzam harus membaca 10 buku dalam waktu 7 minggu ke depan,”
Umar: “Okay Kak! Siap! Nanti akan saya informasikan lagi, seandainya dalam waktu yang ditentukan saya tidak dapat memenuhi target, maka saya akan mengembalikan donasinya.”
(kemudian kami lanjutkan makan hidangan berjamaah. Oia, obrolan tadi semuanya dalam Bahasa Inggris lho. FYI, Umar dan Azzam ini anak dari pelajar Indonesia yang sedang melanjutkan PhD di Glasgow. Mereka sudah tinggal di UK hampir 4 tahun, jadi uda seperti native ngomongnya, bikin minder hahaha)
***
Obrolan singkat dengan duo bocil bersaudara ini membuat saya berkontemplasi terhadap pola pendidikan dasar yang selama ini saya dapatkan. Ternyata, banyak cara kreatif yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini ya! Mendadak saya ingat sebuah pepata lama, bisa karena telah terbiasa, dan terbiasa karena terpaksa! Bisa jadi, awalnya mereka terpaksa melakukan hal tersebut. Tapi, Hey! Saya melihat ekspresi bahagia mereka menikmati setiap proses tugas yang diberikan sekolah. Bahkan, mereka sadar, pada akhirnya membaca akan bermanfaat buat diri mereka sendiri. Toh, donasi juga digunakan untuk proyek social. Hey… bukankah itu malah pembelajaran rangkap? Bahkan, saya pun jadi berefleksi. Selain membiasakan mereka untuk mencintai budaya literasi sejak dini, setidaknya mereka belajar tujuh poin perkembangan diri:

KOMUNIKASI

Setelah membaca, mereka dituntut untuk mempresentasikan buku yang dibaca. Mereka belajar berkomunikasi dengan orang lain. Mereka belajar menuangkan fikiran mereka sehingga pesan tersampaikan. Bayangin deh, anak 7 tahun uda mampu jadi pemateri bedah buku -_- saya dulu 7 tahun paling main kelereng doang.

PERSUASI

Nah! Setelah mempresentasikan bacaan, mereka mencoba mempengaruhi kita untuk menjadi donator dalam proyek social mereka! Keren banget kan! Bocah 11 tahun udah mampu bernegosiasi dengan orang lain. Lha saya dulu umur 11 tahun masih rebutan tazoz pokemon dalam bungkusan Chicky.

PERCAYA DIRI 

Tidak diragukan lagi, kepercayaan diri mereka pun bakal meningkat. Lha wong dari usia dini uda disuruh presentasi dan persuasi sana sini. Walaupun, dalam kasus Umar dan Azzam, mereka masih agak malu di awal. Tapi gapapa, namanya juga belajar!

JUJUR

Mereka mengatakan dari awal bahwa hasil donasi akan diberikan untu social proyek bersama di sekolah. Mereka juga jujur, kalau donasi pun seikhlasnya.

TANGGUNG JAWAB

Ketika saya memberikan £5 saya meminta mereka untuk membaca 10 buku, dan mereka menyanggupi. Bahkan, mereka bilang bakal ngasih informasi lagi nanti kalau sudah selesai membaca. Kurang amanah gimana coba?

PEKA ISU SOSIAL

Donasi yang mereka kumpulkan digunakan untuk proyek social bersama untuk mengatasi isu-isu social di sekitar mereka. Kali ini isu perluasan koleksi buku di perpustakaan. Mereka juga sudah beberapa kali membuat proyek untuk penghijauan, kebersihan, dll.

MANAJEMEN PROYEK

Bayangin aja, mereka ditantang membaca 10 buku dalam 7 minggu dengan ketebalan sekitar 400-500 setiap buku. Mereka harus melakukan tantangan ini di tengah aktivitas mereka yang lain. Mereka masih harus sekolah, main bola, belajar ngaji dll. Kurang ketje apa coba, dari SD sudah bagus manajemen waktunya.
Selain proyek reading challenge, sekolah juga secara teratur membuat siswanya melakukan proyek setidaknya satu sampai dua kali dalam satu semester. Terkadang proyek penghijauan dengan menanam pohon, bahkan pernah proyek menulis buku tentang sejarah Scotland dan imajinasi mereka. catet ya! MENULIS BUKU!!! *tambah minder kejer-kejer*, bocah SD uda dibiasain projek positif seperti ini, gimana besarnya coba?

KESIMPULAN:

Membiasakan anak usia dini untuk melakukan proyek social baik secara personal maupun komunal sangat membantu mereka untuk berkembang. Hal itu dapat saya lihat dengan jelas kedewasaan Umar dan azzam di usia sekarang. Bisa jadi, awalnya mereka terpaksa, namun pada akhirnya jadi kebiasaan bagus. Terimakasih untuk inspirasinya hari ini.
“we are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit” (Aristotle)
Silahkan dibagikan dengan fitur "SHARE" apabila menemukan manfaat dari tulisan ini, tidak perlu ijin. Terimakasih!

February 7, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 2:06 AM | No comments

Siapa Takut Jadi Awardee LPDP?

Kabar gembira untuk kita semua! LPDP, sudah buka portalnya!!
Studi lanjut bukan sekedar asa! Cetak SDM untuk Indonesia!!!

Yeay! Akhirnya beasiswa LPDP resmi dibuka lagi pada 7 Februari 2017! Sebuah kesempatan emas bagi para pemburu beasiswa untuk melanjutkan studi. Kabar buruknya, proses seleksi LPDP 2017 bakal jadi super ketat. Bahkan Pak Eko Prasetyo, Dirut LPDP, memperkirakan pendaftar LPDP tahun ini akan mencapai lima kali lipat dari tahun sebelumnya (Detik Finance). Hal ini dipicu oleh pamor LPDP yang semakin semakin prestis dan kesempatan pendaftaran hanya dibuka dua kali dalam setahun, masing-masing sekali untuk pelamar dalam negeri dan luar negeri (sebelumnya empat kali dalam setahun). Tahun ini LPDP berencana memberikan 5000 beasiswa dengan pendaftar lebih dari 300.000 orang (FYI, pendaftar tahun 2016 sudah mencapai 60.000 orang). Kuota keluar negeri juga dibatasi sekitar 40%. Jadi, peluang yang ingin melanjutkan studi abroad adalah 0.006. Semakin tertantang kan? Oleh sebab itu, bagi kalian yang akan mendaftar beasiswa sejuta umat ini, hendaknya mempersiapkan diri dengan matang. Bagi saya, ada beberapa point utama yang perlu diperhatikan selama proses pendaftaran!

#1 Kalibrasi Niat
Niat merupakan sepertiga dari usaha, begitu kata pepatah. Bagi teman-teman yang ingin mendaftar beasiswa LPDP, coba refleksi dulu; cek niat kita, berdialoglah dalam hening, jujurlah pada hati sanubari. Sudah luruskah niat kita? Jangan sampai kita mendaftar LPDP hanya supaya terlihat keren, apalagi korban gaya hudup ala lagu parodinya Awkarin Feat. Young Lex, Kuliah pun gue tetap OK! Lulusan cumlaude dari ITB! Lanjut ambil MBA di UK! Pakai beasiswa LPDP! (Istighfar berjamaah).
Please! Beasiswa ini dari uang rakyat! bukan sebagai pemuas nafsu gaya hidup pemuda kekinian sesaat. Coba kita cek kembali visi besar LPDP, Menjadi lembaga pengelola dana terbaik di tingkat regional untuk mempersiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. berat kan? Menyiapkan pemimpin Indonesia masa depan bro! Sudah siapkah kita mengabdi buat ibu pertiwi? Melanjutkan studi tidak hanya sekedar hura-hura, selfie pamer petualangan ke berbagai negeri. Ini merupakan tugas mulia belajar, menggali ilmu sebanyak mungkin untuk diaplikasikan di Indonesia di masa depan. Sebagaimana pesan Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI dalam acara Welcoming Alumni LPDP 2017, “…it's time for you membayar kembali, tidak dalam bentuk rupiah, tapi mengembangkan diri, mengambil level pendidikan di atas rata-rata dan universitas terbaik di dunia adalah suatu kenikmatan langka”.

#2. IQRO’! Bacalah!
Tahap pertama sebelum kita mendaftar, mohon, bacalah! Semua informasi dasar terkait pendaftaran LPDP sudah lengkap di website resminya. Mulai dari persyaratan, alur proses seleksi, sampai daftar kampus tujuan, sudah dijadikan buku panduan digital yang siap untuk diunduh dan dibaca kapan saja.
Budaya literasi kita memang belum tinggi. Kebanyakan orang lebih suka langsung bertanya tanpa berusaha mencari informasi dulu. Bahkan, tidak sedikit yang masih bertanya, “Kak, persyaratan LPDP itu apa saja?” “Kak, cara daftar LPDP itu bagaimana?” “Kak, TOEFL saya belum sampai persyaratan, bias tetap daftar tidak?” dan pertanyaan-pertanyaan konyol lain yang notabenenya sudah tersedia lengkap di situs resmi LPDP! Kalau tidak percaya, silahkan cek komentar-komentar konyol di fanpage facebook LPDP.
Harapannya, kita semua proaktif berusaha mencari informasi dasar beasiswa LPDP. Apabila ada hal lain yang belum jelas, para awardee sampai customer service LPDP sangan siap untuk menjawab semua pertanyaan kok. Banyak juga tulisan-tulisan di blog dan berbagai social media tentang pengalaman mengejar beasiswa ini. Jadi tenang saja, kita tidak akan pernah kekurangan sumber informasi selama kita mau berusaha. Selain itu, kita juga harus proaktif membuat observasi pribadi terkait persyaratan-persyaratannya, misal Letter of Acceptance dari universitas tujuan. Silahkan kepoin website resminya; cari persyaratan pendaftaran programnya, temukan timeline yang dibutuhkan selama studi, berapa lama durasi perkuliahan, berapa skor TOEFL iBT atau IELTS yang dibutuhkan, apakah diperlukan GRE/GMAT, bagaimana kondisi geografi dan social budaya tempatnya, dan lain sebagainya. Setelah membuat daftar tersebut, silahkan membuat tabel lain untuk kampus alternatif kalian. Cermati programnya, bandingkan kualitasnya, lihat peringkatnya, dan silahkan diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.
Contoh riset tentang kampus impian
Mengapa saya menekankan untuk proaktif dalam mencari informasi? Silahkan teman-teman bayangkan, untuk melanjutkan studi pasca sarjana baik di tingkat master maupun doctor itu kita dituntut untuk proaktif dan berfikir super kritis. Sekedar berbagi cerita pengalaman kuliah master di Britania Raya saja, setiap minggu kita dituntut untuk membaca minimal tiga jurnal internasional setiap pertemuan. Apabila dalam seminggu kita lima mata kuliah, berarti kita harus membaca 12 jurnal dan beberapa chapter buku bacaan. Oia, kita tidak hanya dituntut untuk membaca dan memahami saja, namun juga mengkritisinya. Belum lagi tugas-tugas essai lainnya. Masih ogah-ogahan untuk membaca? Yuk mulai dari sekarang kita pupuk budaya literasinya.

#3. Atur Strategi
Kata Om Alexander Graham bell “Before anything else, preparation is the key of success”. Persiapan adalah segalanya. Tidak ada istilah keberuntungan. Karena sejatinya, keburuntungan adalah kerja keras (persiapan) yang bertemu kesempatan. Oleh sebab itu, Ketika niat kita sudah lurus, informasi yang dikumpulkan cukup mumpuni, yuk segera AKSI dan MENGATUR STRATEGI!
Sekedar cerita, awal tahun baru 2016, saya bersilaturahmi ke rumah sahabat saya awardee LPDP yang sedang libur musim dingin dari Belanda. Dia memaparkan pengalamannya mengejar cita untuk studi di Belanda yang penuh dengan keringat dan air mata. Selama dua tahun, sudah tak terhitung tetes air mata yang keluar, mempersiapkan Bahasa Inggris sampai tes IELTS berkali-kali, dan masih gagal. Belum lagi perjuangan untuk memenuhi persyaratan LPDP lainnya. “Pejuang sejati tak kan pernah menyerah” begitulah mottonya. Itulah yang membakar semangat saya untuk segera mematangkan strategi LPDP untuk melanjutkan studi ke UK September 2016. Supaya lebih jelas, berikut saya contohkan timeline saya.

Rencana di atas adalah proposal saya kepada Tuhan untuk tahun 2016. Alhamdulillah, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Doa dan usaha saya diijabah oleh Allah. Walaupun, saya juga sudah menyiapkan beberapa alternative pilihan rencana seandainya, kemungkinan terburuk, saya gagal. Begitupun teman-teman, silahkan membuat timeline dan alternative sesuai kebutuhan. Apabila gagal, silahkan coba lagi, karena LPDP memberi dua kali jatah gagal tahap tes substansial. Kalaupun tetap gagal, itu bukan akhir dunia kok, jadi jangan sampai gelap mata sampai menghalalkan segala cara, memalsukan sertifikat Bahasa asing misalnya. Ingat ya, LPDP itu dikelola oleh para professional di bidangnya. Jangan sampai kita menyesal dimasukkan daftar hitam karena kecurangan sesaat. Pernah membaca artikel-artikel tentang perjuangan para pengejar beasiswa kan? Ada yang 7 kali gagall tes IELTS, 10 kali ditolak beasiswa, dan berbagai macam drama lainnya. itu kisah nyata, sebagai pemicu semangat kita. Amin!

#3 Konsep 3A: Appearance, Achievement, Attitude.
“I'm intrigued by the way in which physical appearance can often direct a person's life; things happen differently for a beautiful woman than for a plain one.”
Penelope Lively.
Appearance: Kata pepatah sih kita tidak boleh menghakimi sebuah buku dari sampulnya. Namun, menjaga penampilan itu tetaplah sesuatu yang penting. Dalam proses seleksi LPDP misalnya. Coba bayangkan kita sebagai interviewer menghadapi pendaftar dengan pakaian yang tidak rapi, rambut acak-acakan, celana jins robek-eobek, dan bau apek keringat. Bagaimana asumsi kita? Okay poinnya adalah konsep adil dalam berpenampilan, kemampuan menjaga penampilan menyesuaikan situasi. Mengetahui waktunya dress up maupun dress down. FYI, Smart appearance bukan berarti harus memakai semua barang branded seperti mall berjalan lho ya!
Achievement: Untuk mendaftar LPDP, kita harus punya achievement, baik yang sudah dicapai, yang sedang dilakukan, dan yang mau dicapai di masa depan. Itu semua akan terbaca dalam essay kita dan akan direkonfirmasi oleh interviewer. “Kak, tapi saya ga punya penghargaan? lomba lari kelereng aja ga pernah menang, apalagi lomba kejar gebetan?” Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, tidak selamanya pencapaian itu berupa piagam penghargaan atau piala emas bersilauan. Achievement dapat berwujud aksi nyata. Bagi pelaku organisasi dan komunitas kepemudaan, optimalkan prestasi dengan membuat perubahan nyata. Bagi peneliti, buatlah riset yang bermanfaat dan aplikatif! Bagi pecinta kegiatan kerelawananan, silahkan optimalkan aksi sosialmu! Tidak hanya berlaga seperti pahlawan di social media doang. Intinya, definisi achievement setiap orang berbeda. Manfaatkan passionmu disana!
Attitude: Kecerdasan dalam bersikap dan menunjukkan moral yang baik merupakan kuncinya. Sepintar apapun kita kalau attitude NOL, maka bukanlah apa-apa. LPDP akan berinvestasi kepada pemimpin Indonesia masa depan yang punya attitude baik. Karena tidak semua orang dengan tingkat pendidikan tinggi berbanding lurus dengan tingkat moral. Sebagaimana kata pepatah, “two things define you: Your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything”.

#5. Ikhlas & Doa
Bab ikhlas merupakan bagian paling sulit. Setelah kita melaksanakan semua poin di atas, hal terakhir adalah ikhlas, menerima apapun hasilnya. Ikhas memang mudah diucapkan, namun sangat sulit diaplikasikan. Tidak sedikit kisah depresi dan kecewa yang mendalam karena kegagalan dalam mengejar beasiswa. Usaha terakhir yang dapat kita lakukan tinggal doa. Orang tua, bapak ibu guru, dosen, pemuka agama, minta maaflah atas kesalahan baik sengaja maupun tidak, dan mintalah mereka ikut mendoakan hasil terbaik untuk kita. Karena kita tidak tahu, dari mulut siapa doa kita dikabulkanl! Perbanyak amal jariyah, shodaqoh, dan berbagi kepada orang yang membutuhkan. Dekatkan diri pada Sang Pencipta. Pendekatan yang terakhir memang lebih ke arah spiritual dan emosional.
Jaga semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang mengejar mimpi. Apabila butuh diskusi dan feedback, silahkan mengirimkan pesan ke hanifazhar@live.com. Semoga tulisannya bermanfaat. Jabat erat dari Glasgow, UK


Hanif Azhar
MSc Student- Creative Industry & Cultural Policy, University of Glasgow

Awardee LPDP PK-71 2016

January 1, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 2:12 AM | No comments

Marvolous 2016

Perjalanan seribu langkah pasti diawali dengan langkah pertama. Alhamdulillah, 2017 sudah di depan mata. A new year, a new start, way to go! Resolusi pertama saya di tahun ini adalah membuat catatan pribadi pelajaran berharga selama tahun 2016. Bisa jadi sharing saya akan terlalu personal, namun semoga dapat membawa  manfaat bagi pembaca. Secara garis besar, 2016 saya bagi menjadi 4 chapter perjalanan: Kampung Inggris Undercover, Dapur Indonesia Mengajar, Cikal Nagari, dan kampus rasa Hogwarts!

Chapter #1: Kampung Inggris Undercover
Kuarter pertama 2016, tepatnya Januari sampai Maret, saya habiskan untuk menempah diri di Kampung Inggris, Pare. Selama 3 bulan itu, saya habiskan bulan pertama untuk study group persiapan tes IELTS, bulan kedua saya off untuk focus real test IELTS (International English Language Testing System, red) di Surabaya sambil menyiapkan persyaratan pendaftaran kampus impian serta mengikuti mentoring mingguan bersama ASEAN Youth Centre bekerjasama dengan AMINEF Education USA, bulan ketiga saya kembali ke Pare untuk menjadi tim hore di TEST-English School, salah satu tempat kursus yang hits dan kekinian. Ada 2 pelajaran utama yang saya dapatkan:

#1. In Learning You Will Teach, In Teaching You Will Learn.
Kali ini saya mengamini kalimat Om Phil Collins kalau belajar dan mengajar itu merupakan satu kesatuan yang utuh. Belajar bersama dan saling mengajari itu salah satu kunci efektif menyerap ilmu baru. Mendapat kesempatan emas untuk belajar mengajar sebagai tutor Bahasa Inggris. “Hey Han, who are you? Les Bahasa Inggris aja nggak pernah, sekali ke Pare, abis belajar bentar terus sok-sokan jadi tutor gitu?” Hmmm… kalau selalu mendengarkan bisikan-bisikan negatif pastinya menghambat neuron bekerja optimal. Dan YEAY! I did it! Walaupun cuman sebentar, saya menikmati jadi tutor dengan waktu istirahat yang sangat minim karena sibuk menyiapkan materi ajar kepada para siswa di kelas. Tapi guys, dengan persiapan itu, jujur, lebih ngena belajarnya! Seperti ada beban moral aja, lha kalau tutornya ga menguasai utuh, gimana ngajarnya?

#2. IELTS, Conquer From Within
Kata orang sih, IELTS tidak hanya tentang bagaimana kita menjawab soal, namun juga manajemen waktu dan strategi setiap tipe soal. Inget, SETIAP TIPE SOAL! IELTS berbeda dengan TOEFL, terdapat 4 sesi berbeda; listening, reading, writing, dan speaking. Namun bagi saya, segala bentuk tes tidak dapat dipisahkan dari ketenangan hati. Salah satunya bisa didapat dari kedekatan kita dengan Tuhan. Saya sengaja mengatur agenda untuk benar-benar OFF dari semua aktivitas selama 2 minggu sebelum tes IELTS dan 1 minggu pasca tes. Selama 2 minggu itu, saya menghibahkan diri saya menjadi asisten marbot di salah satu masjid di Surabaya, detoksifikasi dari segala urusan duniawi. Poin saya adalah, silahkan teman-teman mencari cara untuk menenangkan kalbu sebelum menghadapi tes ya! Sebagai muslim, saya sepenuhnya percaya kalau dunia akan mengikuti kita kalau orientasi kita akhirat kok! Alhamdulillah, hasil tes IELTS pertama saya cukup memuaskan. Walaupun nilainya belum maksimal, setidaknya cukup untuk mendaftar kampus impian! YEAY! 
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di dunia.” (QS. Asy-Syura: 20).

Chapter #2: Dapur Indonesia Mengajar
Alhamdulillah (lagi dan lagi), saya mendapat kesempatan menjadi tim training intensif pelatihan calon pengajar muda. Fase ini sekitar 3 bulan mulai dari April sampai Juni 2016. Alasan utama gabung simpel, sampai sekarang saya masih amaze dengan pertumbuhan yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang mampu merubah mindset para pemuda terbaik bangsa untuk turun tangan, meng-upgrade istilah relawan jadi mantu idaman! #eea Walaupun pernah tergabung menjadi Pengajar Muda VIII (April 2014 sampai Juli 2015) rasanya belum lengkap kalau belum mengintip dapur IM lebih dalam. 2 pelajaran utama;

#3. Coaching is unlocking a person’s potential to maximise their growth
Catch a man a fish, feed him for a day. Teach him how to fish and feed him for life. Saya selalu suka dengan pribahasa itu. Saya percaya bahwa mengajari cara memancing itu jauh lebih baik daripada hanya sekedar memberi ikan. Begitupun dalam membantu orang lain, daripada langsung memberi solusi, akan lebih baik lagi kalau kita menggali lebih dalam dan melejitkan potensi orang tersebut. Salah satunya adalah dengan teknik Coaching & Facilitating. Nah, di Indonesia Mengajar, coaching & fasilitasi adalah skill dasar yang harus dikuasai oleh setiap Pengajar Muda untuk mengoptimalkan dampak perubahan positif ketika bertugas di daerah penempatan. Sebagai tim fasilitator, tentunya dituntut dapat mengaplikasikan skill kepemimpinan tersebut untuk mengoptimalkan potensi 42 Calon Pengajar Muda (CPM) XII. Menarik! Menantang! Begitu pula dengan para CPM, harus dapat mengaplikasikannya di penempartan masing-masing :p

#4. There is nothing certain, but the uncertain. 
“Uncertainty and misteries are the energies of life. Don’t let them scare you unduly, for they keep boredom at bay and spark creativity,” R.I Fitzhenry
Selama menjadi tim training IM, hidup berasa roller coaster! Selalu ada tantangan yang memicu adrenalin! Setiap saat! Menghandle 42 CPM terpilih dengan berbagai karakter dan keunikan masing-masing, menghubungi pemateri dan menyiapkan materi yang akan disampaikan, mengatur jadwal dari pagi jam 5 shubuh sampai malam jam 11, selama 2 bulan full, sampai urusan logistic! Salah satu turning point ketidakpastian yang paling random adalah penambahan daerah penempatan IM 2.0 angkatan genap di Papua Barat. Banyak drama yang terjadi baik di dalam internal tim training maupun para CPM. Untungnya, tim training yang solid dan dewasa dalam menyikapi perubahan dapat menghandel semuanya. Kalau kata Om John Finley “Maturity is the capacity to endure uncertainty”. Ketidakpastian itu menyenangkan! YEAY!

Chapter #3: Cikal Nagari
Setelah hidup dalam jet coaster IM, fase berikutnya adalah fase di mana salah satu doa dikabulkan, yaitu mendapat beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk melanjutkan studi master di luar negeri. Oia, Cikal Nagari itu keluarga besar Persiapan Keberangkatan (PK) 71 LPDP. Selama persiapan, 2 pelajaran utama yang saya dapatkan:

#5. Luck is a matter of Preparation meeting Opportunity
Banyak teman-teman yang menanyakan, bagaimana ceritanya kok tiba-tiba sudah dapat LPDP, dapat kelompok PK, bahkan uda mau berangkat aja ke luar negeri, padahal kan saya selama ini disibukkan dengan kegiatan sosial dan kerelawanan? Guys, mendadak saya teringat pepatah Bugis kuno yang seringkali diucapkan oleh Bunda Marwah Daud Ibrahim, MHMMD Mengelolah Hidup Merencanakan Masa Depan, “Tiba, Sebelum Berlayar”. Ternyata mimpi itu butuh direncanakan sebelum nantinya diperjuangkan, sebagaimana mimpi saya untuk lanjut studi. Ketika persiapan sudah matang, kemudian kesempatan datang, VOILA! Selamat memanen usaha dan kesabaran. So, persiapan harus matang dari awal seperti kata om Alexander Graham bell “Before anything else, preparation is the key of success”. Timeline persiapan studi saya;
1.    Januari : Study Group IELTS, Kampung Inggris
2.    February : tes IELTS di British Council, Surabaya 
3.    Maret : Mendaftar kampus impian dan melengkapi berkas beasiswa 
4.    April : Mendaftar beasiswa LPDP Batch 2 2016
5.    Mei : Tes Substansi LPDP 
6.    Juni : Pengumuman lolos beasiswa, mengurus VISA
7.    Juli : Persiapan Keberangkatan (PK) 71 LPDP
8.    Agustus : Hallo, UK!
FYI, terlepas dari kasus Bunda Marwah Daud, beliau adalah salah satu orang yang berjasa dalam hidup saya mempersiapkan masa depan melalui MHMMD. 

Chapter #4: Kampus rasa Hogwarts!

30 Agustus 2016, akhirnya nasib membawa saya ke Glasgow, UK, untuk melanjutkan studi di University of Glasgow, mengambil program Creative Industry & Cultural Policy. Selama satu semester, tentunya banyak sekali pelajaran tinggal di UK. Namun 2 hal paling penting:

#6. Learning Is a process, not an event. Never stop learning because life is never stop teaching.
Atmosfir belajar di luar negeri, khususnya di UK, sangat berbeda dengan undergraduate saya di Indonesia. Beberapa highlight adalah fasilitas umum pembelajaran seperti perpustakaan kampus, perpustakaan kota, museum-museum, sampai kantin dan kafe pun sangat mendukung proses pembelajaran. Koleksi literasi yang lengkap, budaya membaca sejak dini, tempat belajar dan diskusi yang nyaman, budaya berfikir kritis dan terbuka, serta student learning centre! Bahkan segedhe apapun perpus kampus, akan tetap kewalahan menampung mahasiswanya, apalagi di musim ujian. Hal yang menyenangkan selama proses belajar mengajar, mahasiswa diberikan reading list sekitar 3-7 jurnal internasyenel setiap mata pelajaran sebelum kelas. Bayangin kalau seminggu ada 4 mata pelajaran, tinggal dikalikan jurnal bacaannya hehe. Kemudian berdiskusi terbuka selama pelajaran berlangsung, memberikan kesempatan setiap mahasiswa untuk berbicara dan tidak memaksakan kesimpulan. Setiap pelajar harus membangun pengertian dan kesimpulan sendiri. So, sebagai pelajar internasyenal yang Bahasa Inggrisnya masih abal-abal, tentunya harus belajar cerdas dan kerja ekstra keras!  Because once you stop learning, you start dying, kata Om Albert Instein. 
"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR. Bukhari dan Muslim)

#7. Your Attitude is like a price tag, It Shows how valuable you are!
Belajar di luar negeri juga menantang kita untuk mampu menepatkan diri, baik itu bergaul dengan teman sesama pelajar dari Indonesia maupun mancanegara. Menurut saya, challenge terbesar adalah attitude! Sekecil apapun langkah kita, bisa jadi membawa persepsi bagi orang sekitar yang melihatnya. Karena kita sebagai representasi Indonesia. Selain itu, bagaimana sikap kita dengan teman-teman kita yang masih berjuang untuk mendapatkan beasiswa, mengejar kampus impian, mengejar nilai IELTS, dan orang-orang yang selalu mendukung kita juga harus tetap dijaga. Attitude adalah segalanya :)

“Two things define you: Your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything”