jpg

June 3, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 10:41 AM | No comments

Coretan Ramadan: Scotland VS Wkwkwk-land

Welcome to Scotland!
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan 1438 H. Saya percaya, setiap bulan suci pasti membawa makna, cerita baru dengan beragam hikmahnya. Toh, Allah maha perencana, tidak ada sesuatu yang luput dari tangan-Nya. Termasuk kesempatan saya sekarang bertemu Ramadan di Scotland.
Setelah mempublis artikel di website PPI UK Maret lalu, saya mendapat puluhan email tanggapan dari pembaca (http://ppiuk.org/lanjut-studi-di-uk-dengan-beasiswa-lpdp-w…/). Beberapa diantaranya menanyakan seputar kehidupan muslim di Britania Raya. Mulai dari fasilitas beribadah, ketersediaan makanan halal, sampai kekahawatiran menjalankan ritual keagamaan lainnya. Insyaallah, AMAN! Scotland, khususnya Glasgow tempat saya tinggal, merupakan tempat ramah imigran (efek dari kebijakan Pemerintah Inggris di masa lalu, jauh sebelum Brexit). Hal ini menjadi pintu utama masuknya Islam di era 1900an. Imigran muslim dari Pakistan, Bangladesh, India, maupun negara-negara timur tengah lainnya seperti Yaman dan Irak, berbondong-bondong bermigrasi dengan alasan ekonomi, politik, dan pendidikan. Kontan, Islam pun berkembang! Menurut Badan Statistik Nasional tahun 2016, jumlah muslim mencapai 3.114.992 orang, mencakup 5.4% populasi di Inggris dan Wales. Padahal 15 tahun lalu, tahun 1991, jumlahnya hanya 950.000 orang atau 1.9% populasi saja. Perkembangan yang menakjubkan!
Komunitas Islam Indonesia, KIBAR Glasgow
Nah, dari sini sudah mulai terjawab kan, kekhawatiran hidup sebagai muslim di Scotland. Fasilitas tempat ibadah? Insyaallah cukup, walaupun tidak sampai setiap gang ada mushola dengan kompetisi azan Maghrib seperti di Wkwkwk-land. Setiap kampus, mulai dari University of Glasgow, University of Strathclyde, Glasgow Caledonian University, semua tersedia mushola. Kalau Glasgow School of Arts dan Royal Conservatoire of Scotland, saya belum pernah sholat di sana. Jumlah Islamic Centre di Glasgow menurut mbah Google mencapai total 28 masjid. Namun untuk kenyamanan, lebih baik siap bawa sajadah kemana-mana. Saya sempat kok sholat di basement kampus. Paling ekstrim, sholat di Glasgow Necropolis, sebuah bukit kompleks pemakaman indah bergaya Viktoria.
Komunitas Pelajar Muslim di UoG, GUMSA
Komunitas muslim juga tersebar dimana-mana dengan beraneka mahzab sampai afiliasi karena latar belakang suku dan kebangsaan. Komunitas Indonesia sendiri ada yang namanya Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR), yang biasanya rutin mengadakan kajian umum setiap bulan dan berbagai kegiatan lainnya. ada juga komunitas NU dan Muhammadiyah cabang UK lho. Komunitas muslim di kampus ada, GUMSA: Glasgow University Muslim Students Association. Mau nyari sholat Jum'at dengan khotbah berbahasa arab sampai bahasa Urdu (India) tersedia. FYI, saya pernah ikut jumatan khotbah bahasa Urdu, endingnya kejang-kejang ga paham isinya, malah terlintas Shakh Rukh Khan dan Kajol menari-nari di Castle Isle of Skye Scotland syuting Kuch-Kuch Hota Hai https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/ff0/2/16/1f603.png:D(coba lihat video clipnya deh, itu seriusan ambil gambar di tempat saya). Saya pernah sholat bersebelahan dengan Syi'ah di kampus. Bahkan sempat juga magang di salah satu perusahaan travelling & leisure halal dan mendapatkan jaringan itu dari komunitas Islam. Keep calm guys, you are not alone!

Kalau makanan halal? Logikanya, semakin banyak imigran muslim, grosir halal juga menjamur. Banyak banget kok pilihan rumah makan halal. Sekedar informasi, Inggris punya komite sertifikasi makanan dan pemotongan hewan halal lho, namanya Halal Monitoring Committee (HMC). Bahkan di beberapa supermarket umum, seperti TESCO dan Sainsburry, sudah menyediakan halal corner kok. Namun, ada baiknya, sebagai muslim pendatang, kita mempelajari daftar makanan non-halal, seperti E-Codes yang mengandung lemak babi. Karena, biasanya E-Ingredients ini nyelip jadi bahan pembuatan roti, biscuit, ice cream, sampai marsmallow.
Perkembangan Islam yang pesat menbuat populasi muslim terus meningkat, fasilitas ibadah semakin nikmat, dan ketersediaan makanan halal. Terus, bagaimana dengan Ibadah Ramadhan? Coba kita main logika ya, Wkwkwk-land yang berada di garis katulistiwa saja puasa sekitar 13 jam, mulai jam 4.30-17.30. Nah, bagaimana dengan Scotland yang letaknya di ujung dunia mepet-mepet kutub utara? Kebetulan Ramadhan 1438 H ini bertepatan dengan musim semi-menuju-panas 2017. Durasi puasa antara subuh 2.45 dini hari sampai maghrib jam 10 malam, sekitar 19.5 jam! (((SEMBILAN BELAS SETENGAH JAM))) *mendadak pingsan* kebayang kan perjuangannya? Untungnya, walau (katanya) musim panas, tapi suhunya sejuk, sekitar 15 C doang hahahahaa. Tantangan utamanya jaga pandangan sih. Summer itu bikin kita banyak istighfar, main ke taman aja berasa di pantai. Lapangan hijau dipenuhi lautan manusia berjemur, dari yang sekedar berbaring sampai yang guling-guling.
Berbicara terkait Ramadan dan Kehidupan Muslim Scotland, ada beberapa catatan yang menurut saya dapat dicontoh di Wkwkwk-land:

Masjid ramah anak :D
MASJID RAMAH ANAK
Islam melarang untuk mengusir anak-anak dari Masjid. Sebaliknya, Islam justru mewajibkan umatnya membiasakan anak-anak datang ke masjid untuk belajar shalat, belajar membaca Al-Quran, belajar tajwid, dan belajar hukum syariat lainnya. Dalam realita wkwkwk-land, saya jarang menjumpai masjid ramah anak. Ada sebagian golongan yang membenci keramaian anak karena khawatir mengganggu kekhusu’an beribadah. Untungnya Scotland beda cerita! Saya menjumpai beberapa masjid super ramah anak! Mereka menyediakan ruang khusus bermain antara tempat sholat dan wudzu. Didesain sedemikian rupa dan disediakan berbagai fasilitas bermain supaya mereka suka ke masjid. Ada tenis meja, keranjang basket, sepak bola meja, dll. Serius! Ada taman bermain di dalam masjid!. Sambil menunggu waktu sholat, (saya dan) anak-anak bermain.
Pesan Sultan Muhammad Al-Fatih, Penakhluk Konstatinopel:
“Jika suatu masa kamu tidak mendengar bunyi gelak tawa anak-anak riang gembira di antara shaf-shaf shalat di masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kedatangan kejatuhan generasi muda di masa itu…”
Open House #Eh OPEN MOSQUE
Nah, menurut saya program ini bagus banget! Masjid Al-Furqon Glasgow rutin mengadakan Open Mosque, sebulan sekali sampai dua kali, kadang lebih kalau ada permintaan tambahan. Pesertanya macem-macem. Kebanyakan non-Islam, atau rombongan siswa SD. Menurut marbotnya, banyak isu negative terkait Islam membuat orang makin skeptis, baik itu negative, maupun murni rasa ingin tahu tentang Islam yang sesungguhnya. Mereka mengadakan tea party sambil diskusi ringan tentang Islam, dan melakukan presentasi di depan orang awam. Manusianya open-mind, terbuka untuk diskusi dan menjawab rasa keingintahuan. Masjid ramah non-muslim itu nyata! Tidak sedikit mualaf lahir setelah mengikuti beberapa meeting
Momen ketika Interview dengan media dakwah di China
KOTAK AMAL?
Ada yang unik di masjid sebelah flat saya. Mereka tidak hanya menyediakan ember charity, tapi juga dua mesin EDC (Electronic Data Capture). Banyak kok muslim kaya yang mau mendermakan sebagian kecil hartanya untuk sesama. Kecil bagi mereka sih, tapi cukup besar bagi orang lain. Makanya, Mesin EDC ini disediakan bagi mereka yang ingin berbagi dalam nominal yang besar. Efektif sih! Karena berdakwah harus sesuai kaumnya. Bagi kaum intelektual kaya yang sadar sedekah, mesin EDC jauh lebih efektif daripada kotak amal kan? Tinggal gesek kartu Hahaha.
Sekali lagi saya sampaikan, tidak perlu takut jadi minoritas. Tidak perlu takut hidup sebagai muslim di Inggris. Mari hilangkan kekhawatiran tak mendasar dari fikiran. Insyaallah toleransi di sini sangat berkembang. Semoga hal-hal positif dapat diaplikasikan di Wkwkwk-land masa depan! Amin! Tapi perlu dicatat juga, terkait Ramadhan, ngabuburit, dan urusan perkulineran, Wkwkwk-land JUARA! Ah, saya kangen Soto Lamongan, Sego Boranan, Lontong Balap, Lontong Kupang, Tahu genjrot, tempe mendoan, nasi padang, *sampe bingung mau nulis apa lagi, ga abis-abis kalau ngomongin makanan Wkwkwk-land* Kalau pengen lihat kehidupan muslim secara visual, Sabtu 10 Juni 2017 akan ditayangkan Moslem Traveller edisi Glasgow. Kebetulan kemarin saya dan teman-teman tim eksternal KIBAR Greater Glasgow yang menemani kru NET TV untuk keliling Scotland (link menyusul, kalau sudah publish di Youtube ya).
Momen pengambilan video Moslem Traveller, NET TV
Tuh kan, keasyikan nulis sambil menunggu waktu Shubuh sampai 1000 kata. Duh kalau saja semangat nulis seperti ini bisa diterapkan dalam menulis disertasi, kelar deh dalam dua minggu wkwkwkwk.

Salam, Hanif Azhar
Glasgow, 8 Ramadhan 1438 H
Ditulis sambil menunggu waktu Shubuh

May 20, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 8:49 PM | No comments

Siapa Takut Balik Indonesia!

Awal Mei 2017, saya sempat dikejutkan beberapa tulisan viral yang menghebohkan. Salah satunya adalah catatan Petrus Wu, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Sidney, Australia (9/5)*. Ia mengungkapkan “Buat apa kembali ke Indonesia? Meski Indonesia adalah tanah kelahiran sendiri. Di negara ini orang tidak dihargai karena bakat dan kinerjanya, tapi karena suku dan agamanya. Di negara ini, orang benar bisa masuk penjara, hanya karena ada segerombolan preman demo berjilid-jilid atas nama agama. Di negara ini, orang lain boleh menghina agamamu karena agamamu hanya minoritas. Tapi jangan kamu lakukan yang sebaliknya, karena kamu akan berakhir di penjara.” (artikel lengkapnya di sini https://seword.com/politik/ahok-dipenjara-pulang-indonesia/)
Sungguh, saya sangat kecewa, bahkan marah! Cuma segini doang mental lo, Bro? Terlepas dari pandangan politik yang semakin rumit (saya tidak mau berdebat urusan Pilkada di sini ya!) tapi bagi saya pola pikir ini perlu diluruskan! Jika kamu merasa punya masalah, hadapilah! Bukan lari dari kenyataan! Hal ini membuat saya berefleksi:
Apakah dengan studi di luar negeri membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain?
Mentang-mentang studi di luar negeri, apakah membuat kita merasa lebih penting dan dibutuhkan sehingga dieluh-eluhkan untuk pulang?
Apakah Indonesia membutuhkan kita? Atau malah sebaliknya?
Sudahkah kita melihat Indonesia lebih dekat?
Sudahkah kita menyempatkan diri “piknik” ke wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal)?
Sudahkah kita iuran kontribusi untuk ibu pertiwi?
Kalau kata WS Rendra dalam seonggok jagung:
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya??
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata : “disini aku merasa asing dan sepi”
Saya pribadi masih butuh mencicipi micin indomie dengan kenikmatan haqiqi yang hanya ada di nusantara. Walaupun berkesempatan melanjutkan studi di UK, sama sekali tidak membuat perasaan lebih dari teman lain. Lha wong sekolah dari SD sampe kuliah karena beasiswa, duit negara, duit pajak para bapak tukang pentol dan mbok2 penjual sayur keliling. Terus apa yang mau disombongkan? Alhamdulillah, pengalaman saya blusukan ke pelosok ketika menjadi supervisor program jawapos pro otonomi award serta menjadi volunter di Indonesia Mengajar semakin membuka lebar mata saya untuk senantiasa berkontribusi. Well, mungkin ada beberapa temen yang beropini kontribusi kan bisa dimana saja, tidak harus kembali ke Indonesia? Benar sekali! semua kembali lagi ke niat individu. Saya tidak mau berdebat tentang hal ini, silahkan berdiskusi dengan hati nurani. Apabila memang tidak pulang karena berniat kontribusi dari luar, jalankan secara optimal posisi anda. poin saya di sini adalah kekecewaan saya terhadap pola pikir takut pulang ke Indonesia karena kesombongan itu sendiri.
Untungnya, saya tidak menemukan kawan-kawan pelajar Indonesia di UK (khususnya di Greater Glasgow) dengan model pemikiran seperti saudara Petrus Wu! Malahan, saya mendapat banyak inspirasi dari berbagai mimpi kawan-kawan saya di sini. “Kalau uda balik ke Indonesia nanti, saya ingin membuat pusat kesehatan mental. Saya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa gangguan mental itu sama vitalnya dengan penyakit fisik!” Ujar seorang sahabat yang sedang study Global Mental Health. Saya juga memunyai teman yang sangat semangat untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya beretika terhadap hewan. Dia ingin membuat kafe di Indonesia dengan konsep peduli fauna. Keren kan? Ada juga sahabat saya yang ingin terjun (lagi) ke dunia NGO sepulang studi ke Indonesia. Dia ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sex usia dini lewat profesional NGO. Banyak juga yang ingin masuk pemerintahan, badan penelitian, dan institusi pendidikan. Sungguh, optimisme itu ada dimana-mana! Pola pikir saudara Petrus Wu itu terbukti tidak merepresentasikan mindset para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, setidaknya yang saya kenal di UK.
Semangat berkontribusi itu tidak hanya sekedar wacana yang akan dilaksanakan nanti dan nanti. Hari ini, Persatuan Pelajar Indonesia Greater Glasgow sukses mempromosikan kebudayan nasional lewat pertunjukan drama musical Shallot & Garlic dalam Indonesian Cultural Day 2017! Dengan mata kepala saya sendiri, saya menyaksikan kekompakan dan kemauan teman-teman saya untuk mengenalkan Indonesia di mancanegara. Di tengah hujan badai, ujian, essay, dan assignments yang tak ada hentinya, para mahasiswa ini meluangkan waktu latihan setidaknya 5-10 jam setiap minggu selama dua bulan untuk persiapan pementasan. Banyak diantaranya mengaku ini pengalaman pertamanya terlibat dalam pertunjukan seni di tengah ratusan penonton, apalagi audiens global. Musikalisasi drama, paduan suara, tari jaipong, tari kecak, tari saman, permainan angklung, pertunjukan gamelan, dll melebur jadi satu untuk menghipnotis penonton! Ini salah satu bukti nyata bahwa kontribusi mahasiswa untuk Indonesia itu nyata! ICD 2017, KETJE BADAY!

Masihkah memandang mahasiswa cemen ga mau pulang ke Indonesia hanya karena takut ga mendapat penghargaan?

Selamat berefleksi,
Selamat hari kebangkitan nasional!
Hanif Azhar, pecinta micin Indomie
Glasgow, 20 Mei 2017

May 7, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 6:00 PM | No comments

Membudayakan Literasi Sejak Dini

Di suatu sore yang cerah, sambil menikmati tumpukan hidangan mewah, dua bocah SD bersaudara mendatangi saya, Umar (11 tahun) dan Azzam (7 tahun). Percakapan singkat inspiratif pun berlangsung:
Umar: “Kak, saya mau presentasi projek sekolah saya” (malu-malu sambil sesekali melirik ibunya)
Saya: “Projek apa Umar?” (saya menanggapi penuh antusias)
Umar: “Jadi, dalam waktu 7 minggu ke depan, saya harus setidaknya membaca 10 buku bacaan dengan genre bebas sesuai selera saya. Boleh tentang sains maupun fiksi. Ini adalah reading challenge dari sekolah.”
Saya: “Wow, keren sekali Umar! Terus?”
Umar: “Setelah membaca, saya harus mempresentasikan apa yang saya baca kepada orang lain supaya mereka tahu pesannya dan saya lebih memahami isinya. Setelah itu, saya berharap kakak mau menjadi donatur social project saya dengan mendonasikan uang £ 0.30 untuk setiap buku yang saya baca. Kalau kakak suka projek saya”
Saya: “Kalau boleh tahu, project apa Umar?”
Umar: “Ini project sekolah. Kami ingin menambah koleksi buku bacaan dalam perpustakaan kami. Rencananya, dalam 7 minggu, sekolah kami menargetkan mendapatkan donasi uang £1,000 dari project reading challenge ini.”
Saya: “Umar sudah membaca berapa buku sejak proyek ini berjalan?”
Umar: “Ini proyek baru Kak. Umar sudah membaca satu buku fiksi tentang detektif setebal 400an halaman. Adik saya, Azzam, juga sudah menamatkan satu buku horror 100 halaman. Kami diperbolehkan membaca bacaan sesuai dengan kelas dan minat kami.”
Saya: (ngelus dada, saya baca jurnal 20 halaman saja paling banyak 2 jurnal dalam sehari)
Kemudian Umar menceritakan isi buku detektif 400 halaman yang dibacanya dalam 5 hari. Azzam pun menceritakan isi fiksi horornya dengan antusias. Setelah mereka bercerita, saya mendonasikan £5 untuk projek mereka tanpa pikir panjang.
Umar: “Kak, apa tidak kebanyakan? £ 0.10 per buku saja itu sudah banyak. Kalau £5 berapa buku yang harus saya baca nanti?”
Saya: “Ya gapapa. Saya kan deposit donasi uang sekian, jadi Umar dan Azzam harus membaca 10 buku dalam waktu 7 minggu ke depan,”
Umar: “Okay Kak! Siap! Nanti akan saya informasikan lagi, seandainya dalam waktu yang ditentukan saya tidak dapat memenuhi target, maka saya akan mengembalikan donasinya.”
(kemudian kami lanjutkan makan hidangan berjamaah. Oia, obrolan tadi semuanya dalam Bahasa Inggris lho. FYI, Umar dan Azzam ini anak dari pelajar Indonesia yang sedang melanjutkan PhD di Glasgow. Mereka sudah tinggal di UK hampir 4 tahun, jadi uda seperti native ngomongnya, bikin minder hahaha)
***
Obrolan singkat dengan duo bocil bersaudara ini membuat saya berkontemplasi terhadap pola pendidikan dasar yang selama ini saya dapatkan. Ternyata, banyak cara kreatif yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini ya! Mendadak saya ingat sebuah pepata lama, bisa karena telah terbiasa, dan terbiasa karena terpaksa! Bisa jadi, awalnya mereka terpaksa melakukan hal tersebut. Tapi, Hey! Saya melihat ekspresi bahagia mereka menikmati setiap proses tugas yang diberikan sekolah. Bahkan, mereka sadar, pada akhirnya membaca akan bermanfaat buat diri mereka sendiri. Toh, donasi juga digunakan untuk proyek social. Hey… bukankah itu malah pembelajaran rangkap? Bahkan, saya pun jadi berefleksi. Selain membiasakan mereka untuk mencintai budaya literasi sejak dini, setidaknya mereka belajar tujuh poin perkembangan diri:

KOMUNIKASI

Setelah membaca, mereka dituntut untuk mempresentasikan buku yang dibaca. Mereka belajar berkomunikasi dengan orang lain. Mereka belajar menuangkan fikiran mereka sehingga pesan tersampaikan. Bayangin deh, anak 7 tahun uda mampu jadi pemateri bedah buku -_- saya dulu 7 tahun paling main kelereng doang.

PERSUASI

Nah! Setelah mempresentasikan bacaan, mereka mencoba mempengaruhi kita untuk menjadi donator dalam proyek social mereka! Keren banget kan! Bocah 11 tahun udah mampu bernegosiasi dengan orang lain. Lha saya dulu umur 11 tahun masih rebutan tazoz pokemon dalam bungkusan Chicky.

PERCAYA DIRI 

Tidak diragukan lagi, kepercayaan diri mereka pun bakal meningkat. Lha wong dari usia dini uda disuruh presentasi dan persuasi sana sini. Walaupun, dalam kasus Umar dan Azzam, mereka masih agak malu di awal. Tapi gapapa, namanya juga belajar!

JUJUR

Mereka mengatakan dari awal bahwa hasil donasi akan diberikan untu social proyek bersama di sekolah. Mereka juga jujur, kalau donasi pun seikhlasnya.

TANGGUNG JAWAB

Ketika saya memberikan £5 saya meminta mereka untuk membaca 10 buku, dan mereka menyanggupi. Bahkan, mereka bilang bakal ngasih informasi lagi nanti kalau sudah selesai membaca. Kurang amanah gimana coba?

PEKA ISU SOSIAL

Donasi yang mereka kumpulkan digunakan untuk proyek social bersama untuk mengatasi isu-isu social di sekitar mereka. Kali ini isu perluasan koleksi buku di perpustakaan. Mereka juga sudah beberapa kali membuat proyek untuk penghijauan, kebersihan, dll.

MANAJEMEN PROYEK

Bayangin aja, mereka ditantang membaca 10 buku dalam 7 minggu dengan ketebalan sekitar 400-500 setiap buku. Mereka harus melakukan tantangan ini di tengah aktivitas mereka yang lain. Mereka masih harus sekolah, main bola, belajar ngaji dll. Kurang ketje apa coba, dari SD sudah bagus manajemen waktunya.
Selain proyek reading challenge, sekolah juga secara teratur membuat siswanya melakukan proyek setidaknya satu sampai dua kali dalam satu semester. Terkadang proyek penghijauan dengan menanam pohon, bahkan pernah proyek menulis buku tentang sejarah Scotland dan imajinasi mereka. catet ya! MENULIS BUKU!!! *tambah minder kejer-kejer*, bocah SD uda dibiasain projek positif seperti ini, gimana besarnya coba?

KESIMPULAN:

Membiasakan anak usia dini untuk melakukan proyek social baik secara personal maupun komunal sangat membantu mereka untuk berkembang. Hal itu dapat saya lihat dengan jelas kedewasaan Umar dan azzam di usia sekarang. Bisa jadi, awalnya mereka terpaksa, namun pada akhirnya jadi kebiasaan bagus. Terimakasih untuk inspirasinya hari ini.
“we are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit” (Aristotle)
Silahkan dibagikan dengan fitur "SHARE" apabila menemukan manfaat dari tulisan ini, tidak perlu ijin. Terimakasih!

February 7, 2017

Posted by Hanif Azhar Posted on 2:06 AM | No comments

Siapa Takut Jadi Awardee LPDP?

Kabar gembira untuk kita semua! LPDP, sudah buka portalnya!!
Studi lanjut bukan sekedar asa! Cetak SDM untuk Indonesia!!!

Yeay! Akhirnya beasiswa LPDP resmi dibuka lagi pada 7 Februari 2017! Sebuah kesempatan emas bagi para pemburu beasiswa untuk melanjutkan studi. Kabar buruknya, proses seleksi LPDP 2017 bakal jadi super ketat. Bahkan Pak Eko Prasetyo, Dirut LPDP, memperkirakan pendaftar LPDP tahun ini akan mencapai lima kali lipat dari tahun sebelumnya (Detik Finance). Hal ini dipicu oleh pamor LPDP yang semakin semakin prestis dan kesempatan pendaftaran hanya dibuka dua kali dalam setahun, masing-masing sekali untuk pelamar dalam negeri dan luar negeri (sebelumnya empat kali dalam setahun). Tahun ini LPDP berencana memberikan 5000 beasiswa dengan pendaftar lebih dari 300.000 orang (FYI, pendaftar tahun 2016 sudah mencapai 60.000 orang). Kuota keluar negeri juga dibatasi sekitar 40%. Jadi, peluang yang ingin melanjutkan studi abroad adalah 0.006. Semakin tertantang kan? Oleh sebab itu, bagi kalian yang akan mendaftar beasiswa sejuta umat ini, hendaknya mempersiapkan diri dengan matang. Bagi saya, ada beberapa point utama yang perlu diperhatikan selama proses pendaftaran!

#1 Kalibrasi Niat
Niat merupakan sepertiga dari usaha, begitu kata pepatah. Bagi teman-teman yang ingin mendaftar beasiswa LPDP, coba refleksi dulu; cek niat kita, berdialoglah dalam hening, jujurlah pada hati sanubari. Sudah luruskah niat kita? Jangan sampai kita mendaftar LPDP hanya supaya terlihat keren, apalagi korban gaya hudup ala lagu parodinya Awkarin Feat. Young Lex, Kuliah pun gue tetap OK! Lulusan cumlaude dari ITB! Lanjut ambil MBA di UK! Pakai beasiswa LPDP! (Istighfar berjamaah).
Please! Beasiswa ini dari uang rakyat! bukan sebagai pemuas nafsu gaya hidup pemuda kekinian sesaat. Coba kita cek kembali visi besar LPDP, Menjadi lembaga pengelola dana terbaik di tingkat regional untuk mempersiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. berat kan? Menyiapkan pemimpin Indonesia masa depan bro! Sudah siapkah kita mengabdi buat ibu pertiwi? Melanjutkan studi tidak hanya sekedar hura-hura, selfie pamer petualangan ke berbagai negeri. Ini merupakan tugas mulia belajar, menggali ilmu sebanyak mungkin untuk diaplikasikan di Indonesia di masa depan. Sebagaimana pesan Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI dalam acara Welcoming Alumni LPDP 2017, “…it's time for you membayar kembali, tidak dalam bentuk rupiah, tapi mengembangkan diri, mengambil level pendidikan di atas rata-rata dan universitas terbaik di dunia adalah suatu kenikmatan langka”.

#2. IQRO’! Bacalah!
Tahap pertama sebelum kita mendaftar, mohon, bacalah! Semua informasi dasar terkait pendaftaran LPDP sudah lengkap di website resminya. Mulai dari persyaratan, alur proses seleksi, sampai daftar kampus tujuan, sudah dijadikan buku panduan digital yang siap untuk diunduh dan dibaca kapan saja.
Budaya literasi kita memang belum tinggi. Kebanyakan orang lebih suka langsung bertanya tanpa berusaha mencari informasi dulu. Bahkan, tidak sedikit yang masih bertanya, “Kak, persyaratan LPDP itu apa saja?” “Kak, cara daftar LPDP itu bagaimana?” “Kak, TOEFL saya belum sampai persyaratan, bias tetap daftar tidak?” dan pertanyaan-pertanyaan konyol lain yang notabenenya sudah tersedia lengkap di situs resmi LPDP! Kalau tidak percaya, silahkan cek komentar-komentar konyol di fanpage facebook LPDP.
Harapannya, kita semua proaktif berusaha mencari informasi dasar beasiswa LPDP. Apabila ada hal lain yang belum jelas, para awardee sampai customer service LPDP sangan siap untuk menjawab semua pertanyaan kok. Banyak juga tulisan-tulisan di blog dan berbagai social media tentang pengalaman mengejar beasiswa ini. Jadi tenang saja, kita tidak akan pernah kekurangan sumber informasi selama kita mau berusaha. Selain itu, kita juga harus proaktif membuat observasi pribadi terkait persyaratan-persyaratannya, misal Letter of Acceptance dari universitas tujuan. Silahkan kepoin website resminya; cari persyaratan pendaftaran programnya, temukan timeline yang dibutuhkan selama studi, berapa lama durasi perkuliahan, berapa skor TOEFL iBT atau IELTS yang dibutuhkan, apakah diperlukan GRE/GMAT, bagaimana kondisi geografi dan social budaya tempatnya, dan lain sebagainya. Setelah membuat daftar tersebut, silahkan membuat tabel lain untuk kampus alternatif kalian. Cermati programnya, bandingkan kualitasnya, lihat peringkatnya, dan silahkan diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.
Contoh riset tentang kampus impian
Mengapa saya menekankan untuk proaktif dalam mencari informasi? Silahkan teman-teman bayangkan, untuk melanjutkan studi pasca sarjana baik di tingkat master maupun doctor itu kita dituntut untuk proaktif dan berfikir super kritis. Sekedar berbagi cerita pengalaman kuliah master di Britania Raya saja, setiap minggu kita dituntut untuk membaca minimal tiga jurnal internasional setiap pertemuan. Apabila dalam seminggu kita lima mata kuliah, berarti kita harus membaca 12 jurnal dan beberapa chapter buku bacaan. Oia, kita tidak hanya dituntut untuk membaca dan memahami saja, namun juga mengkritisinya. Belum lagi tugas-tugas essai lainnya. Masih ogah-ogahan untuk membaca? Yuk mulai dari sekarang kita pupuk budaya literasinya.

#3. Atur Strategi
Kata Om Alexander Graham bell “Before anything else, preparation is the key of success”. Persiapan adalah segalanya. Tidak ada istilah keberuntungan. Karena sejatinya, keburuntungan adalah kerja keras (persiapan) yang bertemu kesempatan. Oleh sebab itu, Ketika niat kita sudah lurus, informasi yang dikumpulkan cukup mumpuni, yuk segera AKSI dan MENGATUR STRATEGI!
Sekedar cerita, awal tahun baru 2016, saya bersilaturahmi ke rumah sahabat saya awardee LPDP yang sedang libur musim dingin dari Belanda. Dia memaparkan pengalamannya mengejar cita untuk studi di Belanda yang penuh dengan keringat dan air mata. Selama dua tahun, sudah tak terhitung tetes air mata yang keluar, mempersiapkan Bahasa Inggris sampai tes IELTS berkali-kali, dan masih gagal. Belum lagi perjuangan untuk memenuhi persyaratan LPDP lainnya. “Pejuang sejati tak kan pernah menyerah” begitulah mottonya. Itulah yang membakar semangat saya untuk segera mematangkan strategi LPDP untuk melanjutkan studi ke UK September 2016. Supaya lebih jelas, berikut saya contohkan timeline saya.

Rencana di atas adalah proposal saya kepada Tuhan untuk tahun 2016. Alhamdulillah, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Doa dan usaha saya diijabah oleh Allah. Walaupun, saya juga sudah menyiapkan beberapa alternative pilihan rencana seandainya, kemungkinan terburuk, saya gagal. Begitupun teman-teman, silahkan membuat timeline dan alternative sesuai kebutuhan. Apabila gagal, silahkan coba lagi, karena LPDP memberi dua kali jatah gagal tahap tes substansial. Kalaupun tetap gagal, itu bukan akhir dunia kok, jadi jangan sampai gelap mata sampai menghalalkan segala cara, memalsukan sertifikat Bahasa asing misalnya. Ingat ya, LPDP itu dikelola oleh para professional di bidangnya. Jangan sampai kita menyesal dimasukkan daftar hitam karena kecurangan sesaat. Pernah membaca artikel-artikel tentang perjuangan para pengejar beasiswa kan? Ada yang 7 kali gagall tes IELTS, 10 kali ditolak beasiswa, dan berbagai macam drama lainnya. itu kisah nyata, sebagai pemicu semangat kita. Amin!

#3 Konsep 3A: Appearance, Achievement, Attitude.
“I'm intrigued by the way in which physical appearance can often direct a person's life; things happen differently for a beautiful woman than for a plain one.”
Penelope Lively.
Appearance: Kata pepatah sih kita tidak boleh menghakimi sebuah buku dari sampulnya. Namun, menjaga penampilan itu tetaplah sesuatu yang penting. Dalam proses seleksi LPDP misalnya. Coba bayangkan kita sebagai interviewer menghadapi pendaftar dengan pakaian yang tidak rapi, rambut acak-acakan, celana jins robek-eobek, dan bau apek keringat. Bagaimana asumsi kita? Okay poinnya adalah konsep adil dalam berpenampilan, kemampuan menjaga penampilan menyesuaikan situasi. Mengetahui waktunya dress up maupun dress down. FYI, Smart appearance bukan berarti harus memakai semua barang branded seperti mall berjalan lho ya!
Achievement: Untuk mendaftar LPDP, kita harus punya achievement, baik yang sudah dicapai, yang sedang dilakukan, dan yang mau dicapai di masa depan. Itu semua akan terbaca dalam essay kita dan akan direkonfirmasi oleh interviewer. “Kak, tapi saya ga punya penghargaan? lomba lari kelereng aja ga pernah menang, apalagi lomba kejar gebetan?” Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, tidak selamanya pencapaian itu berupa piagam penghargaan atau piala emas bersilauan. Achievement dapat berwujud aksi nyata. Bagi pelaku organisasi dan komunitas kepemudaan, optimalkan prestasi dengan membuat perubahan nyata. Bagi peneliti, buatlah riset yang bermanfaat dan aplikatif! Bagi pecinta kegiatan kerelawananan, silahkan optimalkan aksi sosialmu! Tidak hanya berlaga seperti pahlawan di social media doang. Intinya, definisi achievement setiap orang berbeda. Manfaatkan passionmu disana!
Attitude: Kecerdasan dalam bersikap dan menunjukkan moral yang baik merupakan kuncinya. Sepintar apapun kita kalau attitude NOL, maka bukanlah apa-apa. LPDP akan berinvestasi kepada pemimpin Indonesia masa depan yang punya attitude baik. Karena tidak semua orang dengan tingkat pendidikan tinggi berbanding lurus dengan tingkat moral. Sebagaimana kata pepatah, “two things define you: Your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything”.

#5. Ikhlas & Doa
Bab ikhlas merupakan bagian paling sulit. Setelah kita melaksanakan semua poin di atas, hal terakhir adalah ikhlas, menerima apapun hasilnya. Ikhas memang mudah diucapkan, namun sangat sulit diaplikasikan. Tidak sedikit kisah depresi dan kecewa yang mendalam karena kegagalan dalam mengejar beasiswa. Usaha terakhir yang dapat kita lakukan tinggal doa. Orang tua, bapak ibu guru, dosen, pemuka agama, minta maaflah atas kesalahan baik sengaja maupun tidak, dan mintalah mereka ikut mendoakan hasil terbaik untuk kita. Karena kita tidak tahu, dari mulut siapa doa kita dikabulkanl! Perbanyak amal jariyah, shodaqoh, dan berbagi kepada orang yang membutuhkan. Dekatkan diri pada Sang Pencipta. Pendekatan yang terakhir memang lebih ke arah spiritual dan emosional.
Jaga semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang mengejar mimpi. Apabila butuh diskusi dan feedback, silahkan mengirimkan pesan ke hanifazhar@live.com. Semoga tulisannya bermanfaat. Jabat erat dari Glasgow, UK


Hanif Azhar
MSc Student- Creative Industry & Cultural Policy, University of Glasgow

Awardee LPDP PK-71 2016